
"Jika Alex atau apalah itu namanya si laki-laki, kalau dia memang orang baik dimana dia sekarang? Kenapa kamu malah ditinggalkan di rumah sakit ini sendirian? Dimana letak tanggung jawabnya sebagai seorang pria? Yakin lelaki seperti itu baik dan menyukaimu, Nak? " ucap ummi Fatimah menceloteh dan mengungkapkan isi hatinya.
Tentu saja sebagai seorang ibu beliau tidak terima jika putri kesayangannya ditinggalkan oleh lelaki, apalagi dalam keadaan sakit seperti ini, seolah tidak memiliki rasa iba dan rasa tanggung jawab sama sekali, apalagi kondisinya Zahra di rumah sakit dalam keadaan sakit sendirian.
'Mas, sebenarnya kamu dimana?' ucap Zahra di dalam hati dengan bola mata yang terus berputar memperhatikan sekelilingnya, karena hati Zahra masih tidak percaya kalau Alex benar-benar pergi meninggalkannya sendirian.
"Sudahlah, Ummi, anak kita sedang sakit, jangan menambah beban pikirannya."
Abi menenangkan ummi, karena beliau memang selalu menjadi penenang paling ampuh bagi ummi Fatimah, bahkan ummi tidak akan lagi berkutik jika abi sudah memeluk dan mendekap ummi dengan kelembutan cinta dan kasih sayang seorang suami kepada istrinya.
"Abi, kita harus menghubungi Fahri, bagaimanapun juga Fahri harus tahu kalau tunangannya ada di rumah sakit."
Ummi menatap wajah abi Abdullah dengan seksama, terlihat sekali beliau ingin melihat calon menantu yang tidak lain adalah tunangan tidak jelas bagi putrinya itu datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Zahra.
"Ara tidak ingin bertemu dengan siapapun sekarang, Ummi," ujar Zahra dengan nada suara datar dan menyimpan amarah di dada.
"Tapi Fahri adalah calon suamimu, ia pantas datang kesini dan ia juga wajib tahu keadaanmu, Nak!"
__ADS_1
Entah apa yang membuat ummi Fatimah begitu menyukai lelaki yang bernama Fahri itu, ia selalu dipuji dan dibanggakan, bahkan ia selalu dibanding-bandingkan dan dianggap lebih baik dari pada Alex, padahal mata Zahra sama sekali tidak melihat ada celah kebaikan di diri lelaki yang bernama Fahri itu. Entah mata Zahra sudah dibutakan hingga gadis cantik itu hanya melihat kebaikan yang ada pada Alex saja, hingga siapapun yang berbuat baik di dekatnya tidak akan terlihat olehnya.
Memang Fahri adalah lelaki muslim yang saleh dan paham dengan ilmu agama, tapi entah mengapa kalau hati kecil Zahra selalu berkata jika Fahri bukanlah calon suaminya, ia bukanlah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk Zahra, dan dia bukanlah belahan jiwa yang selama ini Zahra nantikan, itu yang Zahra pikirkan. Ya, Zahra sangat tahu kalau usianya memang sudah tidak lagi muda, bahkan Zahra terbilang sudah tidak punya waktu lagi untuk memilih lelaki sesuai dengan keinginan hatinya, namun satu hal yang menjadi prinsip dan selalu Zahra pegang erat, kalau ia akan menikah dengan lelaki yang ia sukai, lelaki yang dengan memandang wajahnya saja bisa memberikan ketenangan dan kedamaian kepada Zahra, namun sampai usianya yang sudah menjelang kepala tiga Zahra belum menemukan belahan jiwanya itu. Terkadang Zahra menyukai dan menyayangi lelaki yang datang ke kehidupannya namun lelaki itu tidak menyukainya dan terkadang kebalikannya, dimana sang lelaki menyukai Zahra sementara Zahra tidak melihat ke arah lelaki itu.
"Nak, Fahri bukan orang lain, dia adalah tunanganmu, Sayang," ucap abi Abdullah dengan nada suara lembut.
"Persetan dengan tunangan, jika lelaki itu menginjakkan kakinya di rumah sakit ini maka Ara akan kabur, titik!"
Keras kepala dan keegoisan hati ini membuat Zahra bersikap sesuai dengan keinginan hatinya. Zahra bukannya membenci lelaki yang bernama Fahri itu, hanya saja mendengar namanya membuat darah Zahra mendidih, ubun-ubun wanita itu memanas hingga emosinya tidak bisa ia kendalikan. Ya, bagaimana mungkin Zahra akan menikah dan berumah tangga dengan seseorang, sementara melihat wajahnya dan berbicara dengannya saja ia tidak sudi. Bagaimana mungkin pernikahan akan menjadi ibadah jika Zahra tidak bisa melayani suaminya dengan baik dengan segenap hati dan jiwanya kelak.
"Ara, kamu benar-benar kelewatan, jika kamu ingin kabur silahkan! Tapi jangan harap kamu akan menjadi anak Ummi dan Abi lagi!" ucap Ummi Fatimah lantang dan sangat keras. Ya, beliau marah sembari membalikkan tubuhnya membelakangi Zahra. Beliau berjalan keluar dari kamar inap Zahra disusul dengan Abi Abdullah dengan sejuta rasa sedih dan kecewa yang beliau bawa bersamanya.
Ada rasa iba dan sedih juga di hati Zahra, karena telah melawan kepada orang tuanya. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat bahkan saat diri telah menyakiti dan melukai perasaan orang lain terutama orang tua yang sangat disayang.
"Baik, kalau itu yang Ummi dan Abi inginkan, maka Ara akan pergi selamanya!"
Ketika kedua orang tua Zahra memaksakan kehendak beliau, itu membuat separuh hati Zahra terluka dan ketika kedua orang tua Zahra mengusirnya hanya karena lelaki yang bernama Fahri itu, maka seluruh hati lagi menjadi hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Jika memang jodoh itu adalah ibadah terpanjang dan terlama karena menyempurnakan separuh agama seseorang, maka Zahra percaya kalau jalan menuju pernikahan itu pasti mudah dan dilancarkan. Namun, bagaimana jika jalan menuju pernikahan itu rumit hingga membuat hubungan orang tua dan anak menjadi tidak akur, lantas bagaimana mungkin sesuatu bisa menjadi ibadah jika memulainya dengan pertengkaran dan pertentangan.
Zahra hanya ingin menikah dengan lelaki yang ia cintai dan lelaki yang mencintainya karena Allah. Zahra ingin calon suaminya diterima dengan baik di keluarganya dan keluarga calon suaminya juga menerima Zahra dengan baik karena rasa cinta itu ditumbuhkan oleh zat yang maha mencinta.
Zahra hanya ingin menjalankan pernikahannya berlandaskan iman dan cinta yang terus tumbuh setiap harinya, melahirkan keturunan yang saleh dan saleha yang senantiasa mengabdikan diri kepada sang pencipta.
"Aku harus kemana sekarang?" ucap Zahra sembari menarik nafas panjang.
Zahra mengecek saldo rekeningnya lewat internet banking, untuk memastikan seberapa lama ia bisa bertahan dengan uang yang ia punya sekarang.
"Tiga juta? Bagaimana mungkin aku akan hidup dengan uang sebayak itu, uang yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku selama sebulan.
Seketika, celotehan Alex terngiang-ngiang dalam benak Zahra, "Adek, kalau lagi punya uang itu ditabung, jangan di foya-foyakan semuanya!"
"Ternyata Alex benar dan aku baru bisa merasakannya sekarang!" ucap Zahra sembari mengacak-acak rambutnya yang memang berantakan karena belum sempat dirapikan kembali.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku meminjam uang untuk kebutuhanku? Tapi kemana?' ucap Zahra di dalam hati dengan sejuta kegelisahannya.
__ADS_1