Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Taaruf


__ADS_3

Abi Abdullah memperkenalkan Zahra dengan bangga sebagai anak perempuan kesayangan dan kebanggaannya. Tapi durhakanya Zahra, ia tidak memberikan salam apapun kepada tamu yang datang kecuali memberikan senyum tipis yang terpaksa. Ya, Zahra melihat keluarga yang datang adalah keluarga yang sangat alim dan paham agama, jadi tentu saja Zahra bisa mengelak kalau bersentuhan antara seorang muslim yang tidak muhrim itu tidak diperbolehkan.


Zahra seperti manusia yang sombong dan angkuh, ilmu dan pemahaman agamanya hanya seujung kuku, tapi bersikap seperti ahli ibadah yang sangat paham dan mengerti agama.


"Nak Zahra, perkenalkan ini Fahri, anak Abi dan Ummi," ucap lembut seorang lelaki separuh baya yang bernama kyai Abidin.


Sekilas Zahra melihat lelaki yang ada di depannya, wajahnya terlihat bersih bercahaya, sungguh wajah yang memancarkan iman di hatinya, matanya sipit dengan tinggi sekitar 170 cm, kulitnya kuning langsat dengan badan yang menurut Zahra kurus untuk ukuran laki-laki.


Namun, Zahra tidak peduli dengan lelaki yang ada di depannya itu, mau ia seorang ustadz atau preman sekalipun tetap saja lelaki itu tidak membuat hati Zahra bergetar.


Jangankan untuk menikah dengannya, memandang wajahnya saja Zahra sudah tidak mau lagi. Ya, begitulah keegoisan dan kekerasan hati Zahra, jika ia tidak menginginkan seseorang mau sebaik apapun agamanya, serupawan apapun wajahnya tidak akan membuat Zahra langsung jatuh cinta kepadanya.


"Zahra, Nak, disapa dong tamunya!" ucap ummi yang mulai merasa malu dengan tingkah sang putri.


Bagi Zahra cinta itu adalah sesuatu yang datang dari hati, jika hatinya bergetar maka ia ingin melanjutkan hubungan ketahap selanjutnya dengan lelaki itu, tetapi jika hati ini tidak merasakan getaran cinta itu, maka ia tidak akan mau melanjutkan hubungan itu ketahap yang lebih serius.


"Zahra, maksud kedatangan Ustadz Fahri dan keluarganya ke rumah kita adalah untuk bertaaruf denganmu, Nak," ucap ummi Fatimah begitu antusias.


'Taaruf?'


Setahu Zahra taaruf dilaksanakan oleh dua orang yang sudah bertukar curriculum vitae dengan adanya kesepakatan, tapi kalau yang sekarang ini namanya perjodohan karena Zahra belum menyetujuinya sama sekali.


"Jika Nak Zahra berkenan, silahkan berkenalan dengan Nak Fahri, dan kami berharap semoga kalian berdua berjodoh ya."


Sama halnya dengan ummi Fatimah, ummi Salamah juga terlihat sangat antusias dengan perjodohan ini.

__ADS_1


Menurut pengakuan ummi Salamah, beliau tidak ingin proses taaruf berjalan lama, jika sudah sama sama suka maka segera saja menikah, kalau perlu bulan depan sudah langsung menikah saja dengan semua persiapan pernikahan akan diurusnya.


'Bulan Depan?' batin Zahra berteriak.


Hati Zahra menolak, ia semakin hancur dan terasa sangat terluka, bagaimana mungkin perkara menikah dibuat terlalu 'sat set, sat set' seperti tidak berarti saja.


Zahra bukan sendal yang dipasangkan dengan sembarangan saja, Zahra bukan barang yang diperjual belikan sesuka hati.


Zahra manusia, punya hati dan perasaan, punya rencana masa depan yang sudah tertata rapi dalam otaknya, apalagi ini adalah perkara ibadah seumur hidup, tentu saja Zahra tidak ingin salah memilih pasangan karena bagi seorang wanita memilih calon suami adalah memilih masa depannya, menentukan surga dan nerakanya. Zahra juga sangat ingin sekali menikah, tetapi kedok ustadz yang disandang oleh ustadz Fahri juga belum menjamin ia akan menerima perjodohan ini, karena ia punya kriteria sendiri untuk calon pasangannya.


"Bagaimana, Zahra? Apakah Abi dan Ummi bisa menunggu jawaban darimu seminggu dari sekarang?" ucap kyai Abidin.


Ustadz Fahri sepertinya sudah menyerah dan pasrah saja dengan apa yang menjadi keinginan orang tuanya, tapi tidak dengan Zahra, ia seperti didesak untuk menjawab pertanyaan yang sudah jelas tidak jawabannya.


"Nak, pikirkanlah terlebih dahulu dengan kepala dingin, sholat istikharah, minta petunjuk kepada Allah," bisik ummi Fatimah di telinga Zahra.


Zahra dilema dan tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang selain diam, walaupun sebenarnya ia ingin segera berlari keluar dari rumah dan berteriak sangat keras kalau ia menolak perjodohan ini.


"Nak, apakah kamu bersedia?" tanya abi Abdullah.


Zahra tidak bergeming, walaupun mulutnya ingin berteriak tapi mulut itu tetap tidak bereaksi sama sekali.


"Diamnya seorang wanita pertanda setuju," ungkap ummi Fatimah.


Saat ini mulut Zahra seperti dijahit, jangankan untuk menolak, bahkan lidah itu terasa sangat kelu dan tidak bisa berkata apa-apa selain menerima dalam diamnya.

__ADS_1


"Baiklah, karena kedua belah pihak telah setuju, kalau begitu kami pamit undur diri."


Ustadz Fahri dan keluarganya berpamitan pulang dengan senyum indah yang tergambar di wajah mereka, tapi tidak dengan Zahra, rasa dongkol dan kesal membuat gadis cantik itu murka.


Zahra bahkan tidak mengantarkan tamu yang datang sampai di depan pintu, tapi lebih memilih diam, duduk di kursi seperti patung hingga sang tamu meninggalkan rumah kami.


"Zahra, Abi dan Ummi ingin berbicara, Nak," ucap abi Abdullah dengan nada suara lembut.


"Nak, Abi dan Ummi sudah tidak muda lagi, kami ingin sekali melihatmu menikah dan kami rasa Ustadz Fahri adalah lelaki yang tepat untuk mendampingi mu."


Sebuah harapan dari orang tua yang menginginkan anak perempuannya berumah tangga membuat hati Zahra seperti teriris sembilu. Ia sangat paham, bahkan lebih dari kedua orang tuanya, ia juga sangat ingin sekali menikah dan berumah tangga, tapi apa daya tidak semua keinginan bisa sesuai dengan harapannya.


"Nak, terima ya niat baik Ustadz Fahri," ucap ummi Fatimah dengan penuh harap.


"Terserah Ummi saja!"


Tanpa sopan santun, Zahra langsung bangkit dari tempat duduknya, memasang wajah masam dengan sejuta amarah yang ia bawa bersamanya.


Zahra berjalan cepat dan membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia mengurung diri di kamar dan tidak ingin menemui siapapun, ia hanya ingin tidur dan memejamkan matanya agar ia bisa melupakan kejadian hari ini, tapi semakin ia menutup mata semakin mata ini tidak ingin dipejamkan. Bahkan sampai satu minggu berlalu Zahra terlihat seperti mayat hidup, antara hidup segan, mati tidak mau. Hari-harinya terasa sangat hampa dan tidak berdaya, bahkan ketika berada di kantor pun ia tidak berkonsentrasi sama sekali.


[Jelek, jalan yuk!]


Pesan singkat dari Alex tidak ia pedulikan.


Pandangan Zahra tertuju pada langit yang terlihat mendung, seolah hujan lebat akan turun mengguyur bumi.

__ADS_1


'Apakah langit mengerti perasaanku?' ucap Zahra di dalam hati seolah ingin ada yang mendukungnya meski hanya langit.


__ADS_2