
"Zahra, bolehkan kita ngobrol sebentar?" tanya Arina, wanita paruh baya yang tidak lain adalah wanita yang akan menjadi calon mertua Zahra dulu.
"Waalaikumsalam, Ma," jawab Zahra sembari tersenyum kepada mama Arina.
Zahra menghapus air matanya, sembari bangkit untuk menyalami mama Arina.
***
7 Tahun yang lalu
Dengan tatapan haru dan jantung yang berdetak di luar gerakan normal, Zahra menatap wajah papa dan calon suamiknya secara bergantian. Wajah kedua lelaki itu terlihat tegang dan risau. Tentu saja, perasaan alamiah yang selalu dirasakan oleh mempelai dan keluarga sebelum akad terucapkan.
Kelinci di jantung gadis cantik itu juga seolah ingin melompat ke luar, ketika pak penghulu bertanya tentang kesiapan sang mempelai pria menikah.
Ya, sebentar lagi momen paling mengharukan dan mendebarkan bagi mereka akan dimulai. Dalam sepersekian detik statusnya Zahra akan berlabel istri orang.
Gadis 20 tahun yang baru saja menyelesaikan studi S1 itu terlihat benar-benar cantik dengan balutan baju pengantin berwarna putih yang dikenakan. Ya, Zahra terlihat seperti seorang putri dari negeri dongeng yang terkenal kecantikan dan keanggunannya.
'Ya Allah, permudahlah akad nikah hamba,' ucap Zahra di dalam hati karena tangan abi dan calon suaminya saat ini saling berjabatan.
"Saya nikahkan anak kandung saya yang bernama Zahra Alia binti Abdullah dengan mahar seperangkat alat salat dan emas 10 gram di bayar tunai...."
Ucapan lantang dalam satu nafas ke luar dari mulut sang ayah.
"Saya terima nikahnya Zahra Alia binti Abdullah dengan mahar seperangkat alat salat di ...,"
Tiba-tiba calon suami Zahra berhenti berucap, mulutnya bergetar, ia seolah ingin melanjutkan ucapannya, namun sepertinya rangkaian kata-kata terlalu sulit untuk diungkapkannya.
Wajah calon suami Zahra terlihat pucat, matanya terlihat sayu, lemah dan tidak bertenaga.
Brukkk ....
Tubuh calon suami Zahra kini tersungkur dengan mata yang tertutup rapat.
__ADS_1
Lelaki yang bernama Raka itu langsung pingsan tepat di depan penghulu. Tangan yang berjabatan lepas dalam sekejap.
"Raka...," pekik kedua orang tua Raka serentak.
"Mas Raka...," teriak Zahra histeris.
Wajah cantik yang dilapisi make up natural ala pengantin modern itu terlihat panik, khawatir yang teramat sangat dengan air mata yang jatuh seperti hujan lebat nan enggan untuk berhenti.
Seluruh hadirin yang hadir di pesta pernikahanku juga terlihat kaget dan histeris. Suara pekikan dan teriakan membaur menjadi satu dari berbagai sudut rumah Zahra.
Dengan hati yang teriris, Zahra kemudian berjalan cepat mendekati calon suaminya itu.
Zahra menatap wajah itu dengan seksama. Wajah tampan calon mempelai pria terlihat sangat pucat, lemah dan tidak berdaya.
Takut, Zahra merasakan perasaan ketakutan. Perasaan yang berbeda dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Mas, apa yang terjadi denganmu?"
Zahra berteriak keras sembari memeluk calon suaminya..
"Zahra, lepaskan Raka!"
Salah seorang keluarga Zahra melepaskan pelukan Zahra dari calon suaminya secara paksa, kemudian beberapa orang datang untuk memapah Raka dengan gerakan sigap.
"Lepaskan aku! Aku ingin mendampingi Mas Raka," teriak Zahra sembari mencoba melepaskan diri ini yang ditahan untuk tidak mendekati Raka.
"Zahra, istighfar!"
Berbagai sudut memintaku sadar dan mengingat Tuhannya. Namun, Zahra tidak lagi bisa mengontrol dirinya sendiri.
Dengan langkah berat, Zahra berlari dan melangkahkan kakinya mengikuti rombongan yang memapah Raka.
Gaun pengantin panjang dan terasa berat yang Zahra kenakan membuat langkahnya terhambat, "Merepotkan sekali gaun ini!" ucap Zahra kesal.
__ADS_1
Namun gaun cantik itu tetap tidak menghalangi niat Zahra untuk mengikuti Raka. Sembari mengangkat gaun itu, ia tetap berlari melewati tenda dan pelaminan tanpa menggunakan alas kaki.
"Papa ..., Ara ikut!"
Zahra berteriak keras ketika melihat mobil akan membawa calon suaminya.
Calon papa mertua Zahra menoleh ke arahku dengan tatapan iba, "Nak, kamu di sini saja, Papa akan segera kembali!" Larang lelaki separuh baya itu.
Tapi, Zahra tetap bersikeras ingin ikut menemani. Dengan kekuatan yang dimilikinya dan untuk menghindari perdebatan panjang, akhirnya Zahra diizinkan calon papa mertuanya untuk ikut menemani.
Air mata ini terus bercucuran, Zahra menjadikan pahanya sebagai bantal agar Raka merasa nyaman.
Tangan kanan Zahra terus membelai rambut Raka dan tangan kirinya menggenggam tangan Raka. Dengan wajah sedih, calon pengantin terus saja menatap wajah lelaki yang teramat sangat dicintai itu.
Sementara itu papa Raka tengah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit terdekat. Namun takdir berkata lain, manusia hanya bisa berusaha, tapi hasil akhirnya tetap Tuhan yang menentukan. Perkara rezeki, maut dan jodoh memang telah ditetapkan Tuhan jauh sebelum manusia terlahir ke dunia. Tidak ada yang bisa menolak datangnya kematian. Entah itu anak-anak, muda ataupun tua sekalipun, semua sama saja, akan mati ketika sudah waktunya.
Ya, Tuhan berkata lain, bahkan sebelum sampai di rumah sakit, Raka sudah tidak lagi bernyawa. Hari yang harusnya menjadi hari bahagia bagi kami akhirnya menjadi tangisan air mata. Lelaki itu pergi untuk selamanya.
"Mas Raka ...," pekik Zahra histeris ketika Raka mulai kesulitan bernafas.
Ya, Raka calon suami Zahra sempat membuka mata beberapa saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sayang ..., maaf karena Mas tidak bisa lagi berada di sampingmu."
Suara lemah dan bergetar yang ke luar dari mulut Raka terlihat dipaksakan. Sembari menggenggam tangan Zahra dengan sisa-sisa tenaganya, Raka tersenyum sebelum akhirnya menutup mata.
"Mas ..., jangan tinggalkan aku!"
Pekikan histeris ke luar dari mulut Zahra yang tentu saja tidak bisa menerima keadaan ini.
Mobil yang dikendarai oleh calon papa mertuanya seketika di rem mendadak karena mendengar pekikan Zahra. Dengan perasaan sedih yang teramat sangat lelaki separuh baya itu mengucapkan, "Innalillahiwainnaillaihirojiun."
Dengan muka datar yang berusaha terlihat tegar, calon papa mertua Zahra akhirnya dengan bersegera memutar balik mobil itu menuju rumahnya.
__ADS_1
Hati Zahra mulai tidak karuan, matanya tidak henti-hentinya menangis sembari menatap calon suaminya yang terlihat tampan. Hari ini harusnya menjadi hari akad nikah mereka, hari di mana status kedua mempelai itu akan berubah status menjadi seorang suami dan istri, tapi kenyataannya berbeda. Tuhan punya rencana lain, Tuhan mengambil belahan jiwa Zahra sedetik sebelum ijab kabul terucap. Tuhan mengambil calon imam yang sangat Zahra cintai di hari ia akan berstatus sebagai makmum yang menjadi impiannya.
Hati perempuan mana yang tidak akan sakit dan hancur, hati perempuan mana yang tidak akan terluka, hati perempuan mana yang tidak akan teriris, jika mengalami kejadian seperti yang Zahra alami sekarang.