Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Seperti Cinta Segitiga


__ADS_3

Alex mematikan teleponnya tanpa meminta persetujuan dari Zahra, ia selalu bertingkah seenak hatinya tanpa peduli dengan pendapat dan keinginan hati Zahra. Biasanya Zahra memang akan bergegas untuk berlari menemui Alex jika lelaki itu memintanya, akan tetapi tidak kali ini Zahra tidak ingin bertemu dengan Alex, setidaknya sesekali Zahra harus menolak keinginan dan keegoisan hati lelaki itu. Walaupun dari hati kecil yang paling dalam, Zahra sangat tidak tega membuat Alex harus menunggunya di cafe langganan mereka, tapi Alex sesekali harus diberikan pelajaran kalau tidak selamanya keinginannya harus dipenuhi dan dituruti.


Ya, Zahra memang pergi dari rumah untuk sesaat, tapi tujuannya bukan untuk menemui Alex, tapi ingin menyendiri sembari menikmati alam di kala malam.


Zahra berjalan pelan dengan ditemani cahaya rembulan menuju sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Taman bermain yang sering ia datangi saat pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ya, walaupun taman bermain itu selalu ramai dengan pengunjung, namun Zahra memilih menyendiri dengan mengambil kursi paling sudut untuk menikmati cahaya rembulan dalam kesendiriannya.


Lalu lalang dan suara anak-anak yang bermain dan bercengkrama tidak ia hiraukan karena saat ini Zahra hanya mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.


Andai, menikah tidak memandang usia, mungkin saja saat ini Zahra masih menikmati kebebasannya sebagai seorang wanita karir yang menikmati hidup tanpa perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan. Tapi, ia tinggal di Indonesia, negara yang memang mayoritas masyarakatnya menikah diusia dua puluhan tahun.


Andai, menjadi wanita lajang di usia menjelang tiga puluhan tidak terlalu dianggap hina dan rendah di masyarakat, andai istilah perawan tua tidak ada di muka bumi ini, mungkin saja tidak ada wanita yang stres dan tertekan karena belum menikah. Namun, hukum alam benar-benar nyata, Zahra tidak bisa mengendalikan semua mulut orang yang ingin menghina dan menjatuhkan dirinya dengan ucapan-ucapan yang menyakiti hati dan perasaan, seperti anak panah yang menancap tepat di hatinya. Zahra juga tidak bisa menutup semua mulut mereka yang ingin menghancurkan Zahra dengan mulut berbisanya selain terus bersabar dan berdoa semoga ia tetap kuat menjalani hidup yang penuh dengan peluru di setiap sisi yang siap ditembakkan kepadanya. Ya, Zahra memang hanya bisa menutup kedua telinganya dan memejamkan kedua matanya, agar ia bisa menjaga hatinya untuk tetap baik-baik saja. Agar ia tetap bisa melanjutkan hidupnya meski mungkin saja harus tebal muka.


"Zahra," sapa seseorang yang menyadarkan Zahra dari lamunan dan pikiran panjangnya.


Ya, Zahra menatap ke semua arah dan mencari tahu siapakah sebenarnya yang memanggilnya, hingga dua pasang bola mata itu tertuju pada sosok yang ia kenal.


Zahra menoleh dan mencari sumber suara, berharap ia yang datang memang kenyataan bukan ilusi dan khayalan belaka.


"Zahra, kamu ngapain disini sendirian?" sapa Andika, lelaki yang tidak lain adalah rekan kerja Zahra.

__ADS_1


"Eh, Andika, kamu lagi apa disini?" ucap Zahra malu dengan sikap salah tingkah.


Zahra memang tidak terlalu dekat dengan Andika karena lelaki itu adalah rekan kerja yang baru saja bekerja di kantornya. Zahra juga tidak menyangka lelaki itu datang menghampirinya, bahkan menyapaku dengan senyum tipis yang jarang sekali ia lihat, karena lelaki itu adalah lelaki yang jarang sekali tersenyum.


"Apa aku boleh duduk disini?"


Andika menunjuk ke arah kursi yang ada di sebelah Zahra.


Untuk sesaat Zahra terlihat berpikir, namun ia akhirnya mengangguk, karena tidak ada alasan bagi gadis itu untuk menolak lelaki yang bernama Andika itu, apalagi mereka adalah teman sekantor. Ya, walaupun untuk sesaat Zahra merasa ragu dan risih dengan lelaki asing yang tidak kenal dengannya, tapi Zahra rasa Andika adalah lelaki yang baik.


"Ini," ucap Andika sembari menyodorkan minuman kepada Zahra.


Ya, dari aromanya, itu adalah coffee late, minuman kesukaan Alex, sesuatu yang mengingatkan Zahra kepada lelaki bernama Alex itu, walaupun hati dan pikiran gadis cantik itu sangat ingin sekali melupakannya.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Zahra harus mengambil kopi itu, karena ia harus menghormati dan menghargai kebaikan dan niat tulus orang lain kepadanya. Apalagi prinsip agama yang Zahra pegang, rezeki itu tidak boleh di tolak.


"Terima kasih."


Dengan ragu, Zahra akhirnya mengambil minuman itu. Mencoba mencium aroma kopi yang ternyata sangat menyegarkan itu. Hingga hati kecilnya berkata, 'Pantas saja Alex sangat suka dengan kopi ini, ternyata aromanya sangat menenangkan sekali, bagaimana rasanya ya?'

__ADS_1


Rasa penasaran membuat Zahra ingin menyeduh kopi itu, kopi yang selama ini tidak pernah ia coba karena ia adalah pencinta ice cream, ia lebih menyukai ice cream dari pada minuman lain apapun.


"Bagaimana Kania? Apa kamu suka?" tanya Andika yang membuat Zahra kaget.


Bruk ...


Kopi yang ada di tangan Zahra terjatuh hingga berserakan di tanah, entah mengapa suara Andika terdengar seperti suara Alex di telinganya.


'Alex? Apa ada Alex disini? Apa ia mengawasi ku?'


Zahra sangat yakin dan percaya kalau suara yang ia dengar adalah suara Alex, karena ia tidak mungkin salah mengenali suara lelaki itu. Semua yang berhubungan dengan Alex sudah terekam indah di otaknya, tidak ada hal apapun dari dirinya yang Zahra lewati, namun kehadirannya saat ini seperti ilusi yang membuat Zahra benar-benar terlihat seperti orang gila, karena ketika ia menatap sekelilingnya, ia tidak menemukan batang hidung lelaki itu.


'Sadar, Zahra, sadar!' hati nurani Zahra mencoba menyadarkan dirinya sendiri, mencoba membuat ia kembali waras atas sesuatu yang memang hanya khayal dan keinginannya saja. Ya, sungguh alam bawah sadar Zahra sangat mengharapkan kehadiran Alex disini saat ini.


"Zahra, maaf, kamu tidak apa-apa 'kan?"


Lelaki bernama Andika itu kembali menyadarkan Zahra, dimana sebuah sapu tangan berwarna biru muda tengah diulurkannya kepada sang gadis. Ya, meski dibawah sinar rembulan dan gemerlap cahaya lampu taman, Zahra tetap bisa melihat ketulusan dari wajah seorang lelaki yang bernama Andika itu.


"Terima ka-,"

__ADS_1


Belus selesai ia mengucapkan terima kasih, bahkan tangan Zahra masih menyentuh ujung sapu tangan, tiba-tiba saja tangan lain mengambil sapu tangan itu. Sungguh, terlihat sangat kasar dan tidak sopan sama sekali, seolah menyimpan amarah besar kepada seseorang yang memberikan sapu tangan itu.


"Kumu kenapa seceroboh ini sih, Dek?"


__ADS_2