
Alex berceloteh sembari membersihkan tangan Zahra. Lelaki itu memang sangat pandai membuat merasa bersalah kepadanya, bahkan bodohnya Zahra, diam adalah senjata baginya untuk menerima perlakuan Alex kepadanya.
Alex selalu mengatakan kalau ia ceroboh, semua yang ia lakukan tidak berhati-hati, bahkan hal-hal kecil yang berakibat fatal membuatnya terlihat seperti wanita yang sangat bodoh sekali. Namun, kebodohan yang Zahra lakukan membuatnya merasakan kelembutan, perhatian dan cinta yang diberikan oleh Alex, hingga matanya ini tidak bisa berkedip sedikitpun dari memandang wajah tampannya. Apalagi wajah itu terpapar cahaya rembulan, membuat Alex terlihat sangat mempesona di mata Zahra.
"Zahra, siapa dia?"
Pertanyaan Andika membuat Zahra tersadar, hingga diri itu langsung membuang muka karena salah tingkah. Bahkan seluruh tubuhnya gemetar seperti seorang pencuri yang baru saja ketahuan mengambil sesuatu oleh pemiliknya.
"Saya adalah kakak Zahra, kamu sendiri siapa?"
Alex yang tidak ditanya malah menyela pertanyaan Andika, bahkan jawabannya itu terdengar sangat ketus sekali sehingga membuat Zahra menjadi tidak enak hati kepada Andika, namun sebagian hati Zahra merasa tidak terima karena Alex menyebutnya sebagai adiknya.
"An-Andika, ma-maaf," ucap Zahra gugup dengan wajah tertunduk malu.
Zahra sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana saat ini ia ingin kabur dari dua orang lelaki yang saat ini saling berpandangan dan bertatap muka penuh dengan kebencian.
"Dek, siapa lelaki ini?"
Nada suara Alex terdengar lantang, ada amarah memuncak dengan darah mendidih yang memanaskan tubuhnya.
"Dia Andika, teman sekantorku."
Jawaban singkat yang keluar dari lisan Zahra, setidaknya bisa membuat Alex puas dan lega, hingga ia tidak lagi mengganggu atau bersikap sinis kepada Andika, karena bagaimanapun juga Zahra akan malu jika harus berhadapan setiap harinya dengan Andika di kantor.
"Apa kamu janjian dengan lelaki ini sehingga tidak datang menemui ku?"
__ADS_1
Suara Alex terdengar sangat lantang dan keras, hingga membuat mental Zahra menciut seperti putri malu. Zahra kaget dan tidak pernah melihat Alex bersikap semarah dan sekesal ini kepadanya, apalagi sampai memarahi dan membentaknya dihadapan orang lain.
Ya, entah mengapa, butiran kristal-kristal bening akhirnya jatuh membasahi pipi Zahra. Ia menangis dan mengeluarkan air mata kesedihanku atas sikap Alex yang jauh dari kata baik kepadanya.
"Zahra, kamu tidak apa-apa?"
Lagi dan lagi sesuatu terjadi diluar dugaan Zahra, lelaki bernama Andika itu memberikan sapu tangan kepadanya.
Perhatian yang berbeda itu terasa benar-benar sangat tulis, mungkin perkara iba atau mungkin juga karena tidak tega, namun satu hal yang aku syukuri, kalau kehadiran Andika disini sekarang cukup membantunya.
"Andika, bisa tolong bawa aku pergi?"
Dengan lembut dan isak tangisan, Zahra menatap wajah Andika dengan penuh pengharapan.
Ya, tanpa berpikir panjang, Andika langsung menarik tangan Zahra, membawa gadis itu berlari meninggalkan Alex tanpa basa-basi dan tanpa peduli dengan lelaki itu.
Alex berteriak memanggil-manggil nama Zahra, namun sang gadis memilih untuk tidak mempedulikan lelaki itu, karena bertemu dengan Alex saat ini bukan membuat hubungannya dengan lelaki itu menjadi baik, tetapi malah semaki buruk dan kesalahpahaman semakin menjadi-jadi.
Zahra tidak ingin merusak hatinya. Ia juga tidak ingin kata-kata kasar yang keluar dari lisan Alex membuatnya membalas hingga kata-kata itu menyakiti hati dan perasaan mereka masing-masing. Jadi, salah satu cara terbaik yang bisa Zahra lakukan sekarang adalah menghindar tanpa bertatap muka, menenangkan diri untuk sesaat hingga keadaan keduanya kembali membaik agar bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
"Andika, bisa tolong lepaskan aku?"
Zahra menghentikan langkah kakinya, menarik tangannya yang saat ini digenggam oleh Andika, mencoba melepaskan diri karena sudah ia pastikan kalau Alex sudah tidak mengejar mereka lagi.
"Ma-maaf, Zahra."
__ADS_1
Dengan sigap, lelaki itu langsung melepaskan genggaman tangan Zahra. Wajah lelaki itu juga terlihat sangat gugup dengan sikap yang salah tingkah.
"Andika, terima kasih banyak atas bantuan yang kamu berikan kepadaku hari ini, aku berharap kami melupakan kejadian ini dan menganggap tidak pernah melihat apa-apa. Maaf aku harus pergi!"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Zahra segera berlari meninggalkan Andika menuju rumahnya. Tapi anehnya air mata terus jatuh membanjiri pipi gadis itu sepanjang perjalanan pulang.
Terbayang-bayang oleh Zahra wajah Alex yang penuh dengan amarah kepadanya, bahkan suara keras yang menghardik itu masih terngiang-ngiang di benak si gadis cantik.
'Sudahlah, Zahra, jangan memikirkan lelaki lagi, semuanya hanya menyakiti hati dan perasaanmu!' ucap Zahra di dalam hati dengan kesedihan yang ia bawa bersamanya.
Sudah lama sekali Zahra terjebak dalam hubungan ketidakpastian dan ketidakjelasan yang membuatku hancur lebur. Ia seperti hilang arah, tanpa tujuan dan tanpa kepastian. Ia seperti terjebak dalam lingkaran kosong tanpa penghujung hingga ia tidak sanggup lagi keluar dari lingkaran tak bertepi itu.
"Zahra, kamu dari mana?"
Lagi dan lagi Zahra dikejutkan dengan hadirnya seseorang yang membuatku syok. Lelaki dengan menggunakan baju koko itu terlihat menundukkan pandangannya ketika aku menatap wajahnya.
"Saya harus masuk!"
Zahra berjalan cepat menuju ke samping rumahnya, tempat dimana ia melarikan diri tadi. Gadis itu masuk lewat jendela tanpa mempedulikan apa tanggapan lelaki itu kepadanya.
'Terserah apa yang akan ia katakan, terserah juga apa penilaiannya kepadaku, yang aku tahu saat ini aku harus tidur agar terlihat tidak melakukan kegiatan diluar rumah, setidaknya aku tidak ingin Ummi Fatimah tahu agar aku keluar dari rumah.' Ocehan Zahra di dalam hati ternyata menjadi petaka. Sungguh, semua yang terjadi tidak sesuai harapannya, karena aku mendapati ummi Fatimah tengah berdiri di depan pintu dengan kedua tangan yang melipat di dadanya.
"Zahra, apa kamu benar-benar akan kabur dari rumah ini?
Suara lantang itu mengagetkan sang gadis, bahkan rasanya seperti petir yang tengah menyambar-nyambar, hingga membuat Zahra kaget dengan jantung yang berdetak luar biasa kencangnya seolah ingin copot.
__ADS_1
Mata ummi Fatimah melotot dengan amarah yang sangat memuncak. Terlihat sekali beliau ingin memarahi putri kesayangannya itu. Namun sebagai seorang ibu, ummi Fatimah terlihat masih menyimpan rasa sabar, hingga beliau masih menahan diri untuk tidak berbuat lebih parah dari pada teriakan keras itu. Ya, sepertinya rasa penyesalan karena telah menyakiti putrinya membuat sang ibu mulai menahan emosi dan amarahnya.
Zahra terus perhatikan dengan seksama, tangan ummi Fatimah kini digenggam sangat erat membentuk dua buah tinju, seolah beliau sedang menahan semua kekesalan di dalam hatinya. Ya, Zahra bisa memahami perasaan orang tuanya, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain berkata, "Ummi, maaf!"