
Zahra berteriak sangat keras sembari mengacak-acak rambutnya, rasanya kepala ini terasa teramat sangat sakit dan tubuh ini juga merasakan ketidaktenangan yang teramat sangat.
Zahra merasa hidupnya sudah tidak lagi berarti dan bermakna hingga rasa sakit ini membuat Zahra bertindak tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Zahra memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak sekarang dengan sangat keras. Entah apa yang terjadi pada diri Zahra, seolah ada jarum-jarum tajam yang menusuknya. Tidak hanya itu, kepalanya terasa berdenyut-denyut bahkan dunianya serasa berputar hingga rasa pening menyelimuti dirinya, dan akhirnya Zahra menghantamkan kepalanya ke dinding yang sangat keras dengan harapan agar semua sakitnya berkurang. Namun, kepala itu seperti mati rasa, Semakin kuat dihantam sakitnya semakin tidak terasa berkurang.
"Ara, Zahra, apa yang terjadi, Nak?"
Abi Abdullah berlari menghampiri sang putri kesayangan dengan sejuta rasa khawatir yang tergambar jelas di wajah beliau. Sang ayah menghentikan putri kesayangan menyakiti dirinya sendiri, namun Zahra tidak ingin berhenti sama sekali, ia terus menepuk-nepuk dada sembari menghantamkan kepalanya ke dinding.
"Sayang, ada apa, Nak?" apa yang terjadi?"
Dalam kekhawatiran, abi Abdullah memegang kedua tangan sang putri, mencoba menghentikan aksi sang putri untuk menyakiti diri sendiri. Dengan kasih sayang dan cinta seorang ayah, abi Abdullah menepuk-nepuk lembut punggung g sang putri sembari memeluk gadis cantik yang kini tidak berdaya itu.
Sejujurnya, pelukan hangat seorang ayah yang Zahra rasakan membuat perasaannya menjadi lebih baik dan lebih tenang. Kasih sayang seorang ayah kepada anaknya yang diungkapkan lewat bahasa tubuh membuat air mata jatuh membanjiri pipi Zahra. Tapi entah mengapa Zahra terlalu sulit untuk berbicara.
"Nak, apa yang sebenarnya terjadi?"
Abi Abdullah menatap wajah Zahra yang kini telah bergelimang darah dan bercampur dengan air mata. Sungguh, pemandangan yang membuat hati sang ayah tergores dan terluka.
Abi Abdullah tetap bersikap tenang, beliau membawa sang putri untuk duduk, kemudian beliau menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi putrinya itu.
"Suster, tolong ambilkan kotak P3K," teriak abi Abdullah dengan kepanikan yang tergambar jelas di wajahnya.
__ADS_1
"A-apa yang terjadi, Tuan?" ucap sang suster yang berlari memasuki kamar Zahra dengan kepanikannya.
"Tolong bersihkan luka anak saya sekarang!" pinta abi Abdullah.
"Baik, Tuan."
Suster bergegas mengambil perlengkapan P3K untuk mengobati luka Zahra.
Suster duduk di depan Zahra, untuk membersihkan kening sang gadis yang terluka. Sementara abi Abdullah duduk di sebelah sang putri dengan tangan yang menggenggamnya tangan putri kesayangannya itu.
Zahra merasakan keberadaan abi Abdullah yang menguatkannya. Ya, kini abi Abdullah menatap Zahra dengan seksama, tatapan yang penuh dengan sejuta tanda tanya. Sungguh, perasaan seorang ayah pasti akan sangat terluka melihat kondisi anaknya sedang tidak baik-baik saja, bahkan tanpa dikatakan dan dijelaskan saat ini abi Abdullah paham kalau putri kesayangannya ini sedang menanggung beban yang sangat berat sekali saat ini.
"Aw, sakit! Pelan-pelan dong, Suster!" ucap Zahra dengan nada suara membentak dan volume tinggi hingga membuat sang ayah pun bereaksi mengecek kondisi sang putri.
"Apa yang terjadi? Kenapa berteriak-teriak?" sorak ummi Fatimah dari balik kamar sang putri.
Krek ...
Pintu kamar Zahra terbuka lebar dengan ummi Fatimah yang ada di depannya. Wajah sang ibu terlihat menyimpan semua emosi dan amarah yang teramat sangat, apalagi ketika melihat keadaan Zahra yang babak belur karena sebuah masalah.
"Apa yang terjadi? Apa anak kesayangan Abi itu sedang menyiksa dirinya sendiri?" tanya ummi Fatimah dengan mata melotot menatap ke arah Zahra. Ya, untuk sesaat dua pasang bola mata saling menatap dengan sejuta bahasa yang disampaikan lewat bahasa tubuh.
__ADS_1
"Ummi, apaan sih! Anak kita sedang sakit malah dimarahi," omel abi Abdullah sembari menggenggam erat tangan ummi Fatimah seolah tidak ingin dilepaskan sama sekali.
"Memang kenyataannya seperti itu, anak kesayangan Abi itu telah berulah dan durhaka kepada orang tua!" ucap ummi Fatimah lantang dengan sejuta amarah yang tergambar jelas di wajah cantik beliau.
Namun, kata-kata durhaka yang keluar dari lisan ummi Fatimah seperti sengatan petir yang menyambar seluruh tubuh Zahra, hingga ia merasa menggigil dan kesakitan. Sudah dua puluh tujuh tahun ia hidup di dunia ini, baru ini kali pertama Zahra dan ibunya saling bermusuhan, mengeluarkan kata-kata yang saling menyinggung hati dan perasaan, bahkan amarah memuncak membuat mereka berdua saling membenci satu sama lain hingga tidak ingin saling memandang.
"Ummi, jangan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak seperti itu, sekarang Ummi masak yang enak untuk anak kita karena Zahra harus makan dan minum obat sekarang agar ia bisa bertahan hidup," jelas abi Abdullah terdengar sangat tegas sembari menarik tangan ummi Fatimah untuk keluar dari kamarnya, namun ummi Fatimah bersitegang untuk tetap ada di dalam kamar, seolah semua beban di hatinya belum tertumpahkan kepada sang putri.
"Dia 'kan bisa jalan sendiri? Bisa masak sendiri, Kenapa harus dimasakin? Ah lagian ngapain membantu orang yang ingin mati!" celoteh ummi Fatimah yang masih tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh abi Abdullah.
Sikap ummi Fatimah saat ini benar-benar sangat berbeda, bahkan saat ini ia tidak lagi bertingkah seperti seorang ibu yang sangat mencintai putrinya, padahal selama ini ummi Fatimah adalah wanita yang sangat mencintai dan menyayangi Zahra dengan sepenuh hatinya.
"Zahra ingin tidur ...!"
Zahra berteriak keras dengan mata melotot kepada kedua orang tuanya, sembari mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Zahra benar-benar sangat stres dan hilang arah hingga tidak ingin lagi bertengkar atau mendengarkan ocehan ummi Fatimah.
"Zahra, apa yang terjadi padamu, Nak?"
Abi Abdullah melepaskan tangan ummi Fatimah, beliau berlari menghampiri sang putri, memberikan sebuah pelukan hangat penuh cinta dan kasih sayang dari seorang ayah kepada putri kesayangannya.
"Nak, tenang ya!" ucap abi Abdullah sembari menepuk-nepuk pundak Zahra untuk menenangkan hati dan perasaan sang putri.
__ADS_1
"Zahra tidak ingin menikah! Jadi tolong jangan memaksakan apapun lagi sekarang!" ucap Zahra dengan teriakkan yang berkurang beberapa oktaf dari nada la ke nada do.