Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Memusuhi Orang Tua


__ADS_3

Zahra merasa sakit dan terluka ketika Alex meninggalkannya, bahkan hati ini seolah terasa teramat sangat hancur dan patah seperti seorang wanita yang ditinggalkan oleh kekasih hatinya.


Alex bukanlah kekasihnya, dan menurut Zahra, ia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada Alex selain rasa sayang sebagai seorang sahabat dan teman dekat, namun entah mengapa rasanya hati ini tidak terima dan tidak suka jika Alex bersikap seolah-olah Zahra bukanlah siapa-siapa untuknya.


"Kenapa kamu tega meninggalkan aku, Alex?" pekik Zahra dengan nada suara tinggi dan keras. Namun, semuanya percuma saja karena tidak ada seorangpun yang mendengarkan Zahra disini, bahkan ia lebih seperti orang gila yang meraung-raung tidak jelas tanpa arah dan tujuan.


Kini Zahra benar-benar sendirian, tidak ada yang mendukungnya dan tidak ada yang menemaninya lagi.


"Zahra, kehidupan seperti inikah yang kamu harapkan?" ucap Zahra dalam isak tangisnya.


Zahra memukul-mukul dadanya yang terasa teramat sangat sesak, rasanya ia sudah tidak mampu dan tidak kuat lagi menjalani hidupnya ini.


Teringat oleh Zahra kembali dimana ia melawan dan membentak kedua orang tuanya, padahal ia sangat tahu kalau melukai hati dan perasaan orang tua adalah dosa terbesar yang paling dibenci oleh Allah. Zahra juga berusaha membunuh dirinya sendiri, memotong rambut hingga yang tersisa rambut acak adul yang pendek seperti laki-laki, dan kini Zahra berniat kabur meninggalkan kedua orang tuanya tanpa berpikir panjang kalau ia akan meninggalkan aib dan rasa malu untuk keluarganya kelak jika ia melakukan hal yang tidak seharusnya.


Ah, tapi tidak ada yang perlu Zahra sesali sekarang, karena nasi telah menjadi bubur dan ia tidak mungkin bisa memutar balikkan keadaan, karena yang bisa ia lakukan sekarang adalah berjuang sesuai dengan isi hati yang ia anggap benar.


'Aku sepertinya harus menyewa kost-kostan yang dekat dengan kantor,' ucap gadis itu di dalam hati dengan rencana singkat yang muncul dalam benaknya.


Zahra kemudian mencabut slang infus yang melekat di tangannya dengan paksa, karena ia ingin segera kabur dari rumah sakit ini sebelum seseorang mengetahuinya.


"Aw, sakit!"


Begitulah pekikan kecil yang keluar dari mulut Zahra, yang menandakan kalau ia adalah wanita egois yang hanya berpikir singkat untuk melakukan apa yang ia anggap benar pada saat itu, tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi setelahnya.


"Zahra, kamu mau kemana?"

__ADS_1


Suara nyaring dan lantang itu terdengar menyimpan sejuta emosi dan amarah. Ya, ummi Fatimah berdiri di depan pintu masuk dengan mata melotot dan wajah yang terlihat sangat merah sekali.


"Ummi, Ara hanya ingin ke kamar mandi," ucap Zahra.


Berbohong, kini mengatakan hal yang tidak jujur mulai menjadi kebiasaan Zahra. Ia tidak ingin mengatakan hal yang sesungguhnya kepada ibunya karena ia sangat yakin dan percaya kalau ummi Fatimah pasti tidak akan membiarkannya bergerak sedikitpun apalagi sampai kabur.


"Zahra, jika ingin ke kamar mandi kenapa harus mencabut slang infusnya?"


Ummi Fatimah berjalan mendekati putrinya dengan tatapan lurus ke depan, seolah beliau tidak ingin sedikitpun melewatkan bola matanya untuk menangkap gerak-gerik Zahra.


"Infus ini terlalu merepotkan, Zahra tidak bisa bergerak bebas, Ummi."


"Zahra, apakah kamu ingin mati? Apakah kamu sudah menyerah dengan takdir dan jalan hidup yang telah Allah tetapkan, Nak?"


Zahra sangat tahu kalau ummi Fatimah terlihat sangat kecewa dengan sikap dan kelakuan Zahra yang sudah sangat menyimpang dari norma-norma agama, namun entah mengapa Zahra begitu sombong dan tidak ingin mengakui kesalahan Zahra.


"Iya, Ummi, Zahra lebih baik mati dari pada harus menikah dengan lelaki asing yang tidak Zahra cintai," ucap Zahra dengan nada suara lantang dengan mata tajam yang menatap ke arah ummi Fatimah. Ya, Zahra telah berubah menjadi Zahra yang sangat durhaka kepada orang tua.


Prak ...


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Zahra, dan ini kali pertamanya ummi menampar putri kesayangannya dengan sangat keras seperti ini.


"Um-, Ummi menampar Zahra?" ucap Zahra dengan nada suara terisak dengan air mata yang kini mengalir membasahi pipi Zahra.


"Ummi dan Abi tidak pernah mendidik mu menjadi anak yang kurang ajar seperti ini!" ucap ummi Fatimah dengan nada suara lemah dan terdengar datar, namun sungguh kata-kata yang keluar dari lisan ummi Fatimah terasa seperti anak panah yang menusuk Zahra tepat di jantungnya. Dada Zahra terasa sangat sesak, Zahra kesulitan bernafas seolah nyawa itu akan meninggalkan jasadnya.

__ADS_1


Ya, ada rasa penyesalan di hati ini dan ingin rasanya Zahra meminta maaf kepada ibunya itu atas sikap Zahra yang durhaka, tapi mulut gadis itu menjadi kaku dan kelu seolah tidak sanggup lagi mengucapkan apapun, bukan karena Zahra tidak mampu dan tidak bisa tapi karena hati itu telah membatu hingga tidak ada lagi kebaikan yang terlihat di wajah Zahra, yang ada rada benci dan kecewa kepada ibunya sendiri.


"Sekarang kita pulang!" ucap ummi Fatimah tegas.


Wanita separuh baya yang biasanya selalu bersikap lembut kepada Zahra kini telah berubah menjadi wanita berbeda.


Ummi Fatimah memencet bel dan meminta suster datang ke kamar inap Zahra untuk membereskan kepulangan putrinya, setelah itu beliau meminta ayah Zahra untuk mengurus dan membayar semua biaya administrasi agar ia bisa segera keluar dari rumah sakit.


"Suster, bisa tolong bawakan kursi roda kesini?" pinta ummi Fatimah kepada salah seorang suster yang baru saja datang ke kamar inap Zahra.


"Baiklah, Nyonya."


"Ara tidak ingin pulang," ucap Zahra singkat tanpa menatap wajah ibunya sama sekali.


Zahra merasa kalau ibunya sudah tidak menyayangi dan mencintainya lagi, karena beliau sangat tega sekali memaksakan kehendak hati dan kemauannya sendiri tanpa mempedulikan Zahra, bahkan ummi Fatimah sekarang tega bersikap kasar hingga memukulnya, padahal selama ini ummi adalah orang tua yang sangat baik dan lembut sekali.


"Ummi tidak butuh pendapatmu, mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus pulang sekarang!"


"Zahra belum sehat, Ummi!" jawab Zahra lantang.


"Kamu bisa rawat jalan dan dirawat oleh Suster di rumah."


Ummi Fatimah mulai bersikap tegas kepada putrinya, karena beliau memang memiliki hak penuh untuk putrinya. Namun, Zahra selalu beranggapan negatif dengan sikap dan apa yang dilakukan oleh ibunya, padahal tidak ada seorang pun orang tua di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya.


"Kenapa Ummi bertindak sesuka hati Ummi? Apakah pendapat dan keinginan Ara sudah tidak penting lagi bagi Ummi sekarang? Zahra ini anak kandung Ummi atau bukan sih?"

__ADS_1


__ADS_2