
Dengan penuh keyakinan Adrian menyarankan Zahra untuk segera di bawa kembali ke rumahnya, karena Adrian percaya obat yang paling dibutuhkan Zahra saat ini bukanlah obat rumah sakit, melainkan perhatian dan kasih sayang yang tulus dari keluarga dan orang-orang terdekat.
"Om juga berpendapat yang sama dengan kamu, Nak. Tapi, apakah nanti Zahra tidak merepotkan Nak Adrian?"
Besar harapan kedua orang tua Zahra agar Adrian bisa membantu proses penyembuhan kejiwaan putri kesayangannya, namun rasa segan dan tidak enak membuat kedua orang tua Zahra sedikit ragu membawa Zahra kembali ke rumah.
"Om, Tante, jangan khawatir! Saya akan datang setiap hari ke rumah Om dan Tante. Bahkan saya akan menginap di sana kalau diizinkan."
Keyakinan Adrian telah bulat, ia benar-benar ingin membantu Zahra. Janji yang telah terlanjur ia ucapkan kepada Raka sehari sebelum Raka meninggal terngiang-ngiang di telinganya. Rasa kasihan dan iba melihat Zahra yang tersiksa karena cinta juga membuat Adrian ingin selalu berada di samping Zahra, bahkan ia tidak mempedulikan Salsa, kekasih hatinya yang selama ini sangat dicintainya.
Kring ..., kring ..., kring ....
Ponsel Adrian berbunyi, namun Adrian memilih untuk tidak mengangkatnya. Tangannya saat ini hanya ingin menggenggam tangan Zahra, baginya yang terpenting saat ini adalah kesembuhan dan kenyamanan Zahra.
"Nak, dari tadi ponselnya berbunyi, apa tidak ingin diangkat? Mana tahu ada hal penting dan mendesak," ucap ummi Fatimah.
"Tidak ada yang lebih penting saat ini kecuali Zahra, Tante," jawab Adrian yakin.
Kedua orang tua Zahra sebenarnya merasa heran dengan sikap Adrian yang tiba-tiba baik kepada Zahra, padahal mereka baru saja mengenal, itu pun secara tidak sengaja.
"Kalau begitu Om dan Tante akan mengurus administrasi kepulangan Zahra, Nak Adrian tolong jaga Zahra ya."
Dengan senyum tipis kedua orang tua Zahra berpamitan sebentar.
"Baik, Om, Tante," ucap Adrian.
Sekarang hanya tinggal Adrian dan Zahra di kamar inap ini.
Adrian menatap Zahra dengan tatapan berbeda, iba, khawatir, dan mulai tumbuh dek-dekan, semua membaur menjadi satu.
"Zahra, cepatlah sembuh!" ucap Adrian lembut.
Adrian mengecup kening Zahra dengan hangat. Entah apa yang di pikirkan Adrian saat ini, yang jelas ia ingin memberikan segenap ketulusan hatinya untuk kesembuhan Zahra.
"Adrian," kata-kata lembut dan lemah yang ke luar dari mulut Zahra membuat Adrian terkejut dan kikuk. Adrian segera menjauhkan wajahnya dari Zahra.
"Zahra, maaf!" Adrian salah tingkah.
"Adrian, nama kamu Adrian 'kan?" tanya Zahra lagi.
"Iya," Adrian masih salah tingkah.
"Adrian, bolehkah aku minta tolong kepadamu?" ucap Zahra dengan nada suara lemah.
"Ten ..., tentu, Zahra," suara Adrian bergetar.
"Adrian, aku ingin berjalan-jalan, rasanya terlalu suntuk berada di ruangan ini."
__ADS_1
Zahra bersikap manja kepada Adrian tanpa membahas kecupan di keningnya.
"Kamu ingin ke mana, Zahra?" Adrian menatap Zahra dengan penuh perhatian.
"Aku ingin bertemu Raka," ucap Zahra tertunduk sedih.
"Tapi, Zahra, Rak ...,"
Belum selesai Adrian berbicara, Zahra langsung memotongnya.
"Aku ingin mengunjungi makam Raka, aku belum sempat mengucapkan kata-kata perpisahan dengannya," pinta Zahra dengan nada memohon.
Adrian seperti terhipnotis, ia tidak menolak dan berkata kepada Zahra. Ia seperti memiliki tanggung jawab untuk membahagiakan Zahra.
"Adrian, please ..., tolong antarkan aku!" Zahra merengek.
Rengekan Zahra semakin membuat Adrian tidak lagi bisa berkata-kata. Zahra benar-benar bisa membuat Adrian luluh.
"Baiklah, aku akan menemanimu ke sana tapi tidak sekarang," ucap Adrian tegas.
"Kenapa?" Zahra terlihat kecewa.
"Zahra, kita harus meminta izin kepada Ummi dan Abi kamu terlebih dahulu."
Adrian menatap lembut Zahra sembari memegang pundak gadis itu untuk meyakinkannya.
Zahra mulai histeris, berteriak sekeras-kerasnya. Ingin berlari, namun Adrian langsung memeluknya, pelukan Adrian membuat Zahra benar-benar langsung tenang.
"Zahra, tenanglah! Aku pasti akan mengantarmu ke pemakaman Raka, tapi kamu harus sabar. Ummi dan Abi mu saat ini sedang mengurus administrasi agar kamu bisa segera pulang ke rumah." Penjelasan Adrian membuat Zahra sedikit lebih tenang, namun tetap ia ingin ke luar mencari udara segar.
"Bagaimana kalau kita ke taman rumah sakit? Aku terlalu sumpek di sini!"
Berbagai cara dilakukan Zahra agar Adrian menuruti keinginannya.
"Baiklah, tapi kamu harus duduk di atas kursi roda ya! Aku tidak mau kamu kenapa-napa."
Adrian membantu Zahra duduk di kursi roda, kemudian membawa Zahra ke luar dari kamar inapnya untuk mencari udara segar.
"Adrian, apa aku boleh bertanya?" ucap Zahra di sela-sela perjalanan menuju taman.
"Tentu saja boleh," jawab Adrian lembut dan bersemangat.
"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa kamu sangat baik kepadaku padahal kamu baru mengenalku. Atau apakah mungkin kamu sebenarnya kenal denganku?"
Zahra menengadahkan wajahnya menatap Adrian yang saat ini mendorong kursi rodanya.
Adrian menatap Zahra, Adrian terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Zahra. Bahkan di saat gadis itu pucat dan tidak berdandan, wajahnya masih terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Cantik!" Hanya itu kata-kata yang ke luar dari mulut Adrian. Saat ini ia tidak bisa memalingkan wajahnya sedikitpun dari Zahra.
"Maksudnya?"
Dengan tatapan heran Zahra menatap mata Adrian dengan lembut.
"Cantik," ucap Adrian sekali lagi.
"Adrian, Adrian!" Zahra mencabut kumis tipis di pipi Adrian hingga lelaki tampan itu terpekik.
"Aw, sakit!" Adrian akhirnya sadar kalau ia menatap Zahra terlalu lama hingga tidak sadar kalau Zahra sedari tadi memanggilnya.
"Zahra kenapa mencubit ku!" Adrian memasang wajah manyun.
"Ha ha ha ...," Zahra tertawa sangat lepas.
Tingkah Adrian benar-benar terlihat lucu di mata Zahra.
"Zahra kenapa kamu tertawa?"
Adrian menggelitik pinggang Zahra hingga Zahra semakin tertawa lepas.
Bahagia!
Sungguh wajah Zahra terlihat bahagia dengan rona wajah bersinar, membuat wanita itu terlihat sangat cantik.
"Adrian, jangan! Ampun!"
Zahra benar-benar tidak kuat lagi menahan gelitikkan Adrian, tawanya terbahak-bahak.
"Zahra, aku senang melihatmu tertawa lepas seperti itu," ucap Adrian sembari menghentikan kursi roda di sebuah taman rumah sakit dengan pemandangan bunga-bunga yang bermekaran.
"Zahra,"
Adrian memasangkan bunga krisan berwarna putih di telinga Zahra.
"Adrian,"
Zahra memegang bunga yang ada di telinganya kemudian menatap Adrian dengan senyum merona di wajahnya.
"Zahra, kamu benar-benar sangat cantik!" Lagi-lagi Adrian memuji Zahra, ia tidak bisa memalingkan matanya sedikitpun dari Zahra.
"Adrian, kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu sebenarnya siapa?" Zahra kembali menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Aku Adrian," hanya itu yang bisa dijawab oleh Adrian.
"Aku tahu kamu Adrian, yang aku tanyakan, apakah kamu pernah mengenalku sebelumnya? Kenapa kamu baik kepadaku?" Zahra menatap wajah Adrian dengan seksama, berharap lelaki itu menjawab pertanyaannya sesuai harapannya.
__ADS_1
"Zahra, aku mencintaimu!"