
Mobil yang melaju tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Rem mendadak itu membuat tubuh Zahra yang mungil hampir terhempas. Beruntung ia menggunakan sabuk pengaman, hingga wajah cantiknya yang berharga tidak terluka.
"Aku ingin mencari angin!"
Alex keluar dari mobil sembari membanting pintu mobil dengan sangat keras.
Bruk ...
Tamparan keras pintu mobil membuat Zahra syok. Spontan tangan itu langsung memegang dada yang bergetar luar biasa, bukan karena jatuh cinta tapi karena terkejut, seperti sengatan petir yang menyambar hingga diri itu merasa seolah akan kena serangan jantung mendadak.
"Kenapa sih dia, marah-marah nggak jelas."
Alex memang suka sekali marah-marah tidak jelas, emosinya memang masih tidak stabil bahkan dalam keadaan seperti ini Zahra-lah yang selalu mengalah, minta maaf dan membujuknya agar lelaki itu tidak merajuk.
Umur memang tidak menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang, tapi umur juga mempengaruhi tingkat emosi seseorang, dan masalah kesenjangan usia beberapa tahun antara Zahra dan Alex membuat mereka berdua sering kali saling salah paham karena pola pikir yang berbeda.
"Alex tunggu!"
Zahra keluar dari mobil, berjalan cepat untuk mendekati lelaki yang sama sekali tidak ingin menoleh sedikitpun kepadanya. Ya, dengan terpaksa, mau tidak mau, suka tidak suka, ia tetap harus bisa membujuk lelaki itu agar tidak marah kepadanya.
"Alex, kenapa sih sikapmu seperti anak-anak? Aku kesulitan berjalan."
Dengan langkah kaki tertatih-tatih, Zahra terus berjalan menyusul lelaki yang egois itu.
"Alex, bukannya kita akan ke rumah sakit, kenapa harus berdebat disini sih?"
Zahra berteriak dan memaki Alex dengan sangat keras hingga langkah kaki Alex akhirnya terhenti.
__ADS_1
"Kenapa ikut keluar?" tanya Alex sinis dan terdengar tidak manis sama sekali, bahkan wajah tampan Alex tidak menoleh sedikitpun kepada Zahra.
Ingin sekali Zahra melayangkan tinju dari kepalan tangannya di kening mulus lelaki itu, tapi Zahra tidak ingin memperkeruh keadaan, ia hanya ingin mereka berdua bisa kembali akur tanpa memperpanjang masalah, karena kepala Zahra sudah terlalu pusing dan sakit saat ini.
"Apakah ini bentuk kecemburuan?" tanya Zahra sekali lagi tanpa keraguan.
Mata Zahra terus menatap ke arah Alex, namun lelaki yang ada di depannya itu tetap tidak berani menatap Zahra sama sekali.
"Cemburu, ah tidak, mana mungkin," bantah Alex dengan nada suara terbata-bata. Sungguh, ia terlihat sangat gugup sekali karena ketahuan atas isi hatinya.
"Zahra, mana mungkin aku cemburu, karena aku adalah orang yang paling bahagia melihat adik ku bahagia."
Alex menggaruk-garuk rambutnya yang sama sekali tidak gatal, ia salah tingkah, sebuah tanda kalau lelaki itu sedang berbohong. Ya, Alex memang tidak pernah bisa membohongi Zahra dari sikapnya saja sudah bisa terlihat oleh Zahra.
"Adek, Mas akan mendoakan yang terbaik untukmu."
Alex membalikkan badannya dari Zahra, ia sekarang sama sekali tidak ingin menatap Zahra dan Zahra tidak suka dengan sikap tidak acuh seperti itu.
Zahra kaget, spontan mulutnya ternganga membayangkan seseorang yang umurnya jauh di bawahnya memanggil wanita cantik itu dengan panggilan adik dan memposisikan dirinya sebagai kakak untuk Zahra. Tidak punya sopan santun, tidak formal sama sekali, bahkan Alex tidak menggunakan embel-embel apapun dalam memanggil Zahra, bahkan yang lebih anehnya lagi ia bertingkah seperti seorang anak yang tidak punya rasa bersalah sama sekali. Padahal wanita yang ada di depannya mungkin seusia kakaknya.
"Zahra, hubungan kita hanya sebatas kakak dan adik, aku menganggap mu sebagai adikku sendiri dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun, jadi tidak mungkin ada rasa cemburu antara adik dan kakak. Kamu juga memiliki perasaan yang sama 'kan denganku? Kamu juga menganggap ku sebagai kakak bukan?" tanya Alex dengan posisi masih membelakangi Zahra, seolah tidak ingin memandang wajah Zahra sama sekali.
'Dasar lelaki tak berperasaan,' ucap Zahra di dalam hati dengan rasa kesal yang ia bawa bersamanya.
Tidak ada persahabatan antara pria dan wanita, tidak ada juga persaudaraan antara dua orang pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Kata persahabatan atau persaudaraan adalah sebuah kata yang mengisyaratkan kalau dua orang terikat tanpa hubungan yang jelas atau dikenal dengan istilah pacaran. Mereka bertingkah tidak seperti saudara, tidak juga seperti pasangan kekasih, hanya saja hubungan tanpa status hingga keduanya juga tidak akan tahu perasaan apa yang dirasakannya saat ini.
Zahra sebenarnya muak dan bosan dengan sikap Alex yang bertindak seenaknya saja, ia selalu ingin menang sendiri dan merasa dirinya paling benar, tapi entah mengapa Zahra tidak pernah bisa marah kepada lelaki itu, bahkan Zahra selalu mengalah dan sabar dengan tingkah lelaki itu kepadanya.
__ADS_1
"Mas, oke, aku akan memanggil mu Mas mulai sekarang, kita tidak lagi bersahabat, tapi lebih dari itu, kita bersaudara, kakak dan adik. Baiklah, kita akan bersikap layaknya keluarga sekarang!" ucap sang gadis dengan nada ditekan dengan senyum yang Zahra paksakan.
Huft ...
Zahra mendengar Alex menarik nafas panjang, entah pertanda lega atau pertanda marah, tapi Zahra sudah tidak lagi mempedulikannya, karena yang Zahra inginkan sekarang adalah berbaikan dengan lelaki itu dan Alex segera mengantarkan Zahra ke rumah sakit.
"Adek!"
Alex mengacak-acak kepala Zahra yang ditutupi jilbab pasmina berwarna putih.
"Jangan, bukan muhrim," protes Zahra sembari mengelak.
Ya, Zahra pun kini bertingkah seperti seorang wanita saleha yang sangat menjaga dirinya dari seseorang yang bukan muhrimnya, namun Zahra hanyalah seorang wanita munafik yang mana perkataannya berbeda dengan perbuatannya.
Zahra memang protes ketika Alex memegang kepalanya, namun hati kecil Zahra merasa sangat senang, merasa bahagia dan merasa disayangi oleh Alex, tapi bagaimanapun juga mereka berdua bukan saudara kandung, mereka bukan muhrim dan mereka berdosa jika sikap dan tindakan mereka mendekati perbuatan zina.
"Mas, aku minta maaf jika kata-kataku membuat kamu tersinggung, tapi sekarang aku sudah tidak sanggup berdiri, seluruh tubuhku kesakitan."
Efek terlempar ke aspal sepertinya baru terasa sekarang, dimana seluruh tubuh Zahra terasa teramat sangat sakit, bahkan Zahra menggigil seolah seluruh tenaganya habis.
"Zahra, kamu pucat."
Wajah Alex terlihat khawatir, ia panik dan takut jika hal buruk terjadi kepada Zahra. Sementara Zahra, saat ini matanya berkunang-kunang, rasanya dirinya sudah tidak sanggup lagi menopang beban dirinya yang terasa teramat sangat berat.
"Mas, a-aku,"
"Sudah, diam, kita harus segera ke rumah sakit sekarang!"
__ADS_1
Alex menggendong Zahra, membawa Zahra kembali ke mobil dengan sejuta kekhawatiran yang ia bawa bersamanya.
"Zahra, kamu harus bertahan, kamu beristirahatlah, tidurlah sebentar, aku akan membangunkan mu ketika kita telah sampai di rumah sakit."