
Alex membaringkan Zahra di belakang, kemudian melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju rumah sakit terdekat.
"Mas, aku merasa sudah tidak kuat lagi, apakah ajalku sudah dekat?" ucap Zahra dengan nada suara lemah kerana tidak sanggup lagi mengeluarkan banyak energi untuk berbicara.
"Zahra, Adek, sabar!"
Dengan secepat kilat Alex melajukan mobilnya hingga sampailah mereka di rumah sakit dalam waktu lima menit, padahal untuk kecepatan normal jarak ke rumah sakit bisa memakan waktu selama sepuluh menit.
Alex membuka pintu mobil, menggotong tubuh Zahra dan membawa wanita cantik itu keluar dari mobil menuju loby rumah sakit.
"Suster, Dokter, tolong adik saya, dia jatuh dari motor dan saat ini seluruh tubuhnya terasa teramat sangat sakit," ujar Alex kepada suster yang lewat.
Anehnya, tidak ada seorangpun yang menolong Zahra dan Alex.
"Zahra, kamu harus bertahan ya!" ucap Alex dengan wajah yang saat ini penuh dengan peluh karena ia terlihat capek, lelah beserta takut.
"Alex, A-aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi.
Mata Zahra sudah tidak sanggup lagi untuk menyala, hingga tangannya yang lemah terasa semakin lemah, hingga mata itu akhirnya tertutup.
"Zahra ...!
Zahra mendengar suara Alex tengah memanggil-manggil namanya dengan rasa khawatir yang teramat sangat, bahkan sebelum ia menutup mata indahnya, Zahra melihat wajah Alex terlihat teramat sangat panik sekali, ia seolah takut hal buruk terjadi kepada Zahra atau mungkin ia takut kehilangan Zahra.
Rasanya Zahra tidak ingin menutup matanya karena Zahra tidak ingin membuat Alex mengkhawatirkannya, tapi apalah daya gadis itu, Zahra sudah tidak lagi bertenaga untuk tetap membuka mata.
__ADS_1
"Zahra, bangun! Aku tidak bisa melihat mu terbaring lemah dalam keadaan tidak berdaya seperti ini," ucap Alex dengan nada suara merengek.
'Aku harus bangun, aku tidak ingin membuat Alex khawatir.'
Zahra mendengar Alex mengkhawatirkannya dan ia mengumpulkan semangat dan keberaniannya untuk membuka mata. Zahra ingin bangun dan menatap mata Alex, mengatakan kepadanya kalau lelaki tampan itu tidak boleh menangis hanya gara-gara dirinya.
"Al-Alex," ucap Zahra dengan nada suara terbata-bata, namun terdengar masih sangat lemah.
Saat ini mulut Zahra bisa berbicara sedangkan mata ini terasa sangat sulit sekali untuk dibuka. Namun keinginan yang keras membuka mata membuat Zahra akhirnya berhasil.
Perlahan, Zahra membuka matanya, tapi anehnya Zahra tidak mengenal ruangan yang ditempatinya, tempat itu bukan rumahnya dan bukan pula kamarnya.
'Dimana aku sebenarnya?' ungkap Zahra di dalam hati dengan sejuta pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Namun, tiba-tiba bola mata ini memandang ke arah sosok lelaki tampan yang saat ini sedang menangis sembari menggenggam tangannya, bahkan sesekali Zahra merasakan Alex mencium telapak tangannya.
Ya, untuk sesaat Zahra hanya diam dan terus memperhatikan lelaki yang ada di depannya itu. Alex terus menunduk dan mencium tangan Zahra sembari meminta wanita itu untuk segera bangun, bahkan saking sedihnya ia, air mata lelaki itu jatuh membasahi punggung tangan Zahra.
"Alex."
Dengan sapaan lembut, Zahra mencoba memanggil nama lelaki tampan itu untuk memastikan kalau saat ini dirinya memang sedang tidak bermimpi, karena sesungguhnya Alex adalah lelaki cool yang tidak akan pernah bersikap lebay bahkan sampai menangis untuk seorang makhluk yang bernama perempuan namun sekarang air mata mengalir membasahi pipi Alex dan wanita yang ia tangisi itu adalah Zahra.
"Alex."
Dengan lembut, Zahra belai rambut Alex. Ia mulai merasakan ketulusan dan kelembutan hati Alex untuk dirinya. Zahra merasa sangat bersyukur karena di saat-saat tersulit seperti ini Alex datang kepadanya untuk menghibur gadis cantik itu. Alex selalu ada di samping Zahra meski terkadang keberadaannya malah membuat Zahra kesal.
"Za-Zahra, kamu sudah bangun?"
__ADS_1
Alex langsung mengangkat wajahnya, ia berdiri untuk memastikan kalau saat ini Zahra telah sadar dari tidurnya. Tidur melelahkan dengan sejuta pikirannya.
"Mas, kita dimana?"
Zahra sangat tahu kalau saat ini Alex tengah mengkhawatirkannya karena semua terlihat jelas di wajah tampan lelaki itu, namun Zahra tidak ingin membuat Alex semakin khawatir kepadanya, sehingga Zahra berusaha mencari topik yang bagus untuk mengalihkan pembicaraan diantara mereka.
"Kita sekarang ada di rumah sakit, kamu pingsan dan Dokter mengatakan kalau kamu sepertinya kurang istirahat hingga terjatuh dari motor tapi untungnya tidak terjadi apa-apa pada tubuhmu," jelas Alex yang terus diperhatikan Zahra.
Sejak kejadian perjodohan itu, setiap detik dalam malam-malam Zahra terasa seperti siang, ia bahkan tidak bisa terlelap walau sebentar, bahkan obat tidur yang akhirnya ia konsumsi tidak mampu membuat gadis cantik itu tertidur.
Zahra bukannya melawan jatah mata dan seluruh tubuhnya itu untuk beristirahat, gadis itu bahkan mencoba memejamkan mata ini secara paksa, namun walaupun mata ini tertutup tapi hati ini tetap terjaga, Zahra tersadar dengan banyaknya beban pikiran yang ia tanggung di dalam benaknya. Beban yang sama sekali tidak bisa ia selesaikan, sesuatu yang berada diluar kendali dan diluar kemampuannya sebagai seorang manusia.
"Ara, apa kamu tidak tidur? Apa kamu memikirkan masalah pertunangan kalian?"
Alex memulai pembicaraan, berusaha mencari tahu dan menebak apa yang terjadi kepada wanita yang ia anggap sebagai adiknya itu. Namun, Alex tidak akan mendapatkan jawaban apapun karena ketika berkomunikasi dengan Alex, Zahra selalu membohonginya. Ya, Zahra selalu mengatakan kalau ia akan tidur dan terlelap, namun kenyataannya mata ini menyala hingga pagi, dengan sejuta beben yang berputar-putar di dalam kepalanya.
"Adek, kenapa bengong? Apa kamu tidak tidur di malam hari?" tanya Alex sekali lagi.
"Ma-maaf, Mas, aku-,"
Rasanya Zahra tidak sanggup melanjutkan ucapannya, terlalu berat untuk mengatakan kepada Alex tentang semua permasalahan dan persoalan hidup yang sedang ia tanggung, tapi Alex adalah lelaki yang sangat pengertian, ia sangat tahu tanpa mendapatkan jawaban dari gadis yang ada di depannya itu.
"Ara, bukankah sudah kukatakan kalau kamu tidak boleh memikirkan sesuatu diluar batas kemampuanmu, jalani saja dan berdoalah Allah, karena Allah adalah sebaik-baiknya penolong untuk kita, Dek."
Ya, semua yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah takdir dan ketetapan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, baik atau buruknya tetap saja akan memberikan pelajaran kepada manusia. Jika apa yang diinginkan sesuai dengan apa yang diharapkan maka Tuhan sedang mengajarkan hamba-Nya untuk bersyukur, namun jika apa yang diterima tidak seperti sesuai harapan, artinya Tuhan sedang memberikan pelajaran untuk hamba-Nya. Sungguh, kalau rencana Tuhan adalah yang terbaik untuk hamba-Nya.
__ADS_1
"Aku tidak sanggup lagi, Mas!"