Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Batin Menolak


__ADS_3

Dilema hati membuat Zahra tidak mampu melakukan apa-apa selain pasrah dengan ketetapan-Nya, karena segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia sudah diatur oleh Allah di lauh mahfudz beratus-ratus tahun sebelum manusia terlahir ke dunia.


Huft ...


Zahra menarik nafas panjang, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki ia bangkit dari pembaringannya. Zahra menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya. Zahra masih memiliki waktu dan kesempatan untuk merubah takdir hidupnya dan salah satu cara terbaik yang bisa ia lakukan adalah dengan merayu Tuhan lewat jalur langit. Ya, jika manusia sudah tidak lagi bisa melakukan sesuatu, maka jalani dan pasrahkan saja kepada sang pencipta, karena jika memang apa yang terjadi dalam kehidupannya sekarang adalah takdir terbaik untuknya, maka hati ini akan lapang dan ikhlas untuk menerimanya, namun jika apa yang terjadi sekarang hanya ujian untuk menaikkan level keimanannya dihadapan Tuhan Yang Maha Pencipta. Ya, maka Tuhan akan memberikan kejutan yang tidak ia sangka-sangka nantinya.


"Apa yang harus hamba lakukan sekarang, Tuhan?"


Beruntungnya Zahra, karena pertunanganan ini dilangsungkan secara adat, jadi hanya keluarga dari kedua belah pihak saja yang datang untuk saling bertukar cincin, hingga ini menjadi kesempatan baginya untuk mengadu kepada Rabb-nya, setidaknya jalur langit adalah salah satu jalan terbaik yang bisa ia usahakan untuk mengubah takdir hidupnya dengan cara merayu Tuhan dalam doa dan air mata.


Zarha kini menggelar sajadahnya, membawa semua beban dan permasalahan yang ia tanggung dalam sujudnya, mengadu dan memohon kepada sang pencipta agar Tuhan menolongnya dengan penuh harapan.


Samar terdengar kedua belah pihak keluarga tengah menentukan tanggal baik untuk pernikahan Zahra dan ustadz Fahri. Bahkan kedua belah pihak terkesan tergesa-gesa dan tidak ingin menunggu terlalu lama, seolah tidak ada lagi waktu untuk melangsungkan pernikahan.


'Sebulan lagi? Secepat itukah?' batin Zahra semakin teriris dan terasa sangat sakit.


Zahra tidak bisa membayangkan akan menikah sebulan lagi dengan lelaki yang tidak ia kenal, hingga air mata terus mengalir menggenangi pipi bulatnya, air mata ini jatuh bersama hujan yang mengguyur bumi, seolah langit ikut menangis bersamanya. Sungguh, Zahra merasa lemah dan tidak berdaya. Namun, ia percaya Tuhan mendengar doanya hingga akhirnya secara adat pernikahan akhirnya disepakati dan direncanakan terjadi enam bulan lagi, tepatnya setelah lebaran idul adha.


'Alhamdulillah,' batin Zahra.


Leganya hati itu membuat Zahra tidak hentinya mengucap syukur, setidaknya ia masih punya kesempatan selama seratus delapan puluh hari lagi untuk menjernihkan pikirannya, entah untuk membatalkan atau untuk melanjutkan sesuatu yang telah direncanakan.


Kring ..., Kring ..., Kring ....


Suara ponsel Zahra berbunyi dan dengan bergegas ia langsung mengambil ponsel itu.


[Assalamualaikum, Zahra]


Sapaan halus dan lembut yang dikirimkan oleh ustadz Fahri lewat pesan singkat terbaca di notif ponsel Zahra. Pesan dari seseorang yang tidak ia inginkan, pesan yang membuat seluruh tubuh Zahra terasa lemah dan tidak bersemangat.

__ADS_1


Zahra tidak ingin membaca pesan itu dan ia ingin mengabaikannya saja, karena berbicara dengan lelaki itu membuat ia muak hingga emosinya meningkat, ia bahkan ingin melemparkan ponselnya ke dinding dan mengganti dengan nomor baru agar ia tidak berkomunikasi lagi dengan lelaki itu.


Kring ..., Kring ..., Kring ....


Lagi dan lagi ponsel Zahra berbunyi dan kali ini ia sudah sangat malas untuk melihatnya. Namun ponsel itu terus berdering beberapa kali hingga membuat Zahra muak.


"Apa sih maunya, kenapa mengganggu saja sih!" ungkap Zahra kesal.


Zahra mengira kalau ustadz Fahri yang menghubunginya, tapi setelah melihat layar ponsel, Zahra langsung bergegas mengangkatnya, malaikat baiknya datang disaat ia membutuhkannya.


[Assalamualaikum, Alex]


Sapa Zahra dengan nada suara parau.


[Ara, apa kamu menangis?]


Tetesan air mata yang tadi sudah ia bendung akhirnya kembali tercurahkan bersama lebatnya hujan. Entah mengapa, suara Alex malah membuat Zahra semakin ingin menangis sejadi-jadinya. Zahra ingin mengadu dan mencurahkan semua beban yang tengah ia tanggung kepada lelaki itu. Ia ingin bersandar di bahu Alex dan ia ingin Alex membantunya keluar dari masalah hidupnya. Namun, Alex hanya seorang sahabat, teman dan malaikat yang mengayominya, dia bukan kekasih Zahra, jadi tidak seharusnya Zahra melibatkan Alex dalam masalah yang sedang dihadapinya.


Terdengar dari seberang sana rasa khawatir, sebuah sikap yang selalu ditunjukkan Alex ketika Zahra menangis. Ya, di balik tegar dan kuatnya diri Zahra dihadapan orang lain, di balik senyum manis yang terlihat selalu ceria, Zahra malah selalu menangis di depan Alex. Sungguh, gadis itu terlihat begitu lemah dihadapan Alex.


[Apa aku ke rumahmu saja sekarang?]


Alex adalah lelaki yang tidak tega mendengar isak tangis si gadis cantik. Ia adalah lelaki yang tidak akan sanggup melihat setetes pun air mata jatuh menggenangi pipi Zahra. Jiwanya tidak akan tenang sebelum mendengarkan apa yang membuatnya menangis.


[Ara, tolong jawab aku!]


Ya, setelah beberapa kali bertanya, Alex tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Zahra, lelaki itu langsung melakukan panggilan video call kepadanya, namun kali ini Zahra tidak bisa mengangkatnya karena ia tidak ingin terlihat memalukan dihadapan Alex.


[Alex, aku telah bertunangan dan aku akan menikah dengan lelaki itu]

__ADS_1


Hanya itu kata-kata yang bisa Zahra katakan kepada Alex saat ini lewat pesan singkat, karena ia belum sanggup untuk berbicara langsung atau bertatap muka dengan lelaki tampan yang tidak lain sahabatnya itu.


[Bertunangan? Dengan Ustadz itu?]


[Hmmm]


[Selamat Zahra, akhirnya kamu akan menjadi istri orang, istri dari lelaki yang baik ilmu agamanya, seperti yang kamu inginkan selama ini]


[Terima kasih, Alex]


[Jadi kapan kalian akan menikah?]


[Enam bulan lagi]


[Enam bulan lagi? Jadi rencana kita untuk liburan ke Yogyakarta bersama bagaimana? Gagal?]


[Bolehkah aku meminta waktumu seratus delapan puluh hari dari sekarang?]


Tok ..., Tok ..., Tok ...


"Ara, kamu sudah siap, Nak? Ummi dan Abi ingin bertemu denganmu sebelum pulang," ucap ummi Fatimah dari balik kamar Zahra.


Dengan bergegas Zahra melempar ponselnya sebelum mendapatkan jawaban dari Alex. Zahra pura-pura menutup mata dan tidak mendengar panggilan dari orang tuanya.


'Maafkan, Ara, Ummi.'


Ada rasa bersalah di dalam hati Zahra, karena ia telah menolak menemui calon mertuanya.


"Maaf, Abi, Ummi, sepertinya Zahra sudah tidur, mungkin ia terlalu lelah karena seharian bekerja." Ucapan yang keluar dari lisan ummi Fatimah itu terdengar samar di telinga Zahra.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu, Ummi Fatimah, Abi Abdullah. Tapi tolong berikan cincin ini dan pasangkanlah cincin ini di jari manis Zahra sebagai tanda kalau ia telah bertunangan dan terikat dengan Fahri," ucap ummi Salamah.


__ADS_2