
Ya, jika ingin memutuskan pertunangannya, secara adat pihak yang memutuskan hubungan harus membayar denda dua kali lipat dari apa yang diberikan. Sehingga otak Zahra harus berpikir keras untuk mencari pekerjaan tambahan yang menghasilkan banyak uang tanpa harus meninggalkan pekerjaan pokoknya.
Zahra harus memiliki uang lebih juga untuk menghindari kemungkinan jika seandainya kedua orang tuanya mengusirnya dari rumah karena ia telah membuat keluarga malu.
Ya, perkara perjodohan ini memang sangat pelik, bahkan Zahra tidak bisa membayangkan semuanya terjadi begitu cepat, semua diluar imajinasi Zahra dan ia sama sekali tidak pernah membayangkan kisah cintanya seperti drama-drama percintaan di televisi yang sebelumnya ia anggap tidak akan pernah terjadi dalam kehidupannya.
'Dimana Alex sekarang? Apakah kali ini lelaki itu benar-benar telah pergi dan meninggalkanku untuk selamanya.'
Sebanyak apapun masalah Zahra dan sebanyak apapun pikirannya tetap saja Alex adalah lelaki yang selalu ada di dalam benak gadis itu.
Zahra duduk dari pembaringannya, mengambil ponsel dan menghubungi lelaki bernama Alex itu. Namun, alangkah terkejutnya Zahra ketika ia melihat kalau semua aksesnya dengan Alex telah di blokir, mulai dari panggilan masuk hingga akun sosial medianya tidak lagi bisa terhubung dengan lelaki itu.
Ya, Alex memang sering sekali melakukan hal seperti ini kepada Zahra ketika mereka berdua bertengkar hebat. Seperti anak remaja yang sama sekali jauh dari kata dewasa.
Kring ..., kring ..., kring ...
Ponsel Zahra berdering, hingga gadis cantik itu langsung melihat jikalau Alex-lah yang menghubunginya, namun harapan dan keinginan Zahra tidak bisa menjadi kenyataan karena Alex sama sekali tidak peduli lagi kepadanya.
[Assalamualaikum, Zahra, apa bisa datang ke kantor sekarang? Ada hal mendesak yang terjadi!]
__ADS_1
Zahra menepuk jidatnya sendiri, menandakan kalau dirinya lupa untuk memberikan kabar kepada atasannya di kantor kalau ia tidak bisa masuk kantor karena dalam keadaan sakit. Ya, dua hari tanpa kabar membuat atasan mencari Zahra karena memang ada deadline pekerjaan yang semestinya ia kerjakan dan ia tanggulangi. Zahra juga mengabaikan pesan dari sahabat dan teman sekantor yang mencarinya, karena Zahra memang fokus Zahra tertuju pada penggagalan pernikahan. Namun, Zahra juga tidak boleh lari dari tanggung jawabnya, bahkan walaupun saat ini sedang sakit Zahra tetap harus menyelesaikan apa yang semestinya diselesaikan.
[Maaf, Pak, apakah saya boleh mengerjakan semua pekerjaan dari rumah?]
Setelah menjelaskan kalau diri ini sedang sakit, akhirnya sang atasan mengizinkan Zahra untuk bekerja di rumah.
Senang rasanya bisa bekerja, karena bagi Zahra pekerjaan adalah pelampiasan terbaik untuk membuat hatinya lupa atas masalah yang tengah ia asalkan saat ini. Namun, Zahra tidak ingin kedua orang tuanya tahu kalau ia tengah memaksakan diri untuk tetap bekerja dalam keadaan sakit, jadi cara terbaik adalah dengan memilih siasat untuk makan dengan lahap serta meminum obat agar tidak ada yang menyangka kalau ia memberontak, dengan menjadikan waktu istirahatnya untuk bekerja.
Ya, waktu yang Zahra nantikan akhirnya datang, sang perawat segera keluar dari kamar gadis cantik itu setelah memastikan Zahra beristirahat dengan baik, bahkan sebelum keluar dari kamar milik Zahra, sang perawat juga berpesan kalau Zahra bisa memanggilnya kapanpun gadis itu membutuhkannya. Namun itu tidak akan terjadi karena Zahra adalah wanita gila kerja, ia sangat mencintai pekerjaannya dan ia akan melupakan semua urusan dan masalah hidupnya jika ia sudah fokus pada pekerjaannya. Ya, setidaknya hanya pekerjaan satu-satunya yang setia menemani Zahra setiap harinya.
Kini Zahra membuka laptop pribadinya, dan membuka surat eletronik yang berisi tumpukan pekerjaan yang diberikan oleh atasan kepadanya, suatu proyek yang menjadi tanggung jawab dan hanya Zahra sendiri yang dipercaya untuk mengerjakannya. Jadi, mau tidak mau dan suka tidak suka Zahra akan tetap mengerjakannya meski dalam keadaan sakit. Lagi pula, jika proyek yang Zahra kerjakan berhasil, maka ia akan mendapatkan bonus tambahan, hingga uang itu bisa ia pergunakan untuk bekal hidupnya ketika ia kabur dari rumah orang tuanya.
Zahra menatap jam di dinding kamarnya, arloji merah muda dengan karakter hello kitty itu terpampang nyata di depan Zahra. Waktu telah menunjukkan pukul enam sore, waktu dimana azan magrib akan segera berbunyi, waktu dimana sang perawat akan mengantarkan makanan dan obat kepadanya. Hingga Zahra bergegas untuk mematikan laptopnya, berpura-pura berbaring di tempat tidurnya dengan wajah yang terlihat kusut, agar ciri khas muka bantal itu tidak membuat sang perawat curiga dengan kegiatan Zahra, karen ia hanya akan berpikir kalau Zahra memang baru saja bangun dari tidurnya.
Tok ..., tok ..., tok ....
Ya, yang benar saja, dalam waktu sepersekian detik sang perawat masuk ke kamar Zahra.
"Nona Zahra, sudah bangun?" sapa sang perawat dengan senyum merekah dan terlihat sangat tulus kepadanya. Seolah ia tidak memiliki beban hidup sama sekali, tidak seperti Zahra yang penuh dengan problematika kehidupan seputar jodoh yang tidak kunjung selesai sampai ia benar-benar menikah dan menemukan belahan jiwanya.
__ADS_1
"Nona, setelah magrib kita makan dan minum obat ya," ucap sang perawat sembari membantu Zahra bangkit dan duduk dari tempat tidurnya.
"Baik, Suster," jawab Zahra lembut dan terdengar lemah.
"Nona, sepertinya calon suami Nona masih setia menunggu di luar."
"Ha? Calon suami? Siapa?" ungkap Zahra kaget dengan mata melotot dan mulut menganga.
Sungguh, alangkah terkejutnya Zahra, karena lelaki yang bernama ustadz Fahri itu masih setia menunggunya.
Entah apa sebenarnya tujuan dan niat lelaki itu tetap berada di rumah Zahra, bahkan ia terlihat seperti tidak memiliki pekerjaan atau kesibukan sehingga harus stay di rumah orang lain dalam waktu berjam-jam.
"Iya, Nona, Ustadz itu terlihat sangat khawatir sekali dengan kesehatan Nona," jelas sang perawat.
"Suster, apa kedua orang tua saya ada di rumah?"
"Ada, Nona, beliau sedang mengobrol dengan Pak Ustadz tanpa tahu waktu, bahkan mereka saling bercengkrama seolah orang tua dan anaknya."
Zahra benar-benar semakin dibuat tercengang oleh jawaban sang perawat, bagaimana mungkin kedua orang tuanya begitu menyukai lelaki yang bernama Fahri itu, bahkan bisa dekat dalam waktu singkat, sementara Zahra tidak seperti itu, ia bahkan tidak ingin mendengar nama ustadz itu atau membahas apapun yang bersangkut paut dengan dirinya.
__ADS_1