Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Bawaannya Emosi


__ADS_3

Lagi dan lagi, diri ini masih belum bisa menerima takdir dan ketetapan hidup yang Tuhan berikan sehingga Zahra mencoba mencari pembenaran atas argumen yang ia pikirkan dan ia ciptakan sendiri.


"Tidak ada doa yang ditolak oleh Allah, mungkin Allah akan mengabulkan doamu suatu hari nanti atau mungkin Allah akan menggantikannya dengan pahala berlimpah yang akan menyelamatkanmu di akhirat kelak, Nak."


Abi Abdullah selalu memberikan pemahaman agama kepada putri kesayangannya dengan bahasa ringan yang mudah untuk ia mengerti. Jadi, sebagai seorang hamba yang baru saja berhijrah dengan pemahaman agama yang sangat minim, apa yang disampaikan oleh abi cukup masuk kedalam hati sang putri, hingga untuk sesaat Zahra terdiam karena merasa apa yang dikatakan oleh abi benar adanya.


"Zahra, ada Nak Fahri diluar, dia bertamu beberapa kali hari ini ke rumah kita hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja, Nak."


"Memangnya lelaki itu tidak ada kerjaan?" ucapku spontan hingga membuat abi Abdullah kaget dengan apa yang terlontar dari lisan Zahra.


"Nak Fahri datang dan pulang untuk menyelesaikan pekerjaannya, kemudian datang lagi demi kamu, Nak."


Abi Abdullah sama juga dengan ummi Fatimah, beliau juga sangat menyukai lelaki yang bernama Fahri itu, bahkan semua hal yang dilakukan oleh lelaki itu dianggap sebagai bentuk perhatian dan ketulusan lelaki itu kepada putri kesayangannya. Ya, memang tidak salah jika seorang tunangan khawatir dan ingin memastikan keadaan tunangannya baik-baik saja, tapi itu berlaku untuk sepasang kekasih yang saling mencintai dan menyayangi dari kedua belah pihak, bukan hanya satu pihak saja.


Bagi Zahra, kedatangan ustadz Fahri kedalam hidupnya adalah suatu kesialan yang teramat sangat tidak ia harapkan. Zahra tidak ingin mengenal lelaki itu dan ia sangat tidak ingin dekat dengannya, jadi ia tidak ingin bertemu dengannya karena itu hanya akan membuat sakitnya semakin parah. Namun jika Alex yang datang dan menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka, mungkin saja seluruh penyakit ini akan langsung meninggalkan tubuhnya itu.


"Nak, Ummi suka dengan Nak Fahri dan hati kecil Ummi sangat yakin sekali kalau Nak Fahri adalah lelaki yang baik dan tepat untukmu, jadi apakah kamu mau bertemu dengan Nak Fahri walau cuma sebentar saja, Nak?" tanya abi Abdullah dengan sejuta harap yang tergambar jelas di wajah beliau yang kini mulai keriput.

__ADS_1


Zahra sangat tahu dan sangat paham sekali kalau ummi sangat ingin sekali ia menemui lelaki yang bernama Fahri itu. Namun, entah mengapa ia merasa sangat tidak ingin bertemu dengan lelaki itu, ketika mendengar nama lelaki itu saja darah Zahra mendidih dengan emosi yang memuncak.


Zahra bukan tipe wanita yang sangat tidak mudah dekat dengan orang baru karena trauma masa lalu yang selalu melukai hati dan perasaannya. Jika pada perkenalan pertama Zahra merasa kurang nyaman, maka ia tidak bisa dipaksa agar terus berkomunikasi, kecuali ketika semua berjalan seperti air mengalir, pertemanan yang terjadi seiring waktu hingga rasa alamiah itu muncul. Namun, kali ini ia seperti dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia suka dan hal ini membuat diri ini semakin emosi.


"Bi, maaf banget, tapi Zahra lelah, Bi."


Sebuah kata yang merupakan kiasan halus kalau ia tidak ingin menemui orang lain sekarang apalagi lelaki dengan label tunangannya itu.


"Kasihan Nak Fahri, ia sudah lama menunggu di rumah kita," bujuk abi Abdullah.


Namun Zahra tetap bersikeras dengan keyakinan hati ini, ia tidak ingin menemui lelaki itu, bukan karena ia tidak menghargai sang ayah atau tidak menghormati tamu yang berniat baik datang ke rumahnya, tapi Zahra ingin memperlihatkan kalau ia sangat tidak terima dengan perjodohan itu. Ia juga ingin mengatakan kalau masalah hati dan perasaan tidak bisa dipaksakan.


Abi Abdullah terlihat kecewa, wajah yang awalnya penuh dengan senyum keikhlasan itu berubah menjadi senyum yang dipaksakan. Abi Abdullah juga bergegas keluar dari kamarnya, seolah ingin cepat-cepat menemui calon menantu kesayangannya itu.


Ada rasa bersalah dan berdosa di diri Zahra, karena ia telah membuat orang-orang yang ia sayang bersedih dan kecewa dengan sikapnya. Namun, ini adalah salah satu bentuk pemberontakan yang Zahra lakukan secara tidak langsung.


'Sudahlah, Zahra, sekarang kamu tidurlah dan jangan memikirkan apapun!'

__ADS_1


Zahra membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, mencoba memejamkan mata, berharap ketika hari esok datang menyapa, diri ini bisa berkata, "Zahra, ternyata ini mimpi," ucap Zahra sembari mencubit pipinya sendiri.


Namun, semakin Zahra memaksakan diri untuk tidur, semakin ia membayangkan banyak hal, salah satunya adalah rencana liburannya bersama Alex. Ya, kami berdua telah berencana jalan-jalan ke Yogyakarta tahun ini, tapi bagaimana mungkin mereka akan pergi sementara ia akan menikah dengan lelaki lain.


Sejak dekat dengan Alex, Zahra dan lelaki itu tidak pernah jalan-jalan, mereka berdua hanya sesekali menghabiskan waktu di cafe sekedar hanya untuk membeli ice cream favoritnya. Namun, kedekatan keduanya terjalin karena komunikasi yang baik antara Zahra dan Alex lewat panggilan telepon. Mereka terkadang memiliki ikatan batin dimana hati itu saling memikirkan hal yang sama di kepala masing-masing, bahkan mereka berdua saling merindukan meski mereka berdua tidak pernah saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Ya, mungkin saja keduanya memang tidak menyadari apa yang dirasakan di dalam diri masing-masing.


Malam berganti pagi, mata Zahra masih tetap belum terpejam walau sedetik pun, seolah ia tidak merasakan kantuk sama sekali, padahal gadis itu sangat mengantuk. Lingkaran hitam yang terlihat seperti panda dengan wajah pucat membuat Zahra terlihat seperti mayat hidup. Tapi, Zahra memaksakan dirinya untuk tetap ke kantor, karena di rumahnya ia terasa tidak nyaman sama sekali. Selain itu Zahra juga menghindari pertengkaran dengan ibunya.


Ya, dengan bergegas, Zahra bersiap melakukan rutinitas di pagi hari, beberes sebelum berangkat ke kantor. Meskipun ia belum sepenuhnya pulih, suster juga pasti tengah berjaga di depan kamar gadis itu untuk merawat Zahra, atau lebih tepatnya menjadi orang suruhan ibunya untuk menjaga sang putri agar gadis itu tidak kabur.


 "Nona Zahra, Nona harus mi-,"


Wanita itu datang ke kamar Zahra saat ia memikirkannya, bahkan suster itu tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat sang gadis tengah berseragam dinas sembari bersolek di depan kaca.


"Letakkan saja sarapan dan obatnya disana, nanti saya akan meminumnya, Suster," ucap Zahra lembut sembari menunjuk ke arah meja yang ada di kamarnya.


"Tapi Nyonya meminta saya memastikan kalau Nona harus makan dan minum obat, Nona," ucap suster lagi.

__ADS_1


"Suster, jangan ikut campur, saya yang bertanggung jawab!"


__ADS_2