Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Keraguan


__ADS_3

Akhirnya butiran kristal-kristal bening keluar juga dari bola mata Zahra yang indah, sebuah ungkapan betapa ia tidak sanggup lagi menahan beban yang menyesakkan dadanya.


"Ara, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Allah yakin kamu bisa, dan Mas juga yakin kalau kamu sanggup menghadapi semua ini," ujar Alex menguatkan dan memberikan semangat kepada sahabat yang dianggap seperti saudara perempuannya itu.


"Mas, apakah aku kabur saja?"


Zahra tidak bisa berpikir jernih, yang terbayang olehnya hanyalah menghilang dan kabur sejauh mungkin agar ia bisa menghindari masalah hidupnya.


Impian Zahra adalah menikah seperti seorang putri kerajaan dalam cerita-cerita di negeri dongeng, tapi kenyataannya kisahnya seperti Siti Nurbaya, dijodohkan dengan lelaki yang tidak ia cintai, bukan karena uang atau harta benda, bukan pula karena terlalu muda, tapi karena ia sudah dianggap perawan tua, menjelang kepala tiga masih belum menikah juga sementara teman-teman seusianya sudah menggandeng suami dan anak-anaknya.


Rasa iri dengan kehidupan orang lain memang selalu menghampiri Zahra, bahkan rasa minder membuatnya tidak ingin berkumpul dan bertemu dengan teman-teman seusianya lagi. Namun, semakin ia ingin menghindar dan lari dari masalah, semakin ia terjebak dan jatuh ke dalam jurang yang sama, orang-orang bahkan merendahkan dan menghinanya di depan dan di belakang, tanpa peduli dengan hati dan perasaan Zahra.


"Yakin ingin kabur?" tanya Alex dengan wajah datar dengan ekspresi marah yang terlihat di matanya. Sebuah tatapan yang membuat Zahra mengangguk dengan ketidakyakinannya.


Mulut Zahra berkata ingin kabur, namun hati kecilnya masih belum yakin sama sekali, karena selama ini ia terbiasa hidup manja dengan kedua orang tuanya, ia tidak pernah pergi jauh meninggalkan rumahnya, bahkan di usia yang tergolong tidak lagi muda ini, Zahra masih belum bisa mandiri dalam menjalani kehidupannya.


"Jika tidak yakin maka jangan berpikir untuk kabur!" ujar Alex sembari menjentikkan jari-jari tangannya di kening gadis cantik itu.


"Aw, sakit!" protes Zahra sembari berteriak.


"Sakit, Mas!"


Berbagai macam omelan dan kata protes Zahra ungkapkan dengan nada suara merengek, hingga membuat Alex semakin ingin mengganggunya.


"Masih manja aja udah mau kabur," celoteh Alex sembari mencibir kepada Zahra.


Alex adalah lelaki yang paling mengerti Zahra, ia sangat tahu dan sangat paham sekali seberapa lemahnya mental Zahra. Gadis itu bahkan sering menangis dan mencurahkan air matanya kepada Alex, menceritakan apapun kesedihan dan kegelisahan hatinya dengan harapan Alex menghiburnya, hingga ia semakin manja dan bergantung kepada lelaki itu.


"Aku akan kabur, dan kali ini aku serius dengan apa yang aku katakan!"


Dengan nada suara keras dan tinggi, Zahra duduk dari pembaringannya. Matanya melotot tajam, memandang mata Alex yang terlihat sangat berbinar dan meneduhkan, bahkan Zahra merasa seolah terhipnotis ketika mata keduanya saling beradu pandang.

__ADS_1


"Udah ah, nggak usah banyak gaya!" ucap Alex sembari menjentikkan jari telunjuk dan kelingkingnya di kening Zahra.


"Aw, sakit!"


Dengan suara merengek manja, Zahra menggenggam pergelangan tangan Alex.


Ya, lagi dan lagi dua bola mata saling bertemu, mengisyaratkan kalau hati mereka edang berbicara, suara cinta yang sama sekali tidak mereka berdua sadari adanya.


"Udah ah, aku mau pulang, Mama pasti mencari ku."


Dengan salah tingkah, Zahra memalingkan wajahnya dari Alex. Ia benar-benar sangat malu karena seluruh tubuhnya gemetaran dengan wajah yang tiba-tiba menjadi merah merona.


Zahra mengambil sisi berlawanan dengan Alex, ingin turun dan bersiap-siap untuk kabur dari rumah sakit ini. Eh, bukan, sebenarnya Zahra ingin kabur dari rumah sakit, tapi ingin kabur dari Alex yang membuat debaran jantung wanita itu berdetak luar biasa tidak menentunya.


"Aw!"


Ternyata tanga Zahra dipasang infus, hingga ketika ia bergerak tangan itu terasa sakit, bahkan keluar darah segar dari nadinya karena slang infusnya terlepas.


Alex langsung menghampiri Zahra, menggenggam tangan gadis cantik yang terluka dengan wajah yang terlihat sangat khawatir sekali.


"Sakit, Mas," ucap Zahra manja.


Ya, pada saat-saat tertentu, Zahra dan Alex terlihat seperti kakak dan adik, namun tanpa mereka berdua sadari sikap mereka sekarang adalah bentuk kepedulian, perhatian dan sisi lainnya sedang ingin dimanja dan dilindungi.


"Kenapa malah kabur sih? Jelas-jelas sedang sakit!"


Wajah khawatir itu seketika berubah menjadi omelan. Kepanikan membuat Alex menumpahkan amarahnya kepada Zahra.


"Namanya juga kabur, mana ada orang kabur yang bilang-bilang," ucap Zahra dengan nada suara lembut dan wajah yang tertunduk karena sadar kalau apa yang ia lakukan salah.


"Sekarang kamu harus diam dan menurut!"

__ADS_1


Alex menggendong tubuh Zahra dan membaringkan gadis cantik itu kembali di atas ranjang, kemudian ia memencet bel agar dokter atau perawat datang ke ruangan inap gadis itu.


"Mas, maaf!"


Hanya kata-kata itu yang bisa Zahra ucapkan kepada Alex, sebab kecerobohan Zahra membuat Alex menjadi khawatir kepada gadis cantik itu.


"Mengurus diri sendiri saja masih belum bisa malah pengen menikah," celoteh Alex.


Ya, apa yang Alex katakan memang benar, untuk mengurus dirinya sendiri saja Zahra tidak sanggup, bahkan Alex-lah yang selalu mengingatkan dan menjaga gadis cantik itu, namun Zahra sering berkata kepada Alex kalau Tuhan tidak adil kepadanya karena sampai usia Zahra yang sekarang jodoh itu belum diberikan kepada wanita itu.


"Ummi, apa Ummi dan Abi tahu kalau aku ada di rumah sakit sekarang?" ucap Zahra yang mulai sadar tentang kekhawatiran orang tuanya.


Zahra sangat yakin kalau kedua orang tuanya pasti akan mencemaskannya karena belum pulang ketika jam dinding menunjukkan pukul 20.00 Wib.


"Mas, apakah kamu sudah memberitahukan kepada Ummi dan Abi kalau aku ada disini?"


Alex menggeleng, dengan wajah yang tiba-tiba berubah.


"Kenapa?"


Terbayang oleh Zahra kata-kata ummi-nya, kalau Alex bukanlah lelaki baik, ia tidak benar-benar tulus bersahabat dengan Zahra, ia hanya memanfaatkan kebaikan hati Zahra saja, ia hanya ingin bermain-main dengan gadis cantik itu.


"HP-ku mana?"


Karena tangan Zahra sedikit terluka, ia tidak bisa bergerak sesuka hatinya, jadi tidak ada yang bisa Zahra lakukan selain bertanya kepada Alex.


"Kamu perlu diobati terlebih dahulu, nanti aku akan mengambilkan HP-nya," ucap Alex dengan nada suara datar. Sungguh, kepeduliannya saat ini terdengar seperti sebuah basa-basi yang mengandung toxic.


"Aku ingin menelpon sekarang!"


Dengan nada suara tinggi, Zahra membentak Alex, mengungkapkan isi hati dan amarahnya karena sikap lelaki itu yang tidak peduli dengan perasaan orang tuanya sendiri.

__ADS_1


"Maaf, Nona, tapi Nona harus diobati terlebih dahulu," ucap salah seorang perawat yang masuk kedalam kamar inap Zahra dengan membawa peralatan kesehatannya.


__ADS_2