
Namun, waktu berjalan begitu cepat, enam bulan setelah wisuda, calon suami Zahra masih belum mendapatkan pekerjaan, hingga sang kekasih memutuskan untuk merantau keluar kota dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan dan secepatnya bisa menikah dengan wanita pujaan hatinya.
Dengan doa dan kepercayaan penuh, Zahra akhirnya melepaskan kepergian kekasihnya itu dengan harapan beberapa bulan yang akan datang sang kekasih akan kembali datang menjemput Zahra sebagai istrinya, belahan jiwa yang akan menemani hari-harinya seumur hidup. Namun, rencana Zahra ternyata tidak berjalan sebagaimana harapannya, karena ternyata dunia luar membuat sang kekasih lupa kalau ia telah memilih Zahra.
Lelaki itu berselingkuh dan menjalin hubungan dengan wanita lain yang kurasa tidak lebih cantik dari Zahra, bahkan pendidikannya juga tidak lebih bagus dari Zahra. Namun, satu yang Zahra sadari kalau ia tidak lebih seksi dari wanita itu. Ya, Zahra tidak memiliki badan yang montok, sangat tidak seksi dan jauh sekali dari kata seksi.
Ternyata semua lelaki sama saja, mereka suka dengan wanita cantik yang bermanja-manja dengannya, hingga lupa dengan adat, sopan-santun dan agama yang mengatur antara hubungan pria dan wanita. Ya, wanita dan wanita yang bukan mukhrim dan belum halal sangat dianjurkan untuk tidak terlalu dekat karena Allah meminta hamba-Nya untuk tidak mendekati zina. Ya, walaupun Zahra masih berdalih kalau kedekatannya denhan Alex adalah sebatas hubungan kakak adik, padahal keduanya bukan mukhrim dan tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Zahra selalu beranggapan kalau Alex adalah lelaki baik yang berbeda dengan lelaki lain yang pernah ia kenap sebelumnya, tapi sikap dan tingkah laku yang Alex unjukkan telah mematahkan rasa percaya Zahra untuk makhluk yang bernama laki-laki.
"Apa yang dikatakan Ummi benar, kalau Alex bukanlah lelaki baik," ucap Zahra dalam isak tangisan.
Zahra akhirnya yakin dan percaya kalau tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia, tidak ada juga orang tua yang ingin memaksakan sesuatu kepada sang anak jika itu akan melukai anaknya. Hanya saja, sang anak yang tidak bisa menilai niat baik dari orang tuanya.
__ADS_1
Rasa penyesalan menghantui hati dan perasaan Zahra, hingga dirinya memilih untuk mengeluarkan semua sesak di dadanya lewat tangisan dan air mata kesedihan yang sedadi tadi tidak henti-hentinya tercurahkan.
Zahra ingin setelah ini tidak ada lagi air mata yang ia jatuhkan untuk lelaki yang bernama laki-laki, karena hidupnya terlalu bahagia untuk ia sia-siakan.
Perlahan kaki itu akhirnya Zahra langkahkan dengan pelan menuju musala yang ada di kompleks kantornya. Ya, walaupun rasanya kaki itu terasa berat dan seperti tidak sanggup untuk melangkah lagi, bahkan rasanya seperti terombang-ambing, tapi Zahra memilih untuk tetap melangkah maju. Ia ingin menemui Tuhan sang pencipta, mengadu dan mempertanyakan banyak hal yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.
Walaupun hati Zahra mulai tidak sanggup menjalani semua cobaan berat dalam hidupnya, namun iman di hati Zahra menuntunnya menuju rumah Allah.
Zahra pernah kecewa kepada Tuhan karena takdir hidup yang terlalu berat yang sedang ia jalani sekarang, tapi hati nuraninya tetap tidak bisa memungkiri kalau hanya Tuhan yang bisa menolongnya dalam segala situasi dan kondisi.
Ya, Zahra bersujud menghadap sang pencipta dalam keadaan lemah dan berputus asa. Berusaha untuk pasrah dan menerima semua yang digariskan dengan lapang dada sembari menengadahkan tangan dan berharap kepada yang Maha Kuasa untuk memberikan keikhlasan dan rida atas semua ketetapan-Nya.
'Ya Allah, Ya Tuhanku, aku tahu kalau aku adalah makhluk yang penuh dengan dosa, bahkan dosaku di masa lalu mungkin saja sebanyak pasir di pantai. Namun, aku percaya dengan rahmat-Mu, aku bertobat dan selalu berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Tapi semua yang terjadi tidak lagi berjalan sesuai dengan keinginanku, hingga aku merasa mulai tidak sanggup lagi menjalani kehidupan ini,' ucap Zahra di dalam hati dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi ini.
__ADS_1
Zahra percaya jika Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya, tapi saat ini diri Zahra sudah merasa sudah tidak sanggup lagi memikul beban berat ini, hingga ia meminta kepada sang pencipta untuk mencabut semua rasa sakit yang ia rasakan agar ia mulai terbiasa dengan keadaan.
Zahra memilih untuk menerima dan tidak lagi mengeluhkan apa-apa, bahkan diri itu juga terpikirkan untuk hidup sendiri di dunia ini. Ya, memang benar jika menikah itu menyempurnakan separuh dari agama seseorang, tapi jika jodoh seseorang tidak diberikan Allah di dunia maka ia harus menerimanya karena Maryam saja wanita mulia tidak memiliki jodoh di dunia, akan tetapi beliau tetap salah satu wanita terbaik penghuni surga yang mungkin saja akan mendapatkan jodoh terbaik pilihan Allah.
Namun, apakah Zahra bisa seperti bunda Maryam?
Entahlah, Zahra hanya wanita akhir zaman yang berusaha menjalani hidup untuk senantiasa berbuat baik. Ya, walaupun terkadang dalam perjalanan panjang itu Zahra menemukan jalan terjal dan kerikil tajam yang melukainya, tapi ia tetap akan bertahan pada prinsipnya, kalau ia tidak akan pernah berhenti berjuang menemukan cinta sejatinya, dan jika ia tidak mendapatkannya di dunia mungkin saja Allah akan memberikannya di surga kelak hingga Zahra nantinya akan mendapatkan kebahagiaan sejati di surga. Namun, perjalanan menuju surga juga tidak mudah, banyak ujian dan cobaan yang harus Zahra lewati agar diri ini pantas menjadi penghuni surga. Ya, tidak ada kebahagiaan yang di dapatkan dengan mudah karena Allah pelu menguji hamba-hamba-Nya yang pantas menjadi penghuni surga.
'Tuhan, jika memang jodohku tidak ada di dunia ini, maka hapuslah hasrat dan rasaku kepada lelaki. Jangan biarkan aku memiliki perasaan yang tidak semestinya yang membuatku harus terjebak dalam kemaksiatan.'
Ya, Zahra telah pasrah dengan jalan hidup yang Tuhan berikan. Ia juga memilih jalan yang paling dekat dengan Tuhan karena Zahra percaya kalau ada doa kedua orang tuanya yang menjadi wakil Tuhan di dunia.
"Assalamualaikum, Zahar," sapa salah seorang jemaah di musala yang datang menyapanya dengan senyum sumringah yang terlihat indah di wajah.
__ADS_1
Zahra menolah dengan pelan sembari menatap wajah sang wanita dengan seksama.
"Zahra, bolehkan kita ngobrol sebentar?"