Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Kekhawatiran Orang Tua


__ADS_3

Rasa kesal ini membuat Zahra membanting bantal guling yang ada di ranjangnya hingga hampir mengenai wajah ayahnya. Ya, sikap yang sangat jauh dari kata sopan.


"Zahra, ada apa, Nak?" ucap abi Abdullah sembari menangkap bantal guling yang Zahra lempar secara tiba-tiba tanpa tahu kalau abi akan masuk ke kamarnya.


"Ma-, maaf, Bi."


Dengan wajah gugup dan rasa bersalah, Zahra menundukkan wajahnya karena ia sama sekali tidak ada niat ingin melemparkan bantal ke wajah ayahnya itu. Zahra sebenarnya juga tidak ingin memperlihatkan kekesalan dan kesedihan hatinya kepada sang ayah, namun apalah yang mau dikata karena semuanya sudah terjadi dan semuanya sudah terlihat nyata di depan mata.


Sementara itu, abi Abdullah berjalan pelan mendekati putrinya. Beliau meletakkan kembali gulingnya di ranjang sang putri, kemudian beliau duduk di samping Zahra dengan wajah teduh yang membuat sang putri semakin merasa bersalah dan berdosa kepada beliau.


"Zahra, ada apa, Nak? Kenapa melempar guling? Apa gulingnya nggak nyaman?"


Abi Abdullah adalah malaikat terbaik yang dikirimkan Tuhan ke dunia untuk mendampingi dan menjaga Zahra. Beliau adalah cinta pertama Zahra dan kebaikan beliau adalah patokan, tolak ukur dan standar Zahra dalam memilih lelaki yang akan menjadi pasangan hidupnya.


"Apa Abi minta Ummi untuk ganti gulingnya, Nak?" tanya Abi Abdullah dengan rasa kasih sayangnya kepada putri kesayangannya. Beliau rela memberikan apa saja untuk kebaikan dan kebahagiaan sang putri, sementara Zahra selalu menjadi anak yang sama sekali belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya.


"Tidak usah, Bi," jawab Zahra dengan nada suara pelan namun masih bisa didengar oleh sang ayah.


"Zahra, apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, Nak?"


Pertanyaan abi membuat Zahra mengangkat kepalanya. Ia kaget karena tidak menyangka jika sang ayah ikut merasakan kalau saat ini putrinya sedang tidak baik-baik saja.


Zahra menatap wajah sang ayah dengan seksama, dimana wajah teduh itu terlihat ingin mendengarkan semua keluh kesahnya.

__ADS_1


"Bi, a-pa Zah-ra boleh mengatakan sesuatu?"


Dengan keragu-raguan dan rasa gugup, akhirnya mulut itu pun mampu mengungkapkan kata demi kata kepada sang ayah. Mencoba merangkat penggalan kata tentang isi hati Zahra yang sesungguhnya.


"Iya, Nak, tentu saja Ara boleh mengatakan apapun karena Abi pasti akan mendengarkannya," jawab abi Abdullah dengan senyum tipis yang terlihat sangat tulus hingga terlihatlah giginya yang terlihat putih bersih meski telah berusia senja.


"Bi-,"


Dengan keragu-raguan, mulut itu tiba-tiba kelu dan tidak sanggup lagi untuk mengungkapkan apapun, seolah bibir ini terjahit dan terkunci rapat, hingga tidak lagi bisa digerakkan sama sekali.


"Nak, katakanlah! Abi akan menjadi pendengar yang baik untukmu dan Abi juga pasti akan memberikan solusi terbaik jika memang kamu memerlukan solusi dari Abi," jelas Abi Abdulllah yang membuat butiran kristal-kristal bening membanjiri pipi Zahra. Rasanya terharu dan sangat bersyukur karena ia memiliki seorang ayah yang sangat baik seperti malaikat yang selalu melindungi dan ada dalam setiap suka dan dukanya.


"Kenapa menangis, Nak? Apakah saat ini Zahra sedang bertengkar dengan Nak Fahri?" tanya abi Abdullah sembari menghapus air mata yang jatuh membanjiri pipi Zahra.


"Zahra, ada Nak Fahri diluar."


Ummi Fatimah berteriak sangat kencang dari balik kamar Zahra, hingga Zahra tidak lagi bisa melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.


Ya, Zahra dan ayahnya menatap ke pintu, disana terlihat ummi sedang tersenyum. Sungguh, terlihat sangat jelas sekali kalau ummi sangat senang dan bahagia karena calon menantu kesayangannya datang berkunjung ke rumah mereka. Bahkan wajah kebahagiaan juga tergambar jelas di wajah tampan abi. Namun tidak dengan Zahra, ia merasa tidak senang dengan kedatangan lelaki itu, bahkan lelaki itu menghancurkan waktunya bersama abi, sehingga keinginannya untuk berkata jujur tidak bisa direalisasikan untuk saat ini. Sungguh, Zahra sudah tidak tahu lagi waktu seperti tadi akan datang di kehidupannya.


"Nak, sepertinya calon menantu Abi ada diluar, kamu senang 'kan?"


Abi Abdullah juga tidak kalah antusias dan bahagia mendengar calon menantunya ada di rumah mereka. Sungguh, kedua orang tua Zahra terlihat tertawa lepas dengan pancaran kebahagiaan yang terlukis jelas di wajah keduanya. Ya, keduanya sangat mengharapkan menantu laki-laki satu-satunya di keluarga mereka yang akan menemani putrinya dan menjadi imam untuk putri kesayangannya itu. Bahkan, Zahra sendiri juga sangat mengharapkan hal yang sama, ingin menikah dengan lelaki yang melengkapi separuh dari agamanya, akan tetapi Zahra menginginkan seorang lelaki yang ia cintai dan lelaki itu pun mencintai Zahra karena Allah, bukan lelaki yang ia nikahi karena terpaksa.

__ADS_1


"Bi, Ara capek, apa boleh Ara istirahat saja?"


Kata-kata yang keluar dari lisan Zahra membuat senyum sumringah dari wajah sang ayah akhirnya memudar.


"A-pa mak-sud kamu, Nak?" tanya abi Abdullah dengan nada suara ragu dan wajah yang terlihat kaget karena tidak percaya dengan apa yang beliau dengar.


"Zahra tidak ingin bertemu dengan siapapun sekarang karena Ara ingin tidur, Bi," ungkap Zahra sembari memiringkan wajahnya menatap ke arah dinding, memunggungi sang ayah karena Zahra sedang tidak ingin menjelaskan pernyataan yang keluar dari lisannya kepada sang ayah untuk saat ini.


Zahra tahu dan sangat sadar kalau berbohong adalah dosa besar, namun tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menghindar agar tidak bertemu dengan lelaki yang notabenenya adalah calon suaminya itu.


"Nak Fahri sudah ada di ruang tamu, mau tidak mau suka tidak suka kamu harus menemui calon suamimu, karena niatnya tulus datang kesini untuk menjenguk mu," sela ummi Fatimah yang saat ini telah berada di kamar sang putri.


"Mi, anak kita capek, butuh istirahat," ucap Abi Abdullah yang sepertinya paham dengan kondisi sang putri sekarang ini.


"Niat Nak Fahri baik, Bi, dia hanya ingin menjenguk calon istrinya yang sedang sakit, haruskah kita menolak atau mengusir tamu yang berkunjung ke rumah kita, Bi?"


Ummi dan abi berdebat perkara lelaki yang bernama Fahri itu, perdebatan yang tidak akan pernah berakhir jika Zahra tidak berteriak sangat keras.


"Zahra tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa sekarang, Ara ingin tidur, titik!"


Zahra menutup wajahnya dengan selimut, kemudian ia tutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Zahra benar-benar sangat stres dan tidak sanggup lagi mendengarkan atau membahas apapun yang berhubungan dengan lelaki itu. Zahra ingin tenang dan ia ingin hidup nyaman setidaknya sampai pikirannya kembali jernih.


"Zahra, apakah lelaki yang bernama Alex itu yang membuatmu menjadi pembangkang dan durhaka kepada orang tua seperti sekarang?" bentak ummi Fatimah.

__ADS_1


.


__ADS_2