Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Rasa Yang Tidak Diakui


__ADS_3

Zahra diam sembari menundukkan wajahnya, bagaimana caranya diri itu untuk bangkit sementara tubuh itu terasa sangat lemah dan tidak sanggup untuk berdiri.


"Zahra, apakah kamu benar-benar tidak bisa berdiri?"


Alex mulai panik, dari wajahnya juga tergambar jelas sebuah penyesalan karena telah memarahi dan membentak gadis cantik itu, terlebih lagi Zahra tidak melakukan kesalahan apa-apa kepadanya, hanya saja Alex merasa kalau Zahra sedang menipunya dengan sebuah lelucon.


"Zahra, maaf!"


Alex berdiri tegap, tanpa basa-basi ia berdiri dan membawa Zahra ke dalam pelukannya. Ya, lebih tepatnya ia menggendong tubuh mungil Zahra seolah tanpa beban.


"Alex, apa yang kamu laku-,"


Belum selesai Zahra melanjutkan ucapannya, Alex sudah memotongnya.


"Zahra, sudah, jangan banyak bicara!"


Zahra terdiam, pasrah, karena mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menurut kepada Alex.


Zahra melingkarkan kedua tangannya di leher Alex sembari terus menatap wajah tampan lelaki yang ada di depannya itu, sementara Alex hanya terus melangkah maju tanpa menatap gadis cantik itu sedikitpun.


"Zahra, kita ke rumah sakit ya, sepertinya kamu terkilir," ujar Alex dengan mata yang terus menatap jalan ke depan hingga membuat keduanya menjadi kikuk.


"I-iya."


Zahra memalingkan wajahnya dari Alex ketika matanya dan mata Alex saling bertemu untuk sesaat.


Dak, dik, duk ...


Jantung Zahra berdebar luar biasa, seolah ada kelinci-kelinci kecil yang terperangkap hingga melompat-lompat di sana.


"Udah ah, jangan grogi, biasa aja!"


Alex benar-benar sangat ahli membuat Zahra salah tingkah hingga merasa rendah.


"Iih, apaan sih!"


Satu tangan Zahra meninju dada Alex yang bidang, seolah tenaganya yang tersisa ia gunakan untuk melampiaskan kekesalannya kepada lelaki tampan yang membantunya.


"Aw, sakit, Zahra!"


Zahra seperti manusia yang tidak tahu terima kasih, seperti anak ular, sudah ditolong malah menggigit.

__ADS_1


"Kalau mau bantuin ya bantuin aja, jangan banyak gaya," ungkap Zahra dengan nada suara tinggi.


Zahra kesal dan tidak suka dengan sikap Alex kepadanya, walaupun sejujurnya sikap kasar Zahra ini karena salah tingkahnya terhadap Alex.


"Sekarang duduk cantik ya!"


Alex membaringkan Zahra di mobilnya, memperlakukan Zahra dengan sangat baik penuh dengan kasih sayang.


Hubungan Zahra dan Alex memang tidak lebih dari sebatas sahabat, namun Zahra merasakan kasih sayang dan cinta yang tulus dari perlakuan Alex kepadanya, sikap manis yang membuat Zahra merasa sangat nyaman sekali.


Sudah lama sekali diri ini membatasi dekat dengan lelaki, karena rasa sakit dan trauma di masa lalu membuat Zahra tidak ingin lagi menggantungkan harapan kepada manusia, tapi entah mengapa dengan Alex diri ini selalu bergantung, Zahra selalu bersikap manja kepadanya, mengganggunya dengan ocehan-ocehan receh yang sebenarnya tidak penting, bahkan Zahra hanya ingin berbagi suka dan dukanya dengan Alex, lantas sehari saja tidak ada kabar dari Alex membuat Zahra menjadi gila. Zahra dan ia seperti sendal, tidak sama tapi saling melengkapi.


"Tunggu disini!"


Alek kemudian menutup pintu mobilnya setelah itu ia menyelamatkan sepeda motor Zahra yang juga sudah mencium aspal. Zahra melihat Alex tengah menyelamatkan motornya dan membawa motor itu ke tepi jalan. Lelaki itu menitipkan motor Zahra di salah satu rumah masyarakat.


Alex kemudian berlari menghampiri Zahra lagi, membuka pintu mobil dengan gaya yang terlihat sangat cool, sungguh terlihat sangat tampan dan menawan.


Zahra terus memperhatikan lelaki tampan yang kini duduk disampingnya itu. Sungguh, fokus dan kekhawatiran bercampur aduk di wajahnya, hingga suasana hening pun tercipta untuk beberapa saat.


"Ara, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu ugal-ugalan di jalan?" tanya Alex di sela-sela perjalanan mereka menuju rumah sakit.


Dengan santainya Zahra berbicara singkat, sesuka hatinya saja, karena sejujurnya Zahra tidak lagi memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya yang sudah tidak lagi berharga.


"Zahra, siapakah lelaki itu?"


Alex menghentikan mobilnya secara mendadak, hingga membuat Zahra terkejut. Untung saja jantungnya tidak copot karena gerakan tiba-tiba itu.


"Apa-apain sih, Lex!"


Zahra membentak Alex sembari membelalakkan matanya kepada lelaki tampan itu.


Huft ...


Alex menarik nafas panjang, kemudian memasang wajah serius kepada Zahra. Wajah Alex terlihat menakutkan seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.


"Kapan?"


Zahra sangat tahu kalau pertanyaan Alex tertuju pada waktu pernikahannya, namun sebagian hatinya juga merasa kalau Alex juga merelakan ia menikah dengan lelaki lain.


"Enam bulan lagi, setelah lebaran idul adha."

__ADS_1


Jawaban singkat sembari menunduk, memasang wajah sedih karena membahas pernikahan yang tidak diinginkan membuat hidup Zahra tidak bersemangat.


"Selamat, akhirnya kamu mendapatkan lelaki saleh seperti yang kamu inginkan, tidak seperti aku yang ilmu agamanya sangat dangkal."


Kini giliran Alex yang memasang wajah sedih. Entah apa maksud dari perkataan dan sikap yang lelaki itu tunjukkan. Alex bahkan memberikan selamat namun membandingkan dirinya dengan tunangan yang tidak Zahra inginkan.


"Aku masih punya 180 hari lagi, bagaimana dengan rencana liburan kita ke Yogyakarta?" tanya Zahra dengan pandangan yang tidak terlepas dari menatap Alex.


"Kita tetap akan berangkat," balas Alex datar, tapi terdengar sangat serius.


"Berangkat?"


Zahra mengangkat kedua bahunya, sebagai bentuk ekspresi ketidakyakinannya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya, kita akan pergi seperti rencana sebelumnya," ucap Alex dengan nada yang sangat meyakinkan.


"Bisakah kita perginya dua bulan sebelum pernikahanku?" pinta Zahra.


"Kenapa?"


Alex mulai menatap mata Zahra, bertanya tentang alasan gadis itu.


"Karena aku akan dipingit jika telah mendekati hari H."


Zahra dan Alex memang pernah merencanakan jalan-jalan ke Yogyakarta karena ia sangat penasaran dengan tempat kuliah dan kehidupan masa muda Alex selama di Yogyakarta. Namun, rencana mereka belum terealisasi karena keduanya masih sama-sama sibuk dan belum punya jadwal yang pas untuk pergi bersama.


"Jika memang akan dipingit, pergilah dengan calon suamimu saja!"


Wajah Alex memerah, nada suaranya meninggi. Ia menyetir kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti seorang pembalap dengan pandangan lurus ke depan, seolah sedang melampiaskan emosinya.


"Alex, pelan-pelan, aku belum ingin mati!"


Zahra menghardik Alex, namun lelaki tampan itu sama sekali tidak mempedulikannya, ia tetap melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sungguh, sikap Zahra memang sangat aneh, ia baru saja mengatakan tidak ingin lagi hidup, namun semua berubah saat Alex mulai bertingkah tidak biasa.


"Alex, apa kamu cemburu?"


Zahra menatap wajah Arya dengan seksama, lelaki tampan itu terlihat salah tingkah dengan wajah memerah yang tertunduk. Alex adalah lelaki cuek yang tidak akan pernah mengungkapkan bagaimana perasaannya, tapi kali ini jelas ketara kalau saat ini Alex sedang menunjukkan sikap berbeda dari biasanya.


"Alex, kamu tidak cemburu 'kan?

__ADS_1


__ADS_2