Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Stres Berat


__ADS_3

Entah dendam apa yang disimpan ummi Fatimah untuk Alex, namun beliau selalu mengaitkan semua hal yang terjadi pada sang putri dengan lelaki yang bernama Alex, sahabat putrinya itu.


Bagi ummi Fatimah ustadz Fahri seperti malaikat baik yang bersih tanpa noda, sedangkan Alex adalah lelaki hina yang tidak pernah ada kebaikan sedikitpun di mata beliau.


"Ummi, kenapa teriak-teriak, yuk kita keluar!"


Abi Abdullah meminta ummi Fatimah untuk keluar dari kamar sang putri agar tidak terjadi perang dunia ketiga antara sang putri dan istrinya, dengan beralasan kalau menantu kesayangan mereka saat ini tengah menunggu lama di ruang tamu.


"Bi, anak kamu benar-benar sudah berubah drastis," oceh ummi Fatimah yang membuat air mata lagi dan lagi jatuh membasahi pipi Zahra.


Hati Zahra terus merasa kalau ummi tidak sayang kepadanya, bahkan anggapan kalau ia bukan anak kandung ummi semakin menguatkan keyakinannya.


"Mi, ayo keluar!" ucap abi Abdullah sembari menggandeng tangan ummi Fatimah untuk keluar dari kamar sang putri.


Sungguh, rasanya ingin sekali Zahra kabur dan keluar dari rumah itu, dari pada setiap harinya aku terus-terusan menanggung perasaan yang membuat gadis itu harus membenci ibunya sendiri.


Zahra sangat tahu dan sangat paham sekali kalau dalam agama islam melawan kepada orang tua adalah dosa besar karena restu Allah ada pada restu kedua orang tua dan murka Allah ada pada murka orang tua.


"Abi, lepaskan Ummi, sakit!" teriak sang ibu berusaha melepaskan dirinya dari tangan sang suami yang menggenggam tangannya.


Zahra sebenarnya juga merasa merasa sangat takut jika kesalahan dan hidup yang ia jalani tanpa restu orang tua membuat hidup itu tidak berkah, tentram dan damai, tapi bukan berarti kedua orang tuanya harus memaksakan kehendak yang membuat ia tidak punya hak atas dirinya sendiri, karena bagaimana pun juga ia punya hak untuk memilih dan menjalani segala sesuatu berdasarkan keinginan hatinya


Ya, bagaimanapun juga Zahra harus bergerak cepat sekarang, ia tidak boleh lengah karena ini menyangkut masa depannya.

__ADS_1


Zahra menghapus air mata yang mengalir di pipinya, ia bangkit dari pembaringannya, dan walaupun berat kaki itu tetap berusaha melangkah menuju cermin yang terletak dekat jendela kamarnya.


Zahra membuka jendela itu sembari menatap langit biru yang dihiasi awan putih. Matahari bersinar sangat cerah dan memancarkan pesonanya, mengingatkan Zahra pada Alex, matahari yang menerangi hari-harinya selama beberapa tahun ini.


Huft ...


Zahra menarik nafas panjang beberapa kali, kemudian ia duduk di meja hiasnya sembari menatap wajah pucatnya di cermin. Perlahan Zahra buka hijab sorong yang ia kenakan untuk melihat hasil dari eksperimennya sebelumnya.


Pipi tembem Zahra kini terlihat cekung, matanya terbelalak dengan wajah kusam yang terlihat pucat. Rambut yang ia potong sembarangan terlihat acak-acakan sehingga membuat Zahra terlihat seperti wanita gila.


Zahra adalah wanita yang sangat memperhatikan penampilan, menjaga selalu wajah dan tubuhnya agar terlihat cantik dan menarik karena bagi Zahra penampilan adalah hal nomor satu dan terpenting bagi seorang wanita. Namun, kini wajah dan tubuh Zahra sangat jauh dari kata menarik, bahkan ia terlihat sangat berantakan dan jelek. Ya, jika seperti ini sudah dipastikan tidak ada seorangpun lelaki yang ingin menjadi pendamping hidup Zahra.


"Zahra, kamu harus tahu kalau Mas sangat peduli sama kamu, jadi apapun yang terjadi bahkan jika Mas tidak ada di sampingmu lagi maka kamu harus tetap bersemangat melanjutkan hidupmu," ucap Alex yang selalu terngiang-ngiang di dalam benak si gadis cantik yang kini sedang hilang arah itu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Zahra lemah sembari menatap wajah kusutnya di cermin.


Zahra ingin memberikan semangat kepada dirinya sendiri, ia juga ingin bangkit dan tidak terus-terusan merasa terpuruk dan jatuh, tapi sekuat apapun ia berpikir sekarang, tetap saja ia tidak punya solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah perjodohannya dengan ustadz Fahri.


Kring ..., kring ..., kring ....


Ponsel Zahra tiba-tiba berdering beberapa kali, namun tangan ingin terlalu enggan untuk mengangkatnya karena ia sangat yakin kalau orang kantor atau si ustadz Fahri yang menghubunginya. Tapi ponsel Zahra terus saja berdering hingga membuat wanita itu merasa sangat kesal sekali.


"Siapa sih yang ganggu?" ungkap Zahra mengomel dengan amarah yang semakin memuncak.

__ADS_1


Zahra mengacak-acak rambutnya hingga terlihat semakin berantakan, namun ponsel itu terus saja berbunyi hingga membuat ia ingin membantingnya.


Bruk ...!


Ponsel yang selama ini menjadi satu-satunya teman saat sang gadis kesepian atau saat ia tidak punya teman bicara akhirnya ia banting ke dinding hingga benda pipih itu menjadi pecahan-pecahan yang hancur berserakan di lantai.


Zahra muak! ia benci pada dirinya sendiri dan semuanya.


"Tuhan, kenapa Engkau menyiksaku seperti ini?" ucap Zahra dengan teriakan keras sembari menatap ke arah langit.


Hati Zahra benar-benar marah dan kecewa dengan semua yang terjadi pada dirinya, termasuk takdir hidup yang tidak bisa ia terima lagi.


Zahra mulai benci dan marah kepada takdir yang Tuhan berikan, ia bahkan telah berdoa dengan khusuk dan maksimal, ia juga melakukan semua hal-hal baik, berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, tapi ternyata hidup Zahra semakin menderita sekarang.


"Tuhan ..., kenapa tidak Engkau cabut saja nyawaku?"


Setelah lebih dari seperempat abad hidup, ini kali pertamanya Zahra merasa kecewa dan marah kepada Tuhan. Zahra kecewa pada takdir dan jalan hidup yang Tuhan berikan kepadanya, ia merasa sudah tidak kuat dan tidak sanggup lagi menjalani hidup ini. Jika memang Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya, kenapa Zahra diberikan cobaan yang sangat berat sehingga ia tidak sanggup lagi untuk memikulnya.


Zahra juga tahu dan sangat paham kalau ia pernah melakukan kesalahan dan dosa di masa lalu, bahkan dosa itu sebanyak buih di lautan, tapi Zahra telah bertaubat dan berubah menjadi manusia yang lebih baik sekarang, namun kenapa disaat ia telah berubah menjadi lebih baik, Tuhan malah semakin membuatnya tersiksa. Zahra merasa seperti terhimpit oleh beban berat hingga tubuh ini seolah hancur tertimpa pula.


Rasanya hidup ini benar-benar sangat berat hingga Zahra merasa tidak sanggup lagi menjalaninya.


"Ih ..., muak ...!"

__ADS_1


__ADS_2