Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Bekerja Bagai Kuda


__ADS_3

"Nak, sekarang Zahra tidak usah memikirkan apapun, yang terpenting kamu beristirahat agar cepat sehat," jelas abi Abdullah sembari membantu putrinya kembali tertidur. Beliau menyelimuti putri kesayangannya itu hingga membuat perasaan Zahra menjadi lebih baik dan lebih tenang.


"Abi, jangan pergi! Zahra takut sama Ummi!" ucap Zahra sembari membawa kedua tangannya ke dadanya, seolah saat ini ia sedang takut hingga memeluk dirinya sendiri, seperti orang bodoh.


"Apa tidak sebaiknya Zahra dibawa ke psikiater?"


Ummi Fatimah berkata lemah namun masih bisa Zahra dengar dengan jelas. Rasanya darah Zahra mendidih dengan emosi memuncak. Ia marah dan kecewa kepada ummi Fatimah karena sebagai orang tua, beliau malah menyarankan sang putri dibawa ke psikiater, padahal beliau sangat tahu sekali kalau sang putri tidak gila sama sekali, walaupun Zahra akui mentalnya mungkin sedang tidak baik-baik aja saat ini.


"Ummi saja yang ke psikiater!" balas Zahra dengan nada suara tinggi. Mata Zahra melotot , menantang sang ibu, memberontak dan melawan karena sebagai orang tua, beliau tidak mempercayai putrinya sendiri, bahkan beliau tidak lagi bertingkah sebagai ibu untuk Zahra.


"Apa yang kamu katakan?"


ummi Fatimah membalas Zahra dengan amarah yang juga tidak kalah memuncak, mata beliau melotot dengan wajah memerah.


"Ummi saja yang ke psikiater," balas Zahra dengan teriakan yang lebih lantar, terdengar seperti menggunakan mikrofon.


Plak ...!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zahra, hingga pipi sang gadis memerah. Tangan kanan Zahra juga langsung ia tempelkan di pipinya, merasakan sakit yang teramat sangat, bukan hanya di pipi tapi juga sampai ke hati. Zahra benar-benar marah besar kepada ibunya sendiri.


"Ummi, Zahra, sudah! Jangan bertengkar dan bergaduh lagi!" ucap abi Abdullah menengahi pertengkaran sang putri dengan istrinya.


Abi Abdullah menarik tangan ummi Fatimah untuk keluar dari kamar sang putri agar tidak lagi terjadi kegaduhan, sedangkan Zahra kini terhanyut dalam kesedihan dan luka mendalam, rasanya seluruh tubuhnya menggigil, dengan air mata yang terus mengalir membanjiri pipinya.


Zahra merasa kalau hubungan pertunangan yang terjalin antara ia dan lelaki yang bernama Fahri itu tidak mendatangkan kedamaian dan ketentraman, malah perselisihan dan pertengkaran yang membuat rusaknya hubungannya dengan orang tuanya. Ya, bagaimana bisa sesuatu bisa menjadi ibadah jika selalu banyak masalah dan keributan yang terjadi yang membuat ia merasa mati dan tidak sanggup lagi menjalani hidup ini.

__ADS_1


"Zahra, kamu tidak apa-apa, Nak?"


Suara khawatir dan panik abi Abdullah kembali terdengar di telinga Zahra.


Dengan bersegera, Zahra menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya, perlahan sang gadis mengangkat wajahnya dan berusaha memberikan senyum termanis agar sang ayah tidak merasa sedih.


"Abi," sapa Zahra dengan senyum manis yang ia paksakan, walaupun dengan mata memerah dan muka sembab yang terlihat jelas.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?"


Abi Abdullah berjalan mendekati Zahra, terlihat jelas wajah beliau menyimpan kekhawatiran yang teramat sangat kepada sang putri. Rasanya, sudah lama sekali Zahra tidak melihat ayahnya itu bersikap gundah seperti itu apalagi semua ini adalah perangainya.


"Zahra tidak apa-apa, Bi."


Zahra bukannya ingin bersikap tidak acuh kepada ayahnya, apalagi sampai membenci dan dendam kepada sang ayah. Hanya saja, diri ini tidak ingin membuat abi Abdullah semakin khawatir jika melihat kesedihan dan air mata yang kembali berjatuhan membasahi pipi Zahra.


"Zahra."


Ucapan lembut seorang ayah yang membuat Zahra merasa luluh lantah hingga tertusuk-tusuk paku.


"Zahra, Ummi dan Abi sayang sama Zahra. Semua yang kami berdua lakukan adalah yang terbaik untukmu, Nak."


Untuk sesaat abi Abdullah terdengar menghentikan ucapannya, seolah menjeda apa yang akan beliau sampaikan. Namun, tidak ada yang bisa Zahra lakukan sekarang, selain terisak seperti ingin dilindungi dan dikasihani.


"Zahra ingin tidur, Bi! Apakah Zahra tidak boleh beristirahat bareng sebentar?" ucap Zahra tanpa menatap abi Abdullah, karena saat ini ia memilih untuk tidur nyenyak tanpa ada gangguan apapun, termasuk keluarga dan orang tuanya sendiri.

__ADS_1


"Sayang, Ummi itu tidak bermaksud marah kepadamu, Nak."


Abi Abdullah tentu tidak ingin jika Zahra dan sang ibu bertengkar hanya gara-gara hal sepele, karena ikatan antara orang tua dan anak tidak akan lepas dan tidak akan putus meski bertengkar hebat.


Pertengkaran itu hanya sebuah gambaran ekspresi kekecewaan seseorang kepada orang yang disayang, atau juga sebagai bentuk cara menegur yang tidak bisa diterima dengan baik dan hati lapang sehingga timbul kesalahpahaman.


Zahra tahu dan sangat percaya, kalau ummi Fatimah juga tidak punya maksud menyakiti hati dan perasaan Zahra dengan kata-kata tegas yang menyinggung hatinya. Zahra juga sangat paham kalau tidak ada seorangpun orang tua di dunia ini yang akan menjerumuskan anaknya, karena semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, hanya saja cara ummi Fatimah salah menurut Zahra, beliau terlalu berlebihan dan terlalu bergegas memutuskan sesuatu yang sifatnya akan dijalani seumur hidup Zahra. Namun ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur dan Zahra juga tidak lagi bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala, selain mencegah agar pernikahan yang direncanakan tidak terjadi.


Zahra sangat yakin dan percaya dengan perkara takdir, jika lelaki itu adalah jodohnya maka jalan mereka untuk bersatu akan dipermudah, bahkan sekuat apapun ia orang menolak dan menyusun rencana untuk membatalkannya, segala yang telah Allah tetapkan terjadi maka akan tetap terjadi juga. Akan tetapi, jika sesuatu hal itu memang bukan takdirnya, pasti akan ada jalan untuk membatalkan semuanya dan rencana Allah itu adalah yang terbaik untuk hamba-Nya, dan Allah pasti akan memberikan pelajaran berharga kepada hamba-hambaNya di balik satu kejadian yang terjadi.


"Abi, Ara ingin tidur, rasanya lelah dan capek sekali."


"Iya, Nak, kamu beristirahatlah, Abi akan keluar, tapi kamu harus makan dan minum obat ya, Nak!"


"Iya, Bi," jawab Zahra dengan nada suara lemah, karena saat ini aku tidak punya tenaga apapun lagi untuk memberontak.


"Kalau begitu Abi akan minta Bibi dan Suster untuk membantu kamu ya, Nak."


Abi Abdullah mencium kening sang putri, sebelum beliau akhirnya pergi meninggalkan kamar putri kesayangannya itu.


Huft ...


Zahra menarik nafas panjang, dan rasanya teramat sangat lega sekali karena sendirian di kamar ini. Setidaknya Zahra punya kesempatan untuk menenangkan hati dan perasaannya, serta menyusun rencana dengan pikiran yang jernih demi masa depannya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana caranya aku mengganti mahar dua kali lipat jika aku hanya berdiam diri di tempat tidur ini.'

__ADS_1


__ADS_2