
Zahra terdiam dan pasrah, karena tidak ada juga yang bisa ia lakukan selain menurut, karena kesehatannya juga sangat penting sekarang, agar kedua orang tuanya tidak khawatir kepadanya.
"Nona, maaf, saya izin membersihkan lukanya ya!"
Suara ramah dan dikerjakan dengan kelembutan tidak membuat Zahra diam. Ya, walaupun luka kecil karena goresan, Zahra tetap saja berteriak kesakitan seperti anak TK umur lima tahun yang merengek ketika tangannya terluka.
"Aw, sakit, Suster!" rengek Zahra manja dengan mata yang tertutup menahan sakit.
"Tidak apa-apa, Nona, ini sudah selesai. Sekarang Nona istirahat ya!" jelas sang perawat dengan senyum manis yang ia berikan.
"Terima kasih, Suster," ucap Zahra membalas dengan senyuman yang bercampur kesakitan.
"Tuan, jaga istrinya baik-baik, jangan sampai nekat membuka infus lagi, kalau begitu saya pamit ya."
"Istri?" ucap Zahra dan Alex serentak dengan mata melotot ke arah perawat yang berjalan pergi meninggalkan mereka.
Entah mengapa, kata-kata istri itu terdengar sangat asing di telinga Zahra, namun sudah lama sekali gadis itu bermimpi ingin menjadi istri seseorang, istri saleha yang dirindukan surga.
"Aku ingin menelpon Ummi!"
Hanya itu kata-kata pembuka yang bisa Zahra ungkapkan untuk memecahkan kebisuan dan keheningan antara Zahra dan Alex.
"Ini!"
Alex menyodorkan ponsel kepada Zahra dengan sikap dinginnya, kemudian ia keluar dari kamar Zahra seolah memberikan ruang untuk Zahra untuk berbicara dengan orang tuanya.
Sekarang Zahra menekan tombol ponsel dan menghubungi ummi-nya tanpa mempedulikan keberadaan Alex.
[Assalamualaikum, Ummi] sapa Zahra lembut.
[Waalaikumsalam, Nak, kamu dimana? Kenapa sudah larut begini belum pulang juga?]
__ADS_1
Celotehan seorang ibu yang selalu Zahra dengar di telinganya, ketika ia terlambat pulang ke rumah. Ya, Zahra sangat tahu dan paham sekali bagaimana khawatir dan risaunya hati orang tua ketika anak gadisnya belum pulang ke rumah apalagi saat malam hari, dan itu juga salah satu alasan kenapa kedua orang tua Zahra sangat ingin sekali ia menikah, agar ada yang menjaga, melindungi dan memperhatikannya.
[Ummi, Ara sekarang di rumah sakit.]
Zahra berusaha memberikan jawaban terbaik, menjelaskan dengan selembut dan sebaik mungkin agar ibunya tidak panik dan syok.
[Ru-rumah sa-kit, Nak?]
Jawaban terbata-bata itu sudah cukup membuktikan kalau saat ini ummi sedang tidak baik-baik saja.
[Ummi, Ara baik-baik aja kok, hanya kelelahan]
[Ummi dan Abi akan segera ke rumah sakit, Nak!]
Rasanya di usia yang sudah hampir kepala tiga seperti ini tidak seharusnya Zahra merepotkan dan membuat khawatir orang tuanya. Harusnya, di usia senja beliau, Zahra membahagiakan orang tuanya, tapi untuk keinginan terakhir beliau saja Zahra masih belum sanggup mewujudkannya.
'Mas Alex dimana ya?'
"Mas, kamu dimana?"
Zahra memanggil-panggil Alex dengan nada suara tinggi, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Aneh memang, karena Alex bukanlah orang yang suka pergi tanpa pamit.
Zahra meraih ponselnya kembali, mencoba menghubungi Alex, namun beberapa kali panggilan, tidak ada jawaban apapun dari Alex.
Hati Zahra mulai meragu, ada perasaan dimana Alex pergi dan meninggalkannya sendirian di rumah sakit karena lelaki itu tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Ada rasa aneh dan rasa mengganjal dari dalam hati Zahra, apakah mungkin Alex adalah lelaki yang tidak tulus kepadanya. Ya, lagi dan lagi perasaan ragu itu muncul dalam hati dan benak Zahra.
[Mas, kamu dimana? Aku takut!]
__ADS_1
Pesan singkat yang Zahra kirimkan dengan harapan Alex segera muncul dihadapan Zahra, karena Alex adalah lelaki yang tidak akan pernah tega melihat ia kesakitan dan ketakutan.
Dalam kegelisahan, Zahra terus menatap layar ponsel dan jam dinding. Ternyata sudah hampir sejam Alex pergi meninggalkannya tanpa ada kabar berita apapun.
"Ara, Sayang, kamu tidak apa-apa, Nak?"
Ummi dan Abi tiba-tiba datang menghampiri putri kesayangannya itu, dengan sejuta kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah keduanya.
"Ara tidak apa-apa kok, Mi, Abi," ucap Zahra dengan memberikan senyum terbaiknya kepada ummi dan abi-nya.
Ummi langsung memeluk Zahra, kemudian memeriksa seluruh tubuh putrinya, memastikan keadaan Zahra baik-baik saja dan tidak terluka sedikitpun.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di rumah sakit dan siapa yang membawa kamu kesini, Nak?" tanya abi dengan kegelisahan di hatinya.
"Ara diantar sama Alex, Bi," jawab Zahra dengan nada suara lemah, namun masih bisa terdengar jelas oleh kedua orang tuanya.
"Alex? Lelaki yang tidak punya nyali itu? Dimana dia sekarang?" ucap ummi dengan wajah memerah penuh dengan amarah dan ketidaksukaan.
Ummi Fatimah terlihat sangat emosi dan marah besar kepada putri kesayangannya itu. Sungguh, matanya membelalak dengan rona wajah yang berubah masam ketika mendengar nama Alex disebut.
Sampai saat ini Zahra tidak tahu kesalahpahaman apa yang terjadi antara Alex dengan ummi Fatimah, hingga ummi Fatimah selalu emosi dan marah mendengar nama Alex disebut oleh putrinya, padahal saat pertama kali Zahra menceritakan perkenalan pertamanya dengan Alex, ummi adalah orang pertama yang sangat antusias ingin dikenalkan kepada lelaki itu.
"Ummi, sudah, ini rumah sakit, jangan ribut-ribut disini," ucap Abi Abdullah sembari mengelus-elus lembut punggung ummi Fatimah.
"Ummi benar-benar tidak suka mendengar nama lelaki tidak bernyali itu, Abi," celoteh ummi Fatimah yang terdengar sudah sedikit melunak dari sebelumnya, karena abi Abdullah adalah orang yang bisa menenangkan hati sang istri lewat tutur kata dan kelembutan hatinya.
"Ummi, jangan membenci secara berlebihan begitu, Alex bukan lelaki yang jahat seperti yang Ummi pikirkan."
Zahra sangat tahu kalau ummi Fatimah tidak suka dengan Alex, walaupun sebelumnya ummi sangat penasaran dengan lelaki itu. Tapi entah mengapa hati kecil Zahra tidak terima jika ummi tidak menyukai Alex karena lelaki itu adalah lelaki yang sangat baik menurut Zahra.
Bagi seorang wanita, restu dari kedua orang tua untuk menikah adalah hal yang paling utama, namun jika ummi dan Alex tidak akur bagaimana mungkin Zahra bisa memperkenalkan Alex kepada orang tuanya karena keduanya sudah saling tidak suka walaupun belum pernah bertemu, terlebih lagi Alex juga menghilang saat keluarga Zahra datang ke rumah sakit. Wajar memang ummi Fatimah mengatakan kalau Alex adalah lelaki yang tidak bernyali seperti yang dikatakan oleh ummi beberapa waktu lalu dan Zahra juga tidak bisa menapis itu, tapi tetap saja Zahra yakin kalau Alex punya alasan tersendiri, dan gadis cantik itu juga percaya kalau Alex adalah lelaki yang sangat baik.
__ADS_1
'Apa yang kamu pikirkan, Zahra? Apakah kamu punya harapan lebih terhadap Alex?' batin Zahra.