Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Ingin Jujur


__ADS_3

'Brengsek! Ada dalam setiap suka dan duka? Tidak ditinggalkan apapun yang terjadi? Persetan dengan semua janji-janji palsu itu.'


Kini Zahra beranggapan kalau Alex sama saja dengan lelaki lainnya yang pernah dekat dengannya, Alex buaya yang lebih ganas karena menyerangnya disaat ia telah menggantungkan harapan kepada lelaki itu.


"Abi, sepertinya Ustadz Fahri dan keluarganya harus dikabari kalau Zahra sedang sakit."


Jelas terdengar kalau ummi Fatimah sangat ingin sekali calon menantunya itu datang untuk menjenguk sang putri. Sungguh, sikap ummi Fatimah membuat Zahra merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan kalau ia tidak menyukai lelaki itu dan ia tidak ingin lelaki itu datang menjenguknya, tapi hati itu masih terus berusaha sabar dan menahan diri agar tidak melakukan hal-hal yang lebih liar lagi dari pada sebelumnya.


Perlahan Zahra usap dadanya dengan tangan kanannya, sembari mengatakan kepada dirinya sendiri, 'Sabar, Zahra, sabar! Jika semua orang di dunia ini tidak ada yang memihak kepadamu maka kamu tidak perlu merasa takut dan bersedih hati karena ada Allah yang akan membantumu. Kamu hanya perlu berjuang dan bertempur lewat jalur langit agar tidak perlu melukai dan menyakiti siapapun,' ucap Zahra membatin sembari menenangkan dirinya sendiri.


"Telponlah, Ummi, kabarkan kepada Nak Fahri dan keluarganya tentang keadaan Zahra."


"Baiklah, Abi."


"Eh iya, Ummi, apakah kita perlu menyuruh Nak Fahri ke rumah agar Zahra bersemangat dan bisa segera pulih, Mi?" ide abi Abdullah yang tentu saja akan disetujui oleh ummi Fatimah namun tidak dengan Zahra.


"Jangan telepon dia dan jangan suruh dia ke rumah kita!"


Ya, akhirnya kesabaran Zahra yang setipis tisu itu memancarkan api keributan, Zahra membentak dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


Rasanya mendengar nama Fahri dan Fahri atau apalah itu namanya, membuat darah Zahra mendidih dengan emosi memuncak. Ia marah dengan raut wajah memerah, mata membelalak dengan telinga yang ia tutup dengan kedua tangannya.


Bahkan emosi yang meledak-ledak ini membuat abi langsung menghentikan mobilnya, seolah tidak percaya dengan sikap dan perilaku anaknya saat ini.


"Ara, kenapa? Apa ada masalah? Apa hubungan kamu dengan Nak Fahri sedang tidak baik-baik saja?"


Berbagai macam pertanyaan beruntun ditujukan abi kepada Zahra, namun untuk saat ini sang putri terlihat masih belum sanggup menjawab apapun.


"Abi, maklumlah anak muda pasti ada berantem-berantemnya, kayak Abi nggak pernah muda aja," ucap ummi Fatimah menjelaskan kepada abi, entah itu untuk menenangkan abi agar abi tidak curiga atau mungkin saja agar keinginan ummi untuk membawa calon menantu kesayangannya ke rumah mereka berhasil.


Ummi Fatimah mengambil ponsel yang ada di tasnya, memencet nomor calon menantu kesayangannya itu dengan penuh semangat.


Sapaan sopan dan sangat lembut yang ummi Fatimah lontarkan telah membuktikan kalau ummi sangat menyukai calon menantunya, sikap yang sangat berbeda jauh ketika nama Alex disebut, wajah ummi akan berubah masam dengan emosi yang terlihat sangat memuncak.


Zahra paham, setiap orang tua pasti menginginkan seorang menantu yang baik ilmu agamanya dan bagus budi pekertinya karena orang tua akan menyerahkan tanggung jawab yang selama ini di pundaknya kepada lelaki yang akan menjadi menantunya kelak, karena menikah itu tidak hanya menyatukan dua hati tapi juga dua keluarga, jadi sudah sepantasnya orang tua selektif dalam memilih calon menantu untuk anaknya. Ya, pilihan ummi Fatimah tidaklah salah, ustadz Fahri adalah seorang lulusan Al-Azhar, Mesir dan dari keluarga seorang Kyai yang memiliki pondok pesantren terpandang di kampung Zahra.


Wajah ustadz Fahri juga bisa dikatakan menengah ke atas dan untuk ukuran seorang ustadz seperti dirinya pasti banyak sekali gadis muslimah yang ingin menikah dengannya, bahkan orang tua pun pasti akan melamarkan anak perempuannya untuk menjadi calon istri ustadz Fahri. Namun tidak dengan Zahra, entah mengapa ia tidak memiliki ketertarikan sedikitpun kepada ustadz Fahri, tidak ada getaran di hati itu yang mengatakan kalau ialah jodoh yang selama ini Zahra rindukan.


Ya, Zahra sangat tahu dan sangat paham kalau sebagai seorang anak perempuan ia tidak boleh menolak lelaki yang datang kepadanya apalagi lelaki itu baik ilmu agamanya, karena akan terjadi kerusakan di muka bumu, namun hati itu juga tidak bisa memaksakan sesuatu sementara batin ini terus menolak. Memang, restu orang tua adalah yang terpenting dalam sebuah hubungan apalagi hubungan itu adalah ibadah terpanjang dan terlama yang akan ia jalani, namun bagaimana bisa sebuah pernikahan akan menjadi pahala jika salah satu pihak tidak ikhlas menjalankannya.

__ADS_1


"Mi, apa kata Nak Fahri?" tanya abi Abdullah yang juga tidak kalah antusiasnya ketika calon menantunya akan datang mengunjungi sang putri ke rumah. Ya, sepertinya hanya Zahra saja yang tidak bahagia ketika nama lelaki itu disebut.


"Nak Fahri sedang diluar kota, Bi, katanya ada undangan ceramah, jadi esok ia baru kembali ke pondok pesantren, Bi," jelas ummi Fatimah dengan sedikit kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya. Wajah yang sama dengan wajah abi yang juga terlihat kecewa. Ya, tentu saja berbeda dengan Zahra, rasa syukur yang tidak terhingga tentu saja tidak bisa berhenti terucap dari hatinya karena langit sedang mendukungnya. Setidaknya, walaupun cuma sehari, Zahra bisa lega dan beristirahat dengan tenang tanpa harus dibayang-bayangi dengan kedatangan lelaki itu.


"Zahra, kita sudah sampai di rumah, Nak," ucap abi Abdullah ketika memarkirkan mobil di garasi rumah mereka.


Berat, entah mengapa rasanya Zahra merasa asing dengan rumah orang tua yang sudah ia tempati selama lebih dari dua puluh lima tahun.


Rumah yang dulunya menjadi tempat ternyaman dan tempat peristirahatan yang selalu ia rindukan seketika berubah menjadi tempat yang tidak ingin ia datangi. Zahra tidak ingin turun dan tidak ingin masuk ke dalamnya.


"Suster, tolong bantuannya ya!" ucap ummi Fatimah tanpa menatap ke arah putrinya sedikitpun, seolah amarah dan kekecewaan yang beliau rasakan membuat beliau enggan untuk menatap sang anak, putri kandungnya sendiri.


"Biar Abi saja yang mendorong kursi rodanya, Mi. Ummi dan Suster tunggulah di kamar Zahra," ujar abi lembut.


"Ah, terserah Abi aja lah!"


Ummi Fatimah berjalan memasuki rumah mereka, meninggalkan Zahra dan Abi Abdullah dengan tumpukan barang yang kebetulan dibantu oleh suster membawakannya.


Abi Abdullah terlihat mulai aneh dengan sikap ummi Fatimah, namun sepertinya kali ini beliau mencoba mengabaikannya karena abi bukanlah orang yang mudah terpancing emosi dan amarah sesaat yang memang tipu muslihat setan.

__ADS_1


'Apakah aku memang harus jujur sama Abi sebelum semuanya terlambat?' ucap Zahra di dalam hati.


__ADS_2