Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Bertemu Dia Yang Tidak Disangka


__ADS_3

"Nona, sepertinya Nona menjadi gadis yang paling beruntung di muka bumi ini karena memiliki lelaki yang sempurna dan baik akhlaknya seperti Ustadz itu."


Lagi dan lagi, setiap orang yang mengenal ustadz Fahri seperti terhipnotis dengannya, mereka memuji dan membanggakan sang ustadz yamg bahkan tidak menarik sedikitpun di mata Zahra.


"Suster, sudah azan, saya mau salat dulu."


Kata-kata penutup yamg Zahra ungkapkan bersamaan dengan berkumandangnya azan magrib. Zahra tidak ingin membahas apapun dan ia tidak ingin menjelaskan apapun kepada siapapun termasuk sang perawat.


Saat ini yang ada dalam pikiran Zahra hanyalah menghadap sang pencipta, kemudian berdoa meminta ketenangan batin dan jiwanya, berharap Tuhan memberikan jalan keluar terbaik dari masalah yang tengah ia hadapi, melapangkan dadanya untuk ikhlas menerima semuanya dan membuat hubungannya dengan Alex kembali membaik seperti sedia kala, setidaknya untuk seratus delapan puluh hari tersisa.


Ya, setelah menghadap sang pencipta, Zahra menghabiskan makanannya, dengan lahap, menelan pil pahit yang tidak sebanding dengan pahitnya hidup yang dijalaninya. Mencoba menjalani rutinitas seperti orang sakit pada umumnya, padahal sebenarnya luka di tubuh Zahra tidak seberapa, karena sesungguhnya jiwanya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Ingin rasanya diri ini keluar untuk mencari udara segar, hanya sekedar untuk melepaskan penat di dada dan pusingnya kepala, hingga terpikirkan oleh Zahra untuk membuka jendela kaca.


Ya, sungguh indah alam semesta, bulan penuh yang sepertinya purnama tengah menampakkan dirinya. Ia hadir bersama jutaan bintang-bintang yang menemaninya, menghiasi langit dan menerangi alam semesta.


Untuk sesaat, Zahra merasa sangat terhibur dan melupakan semua yang ia tanggung di dalam dada. Setidaknya Zahra dan Alex sedang memandang langit yang sama, walaupun Zahra sendiri tidak tahu keberadaan lelaki itu saat ini sedang dimana.


Rindu! Zahra merindukan Alex, sahabat baiknya.


Sungguh, rasa itu menggeliat di dada, seperti kelinci-kelinci kecil yang sedang berlari kesana kemari agar bisa keluar dari penjara.

__ADS_1


Ingin rasanya bertemu dengan Alex saat ini juga, walaupun hanya sedetik saja, tapi apalah yang bisa dikata, jangankan untuk memandang wajahnya, mendengarkan suaranya saja sudah tidak lagi ada wadah yang tersisa. Lelaki tampan itu benar-benar bersikap tidak dewasa, pergi membawa amarah tanpa peduli apa yang tengah dirasa. Sungguh, Zahra merasa sangat dilema dalam kegalauan dan kegelisahan hatinya.


"Apakah aku ke rumah Alex saja? Tapi bagaimana caraku keluar dari rumah ini menghindari Ummi dan Abi?"


Zahra juga masih sangat yakin dan percaya, kalau lelaki yang bernama Fahri itu masih ada di ruang tamu bersama ummi dan abi. Bahkan lelaki itu mungkin saja menginap di rumah Zahra dengan sejuta alasan yang mungkin saja dilontarkannya, bahkan walaupun tanpa melihat Zahra, lelaki itu tetap akan bertahan di rumah Zahra.


Andai, semua sikap yang ditunjukkan oleh lelaki itu dilakukan oleh Alex, mungkin Zahra akan langsung berlari menghampirinya hingga hilang seluruh sakit yang menyakiti jiwa dan raga hilang dalam waktu seketika.


"Apakah aku keluar lewat jendela saja?"


Terbesit keinginan untuk kabur untuk mencari udara segar sejenak tanpa memberitahukan orang tua, hingga salah satu jalan keluar terbaik adalah keluar lewat jendela.


Ya, tanpa membuang-buang waktu dan kesempatan yang ada, Zahra kenakan jaket berwarna merah muda favorit yang selalu menjadi andalannya, kemudian ia berjalan pelan untuk segera keluar dari jendela kamarnya sebelum ada yang mengetahui gelagat dan gerak-geriknya yang sangat mencurigakan.


Kring ..., kring ..., kring ....


"Astaghfirullahalazim," ucap Zahra kaget sembari memegang dadanya yang semakin bergetar tidak karuan, seolah jantungnya itu copot dan seluruh darahnya terbang. Bahkan, Zahra hampir saja jatuh hingga mungkin saja berakibat fatal.


"Siapa sih yang menelpon?"


Kekesalan hati semakin menghantui Zahra, karena ponsel yang ia abaikan terus saja berdering, padahal saat ini Zahra sedang tidak ingin mengangkat telepon dari siapapun. Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, gadis cantik itu harus segera mengangkat atau mematikan ponsel itu, agar nada deringnya tidak mendatangkan kecurigaan diluar kamarnya.

__ADS_1


Ya, awalnya Zahra ingin langsung mematikan ponselnya, namun hati kecilnya langsung mengurungkan niatnya karena melihat nama Alex yang kini terpampang di layar itu. Dan tentu saja dengan bergegas, Zahra mengangkatnya, karena ini adalah kesempatan bagi Zahra untuk memperbaiki dan menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka.


[Assalamualaikum, Dek]


Sapaan lembut yang terdengar dari seberang sana membuat jantung Zahra semakin berdetak kencang, bahkan semua kekhawatiran dan kesalahpahaman yang sebelumnya terjadi antara mereka seolah hilang di telan bumi. Suara Alex yang Zahra dengan telah membuat hati Zahra luluh lantah.


[Waalaikumsalam, Mas]


Walaupun berat dan bergetar, namun bibir Zahra mencoba untuk memulai diri ini agar terbiasa memanggil Alex dengan panggilan ,"Mas."


[Lagi apa?]


Kata-kata pembuka yang selalu diucapkan oleh Alex ketika memulai pembicaraan dengan Zahra. Saat Zahra dan lelaki itu sedang dalam pertengkaran atau kesalahan pahaman.


[Tidak ngapa-ngapain]


Jawaban singkat dan terdengar cuek itu adalah salah satu bentuk sikap merujuk Zahra kepada lelaki itu.


Hati Zahra bercampur aduk sekarang, ingin rasanya aia menemui Alex saat ini juga dan mengatakan padanya kalau ia tidak bisa hidup tanpa lelaki itu, bahkan Zahra tidak ingin Alex meninggalkannya atau pergi dari hidupnya, tapi sebagian lain dari diri Zahra juga ingin sekali meninju dada bidang lelaki itu karena lelaki itu membuat hati Zahra porak-poranda dalam keraguan dan kebimbangan.


[Zahra, kamu dimana? Tidak sedang bertengkar sama Ummi 'kan?]

__ADS_1


Lelaki yang bernama Alex itu memang pandai sekali menebak apa yang terjadi kepada Zahra. Bahkan ia bisa membaca pikiran Zahra tanpa harus gadis itu katakan kepadanya.


[Ayo bertemu di tempat biasa]


__ADS_2