
Seketika ia menoleh ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul 16.00 Wib, waktu dimana tugasnya sebagai seorang abdi negara telah usai.
Namun, entah mengapa hari ini rasanya hati Zahra tidak tenang, seolah ada sesuatu yang mengganjal, hingga rasanya terlalu berat melangkahkan kaki kembali ke rumah. Tapi, mau tidak mau suka tidak suka, ia tetap harus pulang karena ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.
Dengan motor matic kesayangan, Zahra kembali ke rumah dengan sejuta gundah di hatinya.
'Apakah ada acara hari ini?' ucap Zahra di dalam hati.
Seketika hati ini terkejut ketika sampai di depan rumah, ia melihat sudah banyak kendaraan berjejeran, terlihat juga famili dan orang-orang yang ia kenal berkumpul sembari bercanda tawa.
"Zahra, kamu sudah pulang, Nak?"
Ummi Fatimah menghampiri Zahra yang tengah memarkirkan motornya dengan senyum semeringah yang tergambar jelas di wajah cantik wanita separuh baya itu.
"Ummi, apa ada acara spesial hari ini?" tanya Zahra dengan wajah kebingungan sembari melihat sekelilingnya seolah sedang ada perayaan besar di rumahnya.
Ummi Fatimah hanya tersenyum, beliau menggandeng tangan putri kesayangannya itu untuk berjalan menuju kamar dengan sejuta rasa bahagia yang beliau bawa bersamanya.
__ADS_1
Zahra semakin heran dan merasa tidak enak hati karena orang-orang tersenyum ramah kepadanya, seolah ia adalah seorang ratu yang sangat dipuja hari ini.
"Nak, bersiaplah, hari ini keluarga Ustadz Fahri akan datang melamarmu secara resmi, kalian berdua akan bertunangan."
"Bertunangan, Ummi? Dengan lelaki yang seminggu yang lalu datang ke rumah kita?"
Zahra kaget dengan seluruh tubuh yang gemetar, Zahra mencoba memastikan kalau lelaki yang akan menjadi tunagannya adalah lelaki yang waktu itu datang ke rumahnya.
"Iya, Sayang, Ustadz Fahri adalah lelaki yang baik dan tepat untuk menjadi suamimu."
"Sayang, setelah isya keluarga calon tunanganmu dan keluarganya akan datang, jadi bersiaplah!"
Ummi Fatimah meninggalkan Zahra dengan senyum indah yang terlihat menawan, wanita seperuh baya itu memang sangat mengharapkan putri sulungnya itu segera menikah, jadi hari seperti ini adalah hari yang telah beliau tunggu sejak lama, bahkan saking ingin sekali menunggu hari bahagia itu, beliau lupa kalau sang anak tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai.
Zahra sadar, usianya memeng sudah sangat matang untuk berumah tangga, bahkan teman-teman seusianya telah menggendong anak-anak mereka. Selain itu, Zahra selalu menjadi bahan pergunjingan dan tranding topik di lingkungannya. Mereka mengatakan perkataan yang menyinggung hati dan perasaan Zahra, mulai dari hinaan, sindiran bahkan sesuatu yang membuat mental Zahra remuk. Percuma saja cantik dan sukses tapi belum menikah, percuma punya banyak pacar tapi hanya dijadikan permainan bahkan sampai ditinggal nikah, bahkan yang parahnya mereka mengatakan kalau Zahra adalah wanita yang sangat pemilih dalam mencari pasangan. Ya, Zahra akui kalau ia memang memilih lelaki terbaik yang tidak hanya menjadi imamnya di dunia, tetapi juga menjadi imamnya di surga kelak. Rasanya sangat wajar jika seorang wanita mengharapkan lelaki baik-baik untuk menjadi suaminya karena Tuhan juga telah berjanji bahwa wanita baik-baik diciptakan untuk lelaki baik-baik dan begitu sebaliknya, lelaki baik-baik juga diciptakan untuk perempuan baik-baik, karena jodoh itu cermin diri dan jodoh telah ditetapkan karena setiap insan ciptaan Tuhan diciptakan berpasang-pasangan.
Perjalanan cinta yang panjang, terjal dan berliku telah dilewati Zahra, tapi apalah dayanya, ia hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan berdoa, tetapi keputusan akhirnya Tuhan yang menentukan dan Tuhan belum menetapkan waktu terbaik untuk Zahra bertemu dengan jodohnya. Bukan tidak ada lelaki yang datang melamar Zahra, bahkan ada 6-10 orang setahun yang mengajukan diri untuk menjadikan Zahra belahan jiwanya, tapi tetap saja hati Zahra belum terbuka dan bergetar untuk menerimanya. Pernah Zahra memaksakan diri menerima lamaran dari lelaki yang tidak ia sukai karena ingin lari dari pertanyaan kapan menikah, tapi yang namanya bukan jodoh, tetap saja ada jalan Tuhan untuk memisahkan.
__ADS_1
'Zahra, bukankah lelaki dengan pemahaman agama yang tinggi seperti Ustadz Fahri yang selama ini kamu doakan?'
Ucapan bergejolak di dalam hati Zahra, membuat kepala gadis cantik itu terasa teramat pusing seperti ingin pecah. Ya, hati kecil gadis itu bertentangan dengan jalan pikirannya.
Ingin rasanya Zahra menghantamkan kepala ini ke dinding agar ia amnesia dan tidak merasakan sakit lagi, ingin juga ia berteriak dan memaki sangat keras, tapi ia bukanlah wanita yang tidak punya sopan santun, hingga mempermalukan dirinya dan keluarganya di khalayak ramai.
Ah, apapun alasannya tetap saja Zahra tidak bisa menerima perjodohan ini. Ya, kali ini kedua orang tuanya benar-benar telah kelewatan, bagaimana mungkin beliau menentukan hari pertunanganan tanpa meminta pendapatnya.
Hati Zahra semakin sakit dan hancur hingga rasanya ingin mati saja. Hidup yang Zahra miliki kini tidak lagi menjadi miliknya, bahkan pendapat dan keinginannya tidak lagi didengar oleh kedua orang tuanya.
Zahra masuk ke kamarnya, membanting pintu kamar, kemudian menghempaskan tubuhnya di ranjang dalam keadaan hati yang berkecamuk dan sangat hancur.
Zahra merasa tidak berdaya, tidak kuasa menanggung rasa sakit ini sendirian, hingga kesedihan ini ia curahkan lewat butiran-butiran air mata yang mengalir membasahi pipi bulatnya.
Zahra memikirkan berbagai cara agar pertunanganan ini bisa dibatalkan, tapi Zahra berada di jalan buntu, dimana jurang yang menjadi akhirnya. Jika Zahra melangkah maju, maka keluarganya yang akan malu muka, jika ia memilih menerima lamaran itu, maka ia sendiri yang akan dihadapkan pada pernikahan yang tidak ia inginkan seumur hidupnya.
Zahra bukan anak durhaka yang akan menghancurkan hati dan perasaan kedua orang tuanya, sebab memikirkan perasaannya sendiri, karena surganya di dunia adalah kedua orang tuanya, restu Allah ada pada restu kedua orang tua dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua. Namun bagaimanapun Zahra berpikir, tetap saja ia tidak bisa menjalankan ibadah terpanjang dengan lelaki yang tidak ia sukai. Bagaimana mungkin Zahra akan melayani suaminya kelak sementara ia tidak bisa menatap wajahnya, bagaimana rumah tangga yang akan ia bangun kelak sementara ia sendiri tidak memiliki pondasi yang sangat kokoh untuk ditegakkan.
__ADS_1