
Rasa khawatir terlihat jelas di wajah ummi Fatimah, takut hal buruk menimpa putri kesayangannya.
"Zahra ingin berbicara sebentar dengan lelaki ini."
Zahra menunjuk Adrian dengan tatapan sayu, tersirat sejuta tanya di hatinya.
Dengan berat hati, ummi Fatimah terpaksa menuruti keinginan puti kesayangannya.
"Terima kasih," ucap Zahra sembari tersenyum manis kepada Adrian.
Kemudian Zahra membalikkan badannya, berjalan menuju pojok ruang rawat inapnya. Ia duduk di lantai, bersembunyi dan menutupi dirinya di balik gorden.
Ummi Fatimah tidak bisa lagi membendung air matanya, beliau tidak kuasa melihat putri kesayangannya bertingkah seperti manusia yang tidak ingin hidup namun tidak bisa mati.
"Tante, sabar!"
Adrian berusaha menenangkan Ummi Fatimah karena hanya itu yang bisa dilakukannya untuk meringankan beban keluarga Zahra.
"Terima kasih, Nak," ucap Ummi Fatimah terisak.
"Assalamualaikum," terdengar dari luar ruangan suara seorang lelaki paruh baya, beliau adalah abi Abdullah.
"Waalaikumsalam, Abi ...."
Ummi Fatimah langsung berlari menghampiri abi Abdullah dan langsung menjatuhkan dirinya pelukan suami kesayangannya itu.
"Mi, apa yang terjadi dengan Zahra? Di mana anak kita sekarang?"
Abi Abdullah melihat sekeliling ruangan, namun tidak menemukan keberadaan putrinya.
"Bi," Ummi Fatimah mengangkat tangannya, menunjuk ke sudut ruangan tempat di mana Zahra bersembunyi.
Abi Abdullah melepaskan pelukannya dari ummi Fatimah, beliau berjalan pelan menghampiri putri kesayangannya itu.
"Zahra, ini Abi, Nak. Abi datang!"
Abi Abdullah membuka tirai gorden, menatap putri kesayangannya dalam keadaan hilang arah, tatapannya terlihat kosong, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Sungguh, keadaan yang membuat hati orang tua akan hancur berantakan.
"Sayang, kemarilah!" Abi Abdullah mengulurkan tangannya, berharap putrinya akan meraih tangan itu dan datang ke pelukannya.
__ADS_1
Zahra tetap diam dalam kebisuan, pikirannya terlihat kosong dan tanpa ruang.
"Zahra, Abi sangat sayang sama kamu, Nak! Kamu putri satu-satunya dan kamu adalah belahan jiwa Abi."
Papa Gunawan tersenyum, senyum yang terlihat kuat, walau dipaksakan, mencoba memberikan dukungan dan semangat kepada sang putri lewat kelembutan, cinta dan kasih sayang.
Abi Abdullah memeluk Zahra sembari membelai lembut rambut putrinya yang saat ini terurai panjang.
Sementara itu Adrian yang terlihat iba, mulai merasa tidak nyaman berada diantara keluarga Zahra.
"Tante, saya permisi dulu." Adrian undur diri dengan ramah dan sopan.
"Tidak, jangan pergi!" ucap Zahra yang berada dalam pelukan Abi Abdullah langsung berteriak histeris.
Zahra benar-benar sudah tidak bisa lagi dikendalikan, ia berlari mengelilingi ruang rawat inap sembari tertawa terbahak-bahak. Ia menjatuhkan semua barang-barang yang dilihatnya terletak di atas meja, ia juga membuat ranjang rumah sakit berantakan. Ia mengacak-acak rambutnya, seperti orang stres.
"Zahra ...." Adrian berusaha mengejar Zahra, namun langkah kakinya sangat cepat, hingga Adrian terpaksa mengeluarkan tenaga extra untuk mengejar gadis cantik itu.
"Zahra, tolong jangan seperti ini!" Isak tangis ummi Fatimah semakin menjadi, hati beliau benar-benar tergores dan hancur.
"Zahra, aku ingin bicara!"
Adrian berhasil menggenggam tangan Zahra dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Adrian membelai rambut Zahra dengan lembut, hingga gadis itu langsung tenang dan diam.
"You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy," ucap Zahra tiba-tiba saja bergumam menyanyikan lagi My Only Sunshine yang dipopulerkan oleh Johnny Cash. Beberapa kata dinyanyikan Zahra dengan lembut dan merdu, kemudian ia langsung tertidur pulas dalam pelukan Adrian.
"Zahra, Ara ...," Adrian memanggil-manggil nama Zahra karena ia mengira gadis itu pingsan, namun dengkuran gadis cantik itu membuat senyum mengembang di wajah Adrian, pertanda kalau ia merasa lega.
Adrian langsung menggendong Zahra dan membaringkan gadis itu di ranjangnya.
"Tidurlah yang nyenyak, Zahra!" Adrian menyelimuti Zahra dengan penuh kelembutan. Terlihat sekali kalau Adrian adalah lelaki penyayang.
Dan ketika Adrian ingin pergi, Zahra menarik tangannya hingga ia tidak bisa lagi kabur ke mana-mana kecuali duduk di kursi tunggu sembari menatap wajah Zahra yang cantik.
Zahra terlihat seperti putri tidur yang sedang menunggu pangeran tampan membangunkannya dari tidur panjang.
'Kasihan sekali kamu,' ucap Adrian di dalam hati sembari menatap wajah Zahra.
__ADS_1
"Nak Adrian." Ummi Fatimah memegang pundak Adrian hingga membuyarkan lamunan lelaki tampan itu.
Adrian menengadahkan wajahnya menatap wajah ummi Fatimah dengan seksama.
"Iya, Tante, kenapa?" tanya Adrian lembut dan sopan.
"Apakah Om dan Tante boleh bicara dengan Nak Adrian sebentar?"
Wajah ummi Fatimah terlihat memohon, besar harapannya kalau Adrian mau berbicara dengannya.
Tanpa ragu Adrian langsung berkata, "Tentu saja boleh, Tante." Adrian berbicara lembut dan sangat sopan.
"Bagaimana kalau kita berbicara di luar saja, Nak? Tante tidak mau Zahra terbangun mendengarkan suara kita yang berisik," ucap ummi Fatimah lembut.
"Baik, Tante."
Adrian melepaskan tangannya dari Zahra dengan lembut. Pelan-pelan dan hati-hati, berharap Zahra tidak terbangun.
Sungguh, seorang gadis cantik yang selalu ceria dengan senyum mengembang yang selalu tergambar jelas di wajahnya, langsung berubah menjadi gadis yang berbeda. Hingga semua orang yang dekat dengannya merasa teramat sangat iba dan tidak tega. Bahkan, Adrian yang bukan siapa-siapa, juga merasa sangat iba melihatnya.
Adrian, abi Abdullah dan ummi Fatimah berjalan pelan ke luar dari ruang rawat inap. Duduk di kursi tamu yang berada di lorong rumah sakit dengan hati dan perasaan gundah gulana.
"Silahkan duduk, Nak Adrian!"
Ummi Fatimah mempersilahkan Adrian duduk sembari tersenyum yang terlihat berat. Duka dan kesedihan yang dirasakan tergambar jelas di wajah kedua orang tua Zahra yang berusaha tetap tegar.
"Terima kasih, Tante."
Adrian duduk di samping abi Abdullah dengan rasa khawatir yang tidak bisa dihindarkan.
"Adrian, Om," Adrian mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya kepada abi Abdullah.
Abi Abdullah menatap Adrian dengan seksama, tatapa mengiba penuh dengan kekhawatitan yang teramat sangat. Kemudian memegang kedua punda Adrian dengan kedua tangannya.
"Nak Adrian, Om berterima kasih karena kamu telah membantu Zahra. Om sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membalas kebaikanmu, Nak!" Suara abi Abdullah terdengar lemah, sepertinya ia berusaha menahan tangis dan kesedihan hatinya.
Ya, hati ayah mana yang tidak akan tergores melihat putri kesayangannya bertingkah tidak normal.
"Jangan berterima kasih seperti itu, Om, saya hanya kebetulan lewat," jawab Adrian agar kedua orang tua Zahra tidak merasa direpotkan, karena sebagai sesama manusia sudah selayaknya Adrian membantu sesama.
__ADS_1
"Nak Adrian, kalau boleh Tante minta tolong dan merepotkan kamu lagi, Nak!" Kali ini giliran ummi Fatimah yang menggenggam tangan Adrian dengan penuh harap.
Sikap yang membuat Adrian semakin tidak tega untuk menolaknya, namun Adrian juga tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.