
Tuhan juga tidak mungkin menetapkan perihal sesuatu jika itu bukanlah yang terbaik untuk hamba-Nya, karena Zahra percaya bahwa rencana Tuhan adalah rencana terbaik dan skenario Tuhan adalah skenario terindah yang diberikan kepada hamba-Nya.
'Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?' ucap Zahra di dalam hati.
"Zahra, masuk ke mobil ya, Nak!"
Abi Abdullah menyadarkan Zahra dari lamunannya hingga sang gadis membuka matanya kembali.
Suster yang sedari tadi mengikuti mereka, kini membantu Zahra untuk naik ke dalam mobil dimana sang ibu telah duduk di depan tanpa bergeming sedikitpun.
"Abi, apakah anak itu mau pulang juga?" sindir sang ibu yang membuat hati Zahra terasa semakin sakit dan teriris. Namun, dihadapan sang ayah, Zahra bersikap tenang, ia tidak ingin melawan dan bersitegang dengan ibunya karena itu akan melukai hati dan perasaan sang ayah, karena beliau akan merasa tidak benar dalam mendidik anak dan istrinya.
'Alex, apakah aku meminta Alex untuk kemari dan ikut mengantarku pulang?' ucap Zahra di dalam hati, karena sampai saat ini yang ada didalam otak Zahra bercabang termasuk memikirkan Alex.
Semarah apapun Zahra kepada Alex, kecewa dan sesakit apapun rasa yang digoreskan Alex di dalam hati wanita itu, tetap saja Alex adalah lelaki asing pertama yang Zahra ingat disaat ia tidak memiliki tempat lain untuk bergantung.
Ya, yang ada dalam pikiran Zahra saat ini adalah menghubungi Alex, namun ia tidak tahu dimana ponselnya saat ini berada.
Zahra sangat tahu dan sangat yakin kalau ummi Fatimah yang menyimpan ponselnya, tapi hati ini enggan untuk meminta kepada sang ibu karena emosi Zahra dan juga ummi sedang tidak stabil saat ini. Zahra tidak ingin terjadi pertengkaran dan perkelahian yang lebih parah dari sebelumnya dengan ibunya.
"Kamu lagi nyari ponsel?" ucap ummi Fatimah yang sepertinya mengerti dan paham dengan gerak-gerik putrinya. Namun, Zahra memilih tidak menjawab karena suara ummi terdengar masih menyimpan amarah dan kekesalan kepadanya.
"Ini ponselnya, Nak!" ucap abi Abdullah dengan senyum manis yang terlihat sangat tulus. Ya, abi mengambil ponsel yang terletak di tas ummi yang terbuka, kemudian mengulurkan ponsel itu kepada sang putri.
Walaupun untuk sesaat Zahra ragu menerima ponsel itu, tapi senyum abi meyakinkan Zahra seolah beliau berkata kalau semuanya akan baik-baik saja.
Ummi Fatimah memang sangat patuh dan menurut kepada abi Abdullah. Apapun yang abi katakan dan apapun keputusan yang abi ambil akan diterima oleh ummi dengan lapang dada, karena ummi selalu mengatakan kalau surganya seorang wanita setelah menikah adalah suaminya, dan seorang suami yang baik pasti tahu apa yang terbaik untuk keluarganya.
__ADS_1
"Terima kasih, Abi," ucap Zahra sembari mengambil ponsel itu sebelum ummi membuat pikiran abi berubah.
Untuk sesaat hati Zahra merasa sangat lega karena ia akhirnya bisa menghubungi Alex, setidaknya untuk menanyakan keberadaannya.
[Mas, kamu dimana?]
[Kenapa pergi tanpa pamit?]
[Kenapa kamu meninggalkanku?]
[Apa salahku padamu?]
[Kenapa kamu tidak menepati janjimu kepadaku?]
[Alex ...!]
[Jelek ...!]
[Jawab dong, jangan cuma dibaca aja!]
Berkali-kali pesan beruntun Zahra kirimkan kepada lelaki itu, namun Alex hanya membaca saja tanpa merespon apapun, hingga photo profilnya sudah tidak lagi bisa Zahra lihat. Ya, lelaki itu memblokir nomor Zahra agar sang gadis tidak lagi bisa menghubunginya.
Seperti anak kecil, Alex selalu menghilang dan kabur dari perdebatan panjang yang terjadi diantara mereka dengan cara memblokir nomor Zahra, seperti kabur dari masalah dan tidak ingin menyelesaikan masalah secara dewasa.
'Zahra, apakah lelaki seperti ini yang kamu anggap baik?'
Bisikan suara hati membuat Zahra meragu, hingga muncullah sebuah anggapan kalau Alex adalah lelaki yang tidak baik seperti yang ummi katakan. Namun, sebagian hati kecil Zahra masih tetap membela Alex, kalau lelaki itu hanya tidak ingin marah dan membuatnya kecewa jika mereka berdua bertengkar hebat.
__ADS_1
Perasaan Zahra benar-benar tidak tenang sekarang, memikirkan Alex membuat kepalanya mumet seperti ingin pecah. Ingin sekali rasanya Zahra segera sampai di rumah agar ia bisa bergegas menghubungi Alex lewat panggilan telepon, tapi jarak rumah sakit ke rumah Zahra terasa teramat sangat jauh sekali.
"Ara, apa kamu ingin sesuatu, Nak?" tanya abi yang membuat Zahra kaget dan terkejut.
Ponsel yang ada dalam genggamannya terjatuh ke lantai mobil. Sikap Zahra seperti seorang pencuri yang ketahuan ketika ditegur sehingga rasa takut dan terkejut refleks membuat ponselnya terjatuh.
"Sayang, kamu kenapa, Nak?"
Hati dan perasaan seorang ayah memang teramat sangat peka terhadap anak perempuannya, beliau akan turut merasakan kegundahan dan ketidaknyamanan yang putrinya rasakan.
"Suster, tolong ambilkan ponsel Zahra, Sus!" pinta sang ayah kepada suster yang duduk di sebelah putri kesayangannya.
"Ini, Nona."
Suster memberikan ponsel yang ia ambilkan dari lantai mobil kepada Zahra, sementara Zahra terus saja diam dalam kebisuan dan tidak menjawab pertanyaan apapun dari abi ataupun sang suster, bahkan ucapan terima kasih Zahra diwakilkan abi untuk diucapkannya kepada sang suster.
"Zahra, kamu punya mulut nggak sih? Kenapa dari tadi hanya diam dan bengong?" bentak ummi Fatimah.
Sesabar dan sekuat apapun ummi Fatimah menahan emosi dan amarahnya, tetap saja beliau tidak terima jika Zahra bersikap diam seribu bahasa kepada ayahnya.
Ya, walaupun terkadang Zahra merasa kalau ummi Fatimah bersikap seperti ibu tiri kepadanya, hingga beliau begitu tega membentak dan memaksakan kehendaknya kepada Zahra, tapi tetap saja Zahra memiliki hak atas dirinya sendiri.
"Abi, kita langsung pulang ke rumah saja, Ummi capek, lagian kalau butuh apa-apa kita bisa meminta Bibi untuk mencarikannya keluar," ujar ummi Fatimah yang tentu saja disetujui oleh abi Abdullah.
Huft ...
Zahra menarik nafas panjang dan ia memejamkan matanya kembali, berharap ia lelap tertidur dan terbangun ketika sampai di rumah saja, karena ia tidak ingin lagi mendengar ocehan dan omelan ummi yang membuat kepalanya semakin sakit. Namun, bukannya malah tertidur, tapi kenangan akan Alex tergambar jelas dalam benak sang gadis. Zahra ingat saat pertama kali lelaki itu hadir dalam kehidupannya, Alex datang sebagai seorang malaikat baik yang memberikan janji-janji yang meyakinkannya. "Zahra, jangan takut, ada aku di sisimu, apapun yang terjadi aku tetap akan selalu ada dalam kehidupanku dalam setiap suka dan dukamu. Aku akan menggenggam erat tanganmu dan tidak akan pernah melepaskan tangan itu walau sesaat kecuali jika kamu sendiri yang ingin melepaskan ikatan itu dariku," ucap Alex dengan wajah yang terlihat sangat serius kepada Zahra. Kata-kata yang ia pegang erat sampai hari ini, kata yang membuat ia menanamkan dalam hati dan benakku kalau Alex adalah lelaki yang paling baik dan paling tepat untuknya.
__ADS_1