
Zahra merasa seperti orang asing dan bukan anak kandung ibunya, karena Zahra sangat yakin dan percaya kalau tidak ada orang tua yang memperlakukan anaknya dengan buruk dan kasar bahkan sampai memaksakan kehendak sendiri tanpa peduli dengan kebahagiaan anaknya.
"Suster, tolong bantu anak ini duduk di kursi roda dan tolong bawa sampai ke parkiran ya!" pinta ummi Fatimah kepada suster yang datang membawa kursi roda tanpa menjawab apa yang Zahra pertanyakan kepada beliau. Zahra seperti debu yang tidak dianggap sama sekali, yang diterbangkan oleh angin disaat angin kencang menerpa.
"Nona, mari saya bantu," ucap sang suster sembari menggenggam tangan Zahra.
"Saya tidak ingin pulang, tolong jangan sentuh saya!"
Zahra berontak, ia tidak terima jika hidupnya diatur dan diperlakukan seolah ia tidak memiliki hak atas hidupnya sendiri. Zahra sudah dewasa, bahkan usianya hampir kepala tiga, harusnya ia bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik atau tidak untuknya, bukan malah menjadi boneka bagi ibunya.
"Zahra, jangan membantah!" ucap ummi Fatimah dengan mata besar, melotot kepada sang putri.
"Ummi tega ya, sebenarnya Zahra anak Ummi atau bukan sih?" tanya Zahra dengan suara lantang dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Plak!
Lagi dan lagi sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zahra, luapan emosi akibat tumpahan kata-kata yang keluar dari lisannya membuat ummi Fatimah juga tidak sanggup menahan amarah di hatinya.
"Suster, tolong bantu saya mendorong kursi roda anak itu sampai ke parkiran, saya sudah muak melihat tingkah manja dan kekanak-kanakannya!" ucap ummi Fatimah dengan nada suara datar namun menahan emosi.
__ADS_1
Ummi Fatimah keluar dari kamar rawat inap Zahra dengan langkah kaki cepat dan tanpa menatap putrinya sedikitpun, seolah kemarahan dan kekecewaan membaur menjadi satu.
Ada rasa sedih dan menyesal di dalam diri Zahra. Ia merasa berdosa karena telah lancang dan durhaka kepada orang tuanya. Bahkan rasanya teramat sangat sakit ketika ibunya pergi tanpa menatapnya sedikitpun. Dunia Zahra seolah hancur, ia benar-benar tidak punya lagi tiang yang menopang hidupnya.
"Nona, kita jalan ya!" ucap sang suster yang membantu mendorong kursi roda Zahra. Namun, sang gadis cantik yang masih lemah itu hanya diam dalam kebisuan dengan tatapan kosong lurus ke depan, bahkan air mata terus jatuh membanjiri pipinya, seperti air hujan.
"Suster, Suster, tunggu!"
Zahra mendengar suara ayahnya, namun kesedihan ini membuat Zahra enggan untuk membalikkan wajahnya untuk menatap ke sumber suara. Zahra seperti patang yang tidak memiliki nyawa, bahkan ia seperti mayat hidup dimana hidup segan mati tidak mau.
"Iya, Tuan," balas sang suster sembari menghentikan jalan kursi rodanya.
"Suster, ini adalah putri saya, biar saya saja yang membawa putri saya pulang," ucap sang ayah yang terdengar sangat ramah dan sopan sekali.
"Nak, kita pulang ya!" ucap sang ayah dengan senyum mengembang yang tergambar jelas di wajah beliau yang telah keriput dan menua.
Abi Abdullah adalah ayah terbaik yang Zahra miliki di dunia ini, beliau tegas dalam mendidik putrinya, namun beliau memiliki cinta dan kasih sayang yang sangat luar biasa kepada Zahra. Tidak heran jika Zahra mencari calon suami dengan sifat-sifat seperti ayahnya. Tidak salah memang, jika pepatah lama mengatakan kalau seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Ya, sifat-sifat baik dan positif yang abi tanamkan dalam keluarga mereka menjadi patokan bagi Zahra dalam memilih pasangan hidupnya.
Abi Abdullah adalah seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab untuk istri dan anak-anaknya, beliau akan melakukan apapun untuk kebahagian keluarga kecilnya, apalagi kepada Zahra, anak perempuan pertamanya. Abi sangat jarang sekali marah kepada putrinya, beliau juga akan melakukan apa saja demi membahagiakan dan memenuhi apa yang menjadi keinginan hati anak kesayangannya, sehingga Zahra merasa sangat beruntung memiliki seorang ayah seperti beliau.
__ADS_1
"Zahra, sakit ya, Nak?"
Abi menatap putrinya dengan seksama sembari menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipi sang putri.
Abi sepertinya menyangka kalau tangisan karena kecelakaan yang Zahra alami, padahal rasa sakit itu muncul karena pertengkaran hebat sang gadis dengan ibunya
"Sayang, apa Zahra butuh atau ingin sesuatu?"
Abi terus bertanya kepada putrinya, namun lidah Zahra terlalu kelu untuk bisa mengatakan apapun. Bahkan rasanya hati itu semakin sakit dan teramat sangat sakit karena Zahra harus mengecewakan hati kedua orang tuanya.
"Kalau Ara butuh sesuatu bilang sama Abi, karena Abi pasti akan mengabulkannya. Jika Zahra merasa sakit, sabar sebentar ya, Nak, kita akan pulang dan di rumah Ara akan diinfus dan mendapatkan perawatan terbaik seperti di rumah sakit ini agar Ara cepat pulih," ujar sang ayah sembari mendorong kursi roda putrinya dengan ditemani suster yang akan merawat putrinya di rumah.
Sejujurnya, keberadaan Abi saat ini membuat Zahra merasa tenang dan damai, beliau seperti salju putih yang bersih yang memadamkan panasnya gejolak api dalam diri Zahra. Ya, abi mungkin belum tahu bagaimana putri dan istrinya bertengkar hebat, abi juga mungkin tidak tahu bagaimana anak gadis kesayangannya ini tidak ingin menikah dengan seorang lelaki yang kini berlabel sebagai tunangannya itu, karena perihal perjodohan memang telah Zahra serahkan kepada ibunya dengan kata terserah yang kini menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Ya, tidak salah jika agama islam menganjurkan untuk mengucapkan dan mengatakan kata-kata yang baik-baik saja karena kata-kata itu adalah doa, jadi ketidakyakinan Zahra membuat ia terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri.
'Ya Allah, apakah ini kehidupan terbaik dan terindah yang Engkau janjikan kepada hamba-hamba Mu yang bersabar?' ucap Zahra di dalam hati.
Huft ...
Zahra menarik nafas panjang, kemudian ia pejamkan matanya, ia bayangkan panjangnya ujiannya hingga ketahap ini. Zahra telah bersabar dengan semua cobaan hidup yang Tuhan berikan kepadanya, berharap pernikahan impian dan kehidupan bahagia seperti dalam cerita-cerita romansa yang berakhir bahagia juga terjadi dalam kehidupannya, namun semua impian Zahra tidak menjadi kenyataan, rencananya tidak sama dengan takdir yang Tuhan berikan.
__ADS_1
Kecewa?
Tentu saja hati ini merasa kekecewaan yang teramat sangat, bahkan Zahra hampir saja mengakhiri hidupnya karena tidak bisa menerima takdir yang Tuhan berikan dan berdamai dengan dirinya sendiri. Namun, masih ada satu keyakinan yang tertanam di diri itu, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya.