Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Ucapan yang keluar dari lisan ummi Fatimah membuat darah Zahra mendidih, ia bangkit dari pembaringannya dengan wajah memerah karena tidak terima jika lelaki yang ia anggap malaikat dijelekkan oleh orang tuanya.


"Ummi, dimana Ummi mengenal Alex? Kenapa Ummi bisa beranggapan kalau Alex adalah lelaki yang jahat?" protes Zahra dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Ya, rasa semu itu membuat seorang anak mampu melawan orang tuanya.


"Nak, apa yang kamu harapkan dari Alex? Lelaki itu tidak mencintaimu, bahkan ia mengatakan kalau ia tidak mengenalmu, ia hanya memanfaatkan mu, Nak!"


Dengan suara serak dan mata berkaca-kaca, Ummi Fatimah menyampaikan kata-kata yang bertentangan dengan batin Zahra. Alex bukanlah lelaki jahat seperti yang ummi Fatimah tuduhkan, Alex tidak ada sedikitpun niat memanfaatkan Zahra, bahkan Zahra juga merasa kalau Alex tidak pernah mempermainkan perasaannya, ia adalah malaikat yang selama ini selalu ada dalam setiap suka dan duka Zahra.


"Ummi, Alex bukan lelaki seperti itu," ucap Zahra membela Alex dengan keyakinan penuh.


"Nak, lelaki itu tidak mencintaimu, kamu jangan mengharapkan Alex lagi! Ustadz Fahri adalah lelaki yang bisa menjadi imam untukmu, jadi lelaki seperti apa lagi yang kamu cari? Bukankah seseorang dipilih karena agamanya, Nak?"


Dengan nada suara tinggi, ummi Fatimah menumpahkan semua isi hatinya kepada putrinya, beliau marah dan emosi kepada anak gadisnya itu sembari memberikan pemahaman agama yang memang benar adanya.


"Nak, seseorang dipilih karena tiga hal yaitu dari agamanya, keluarganya dan kekayaannya, tapi pilihlah pasangan yang baik agamanya agar hidup kita selamat dunia dan akhirat."


Zahra diam dalam kebisuan, tidak ingin membantah apa yang ummi katakan, karena bagaimanapun juga, apa yang  ummi Fatimah sampaikan berdasarkan hadist Rasullullah yang benar adanya.

__ADS_1


"Ara, Ummi malu karena kamu selalu menjadi gunjingan tetangga, Ummi malu karena anak gadis kesayangan Ummi belum menikah sementara dua orang adikmu telah menikah. Jadi sekarang, mau tidak mau, suka tidak suka kamu harus menerima perjodohan ini."


Seolah tidak mengizinkan ada penolakan dari sang putri, ummi Fatimah berbicara tegas.


"Maaf, Ummi, tapi Ara tidak bisa menikah dengan lelaki asing yang tidak dikenal!"


"Ustadz Fahri adalah lelaki saleh, ia mengajar di pondok pesantren milik orang tuanya, dia lelaki terbaik untukmu, dan tidak ada istilah pacaran sebelum menikah, berkenalan sebelum menikah cukup dengan bertaaruf dengan didampingi, Nak!"


"Tapi Ara tidak mencintai lelaki itu, Ummi, jadi tolong jangan paksa Ara."


"Persetan dengan cinta, cinta akan muncul setelah menikah. Ummi dan Abi juga dijodohkan dan bisa hidup bahagia sekarang. Jadi jangan membantah lagi, gantilah bajumu dengan pakaian terbaik karena sebentar lagi Ustadz Fahri dan keluarganya akan datang!"


Sebuah ultimatum yang keluar dari lisan ummi Fatimah membuat Zahra merasa sangat hancur dan terluka, dirinya seperti tertusuk panah tepat di hatinya.


Dengan mata melotot dan nada suara tinggi, Zahra akhirnya berani mengungkapkan isi hatinya, bahwa ia menolak perjodohan ini.


"Ara, apa ada lelaki yang kamu cintai? Jika memang ada bawalah lelaki itu ke rumah, kenalkan sama Ummi dan Abi, karena hanya itu cara supaya Ummi bisa membatalkan perjodohan ini."


Zahra terdiam dan tidak sanggup menjawab pertanyaan ummi Fatimah. Bagaimana mungkin Zahra akan membawa seorang lelaki ke rumah untuk dikenalkan sebagai calon suaminya, ia bahkan tidak dekat dengan siapapun selama lebih dari lima tahun terakhir kecuali dengan Alex. Entah mengapa, sejak gagal menikah karena sebuah penghianatan membuat hati Zahra mati, ia sulit dekat dan percaya dengan makhluk yang namanya laki-laki. Zahra beranggapan kalau semua lelaki itu sama dan ia benar-benar sangat takut untuk ditinggalkan lagi setelah ia memberikan seluruh hatinya kepada makhluk dengan alias buaya darat itu. Ya, Tuhan memang mencemburui hati yang berharap jika bukan kepadanya, jadi saat ini Zahra hanya menggantungkan hati dan harapannya kepada Tuhan saja, dengan satu keyakinan yang ia pegang erat di dalam dada, kalau semua manusia diciptakan berpasang-pasangan dan jika telah waktunya maka jodoh juga akan datang menghampirinya.

__ADS_1


"Jika Alex memang lelaki yang kamu sukai maka berhentilah sekarang, Nak! Lelaki itu tidak mencintaimu."


Ummi Fatimah lagi-lagi mengatakan kata-kata tajam yang membuat hati Zahra hancur. Bagaimana bisa orang tuanya menilai Alex sejelek dan serendah itu, padahal Alex adalah lelaki yang sangat baik kepadanya, bahkan ialah lelaki yang berhasil menyembuhkan luka-luka di dalam hatinya. Alex satu-satunya lelaki membuat Zahra percaya kalau masih ada lelaki baik dan tulus di dunia ini selain ayahnya. Ya, mereka berdua memang tidak berpacaran, hubungan mereka hanya sebatas sahabat dekat yang saling berbagi suka dan duka bersama, karena sebuah rasa nyaman, dan tidak ada orang yang Zahra percaya selain Alex.


"Sekarang cepat ganti pakaian karena lima menit lagi Ustadz Fahri dan keluarganya akan datang!"


Ummi Fatimah keluar dari kamar dengan kekecewaan yang tergambar jelas di wajah beliau. Sementara Zahra, dalam kebingungan dan ketidakberdayaan akhirnya memutuskan mengganti pakaiannya, bukan dengan pakaian terbaik yang ummi Fatimah pilihkan untuknya, tapi dengan baju yang sudah ketinggalan zaman yang jarang sekali ia gunakan. Tanpa menggunakan make up, bedak atau pun lipstik, Zahra keluar dari kamarnya dengan menggunakan gamis berwarna abu-abu dan jilbab berwarna merah muda yang menutupi dadanya. Penampilan Zahra tidak seperti anak gadis pada umumnya ketika bertemu dengan pasangannya, tetapi lebih ke ibu-ibu pengajian yang tidak tahu fashion sama sekali, terlihat sangat kampungan, bahkan Zahra sendiri tidak suka dengan gayanya, tapi ini adalah salah satu usaha penolakannya kepada orang tuanya.


"Zahra, sini, Nak!"


Sebuah panggilan yang merupakan kode dari ummi Fatimah, kalau ia harus segera keluar dari kamarnya.


Dengan langkah kaki berat, Zahra melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dengan hati yang berkecamuk. Tidak ikhlas tentu saja, tidak rela apalagi, yang jelas Zahra hanya tidak ingin membuat orang tuanya kecewa karena sikapnya yang tidak menghargai tamu apalagi tamu itu memiliki niat baik kepadanya.


"Sayang, sini, Nak!"


Ummi Fatimah menghampiri Zahra dengan bersemangat dengan senyum mengembang yang tergambar indah di wajah beliau. Sebuah ekspresi wajah yang menggambarkan kalau beliau memiliki harapan yang sangat besar untuk pertemuan pertama ini.


"Nak, kenapa tidak memakai baju yang Ummi sediakan?" bisik ummi Fatimah lembut namun tidak dihiraukan oleh Zahra.

__ADS_1


Ummi Fatimah menggandeng tangan Zahra untuk duduk di samping beliau, kemudian dengan sangat ramah dan sopan Abi Abdullah memperkenalkan Zahra sebagai putrinya.


"Perkenalkan Kyai Abidin, Ummi Salamah, Ustadz Fahri, ini anak kami Zahra."


__ADS_2