Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Malaikat Penyelamat


__ADS_3

"Maaf!" hanya itu kata-kata yang ke luar dari mulut Zahra.


Zahra kemudian melihat sebuah keranda mayat turun dari rumah Raka, keranda yang akan di bawa ke mesjid untuk di salatkan.


Pikiran Zahra kacau, hatinya hancur dan sangat terluka karena ia baru sadar kalau ia telah pergi terlalu lama, ia bahan tidak bisa melihat wajah Raka sebelum ditutup kain kafan karena ia tertidur di mobil dengan perasaan gundah gulana dimana ia mengira kalau Adrian adalah kekasihnya yang dianggapnya Raka.


Tanpa pikir panjang, Zahra berlari mengikuti keranda mayat dengan langkah tertatih-tatih. Gaun pengantin yang harusnya dipakai di hari akad nikahnya, malah dipakai untuk mengantarkan mayat kekasih hatinya ke liang lahat.


Hati Zahra seperti tergores pisau, ketika mayat yang siap disalatkan itu akan dibawa ke tempat pemakaman umum yang lokasinya masih disekitar komplek perumahan mewah itu.


Zahra menangis dan terus merintih, ketika menyaksikan satu persatu tanah menutupi liang lahat calon suami yang teramat sangat dicintainya itu.


"Mas Raka, jangan tinggalkan aku!" Zahra berteriak histeris seperti orang gila yang tidak tahu arah dan tujuan.


"Zahra, sadar, Nak!"


Ummi Fatimah memeluk putri kesayangannya itu. Beliau menepuk-nepuk lembut pundak Zahra untuk menenangkan putri kesayangannya.


"Ummi, kenapa Mas Raka pergi meninggalkan Zahra?" Isak tangis Zahra tidak bisa lagi dibendungnya.


Hidup Zahra hancur!


Zahra hidup tapi seolah tidak bernyawa, bahkan Zahra merasakan kalau kakinya juga sudah tidak lagi menginjak bumi.


"Ma, Zahra sudah tidak ingin hidup lagi," ucap Zahra lemah dan tidak berdaya.


"Zahra, jangan bicara seperti itu, Nak. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Jadi, Zahra harus kuat, Sayang!" Air mata kesedihan juga tidak bisa lagi di tahan oleh ummi Fatimah, ibunya Zahra.


"Zahra tidak kuat lagi, Ummi."


Mata Zahra tertutup rapat, tangannya yang memeluk ibunya juga terlepas. Zahra pingsan dan tidak lagi sadarkan diri di pemakaman Raka, kekasih hatinya yangvtelah tiada.


Tragis, hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi pasangan pengantin baru di pelaminan, malah menjadi hari berduka di pemakaman.

__ADS_1


"Zahra ..., sadar, Nak! Sadar, Sayang!" pekik ummi Fatimah.


Fokus mata orang yang hadir di pemakaman menjadi terpecah, sebagian masih berduka menangisi kepergian Raka dan sebagian lagi panik melihat Zahra yang sudah tidak lagi sadarkan diri.


"Tolong ...!" hanya itu kata-kata yang ke luar dari mulut ummi Fatimah sembari menangis.


Lalu dengan sigap, Adrian datang menghampiri Zahra dan ummi Fatimah. Adrian menatap mata ummi Fatimah, seolah isyarat meminta izin untuk membantu.


Adrian menggendong Zahra yang tidak sadarkan diri itu kedalam pelukannya, kemudian berlari sangat cepat menuju mobilnya. Wajah Adrian juga terlihat sangat khawatir dan panik, gambaran wajahnya seolah berkata, "Bertahanlah, aku akan ada untukmu!"


Dengan bergegas Adrian membukakan pintu mobilnya dan membawa Zahra menuju rumah sakit terdekat dengan ditemani oleh ummi Fatimah.


"Sayang, bertahanlah, Nak!" ucap ummi Fatimah dalam tangis dan kepiluan hatinya.


Tangisan ummi Fatimah membuat Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, anehnya hati Adrian juga merasakan khawatir yang teramat sangat kepada Zahra.


"Tante yang sabar ya, jangan menangis!"


Adrian juga tidak tahu bagaimana caranya menenangkan hati ummi Fatimah, ia bukanlah tipe anak yang dekat dengan orang tuanya.


Meskipun tidak mengenal Adrian, namun ummi Fatinah berusaha meluapkan isi hatinya dengan menceritakan semua yang dirasakan di hatinya kepada Adrian, agar hatinya merasa lega.


Ummi Fatinah awalnya memang tidak merestui keinginan Zahra untuk menikah dengan Raka, ia merasakan firasat yang tidak enak di hatinya, bukan karena ia tidak menyukai Raka, hanya saja nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan kalau Raka bukanlah jodoh Zahra. Namun, Zahra bersikeras untuk tetap melanjutkan pernikahan mereka dan mengancam akan kawin lari jika ummi Fatimah tidak merestui.


Ternyata feeling seorang ibu tidak pernah salah, hari ini ummi Fatimah harus melihat anak kesayangannya hancur dan terluka perkara cinta yang pergi untuk selamanya.


Kesedihan dan luka mendalam yang dirasakan Zahra saat ini, seperti anak panah yang mengenai sasaran tepat di hatinya. Terluka namun tidak mati, begitulah rasanya dan sakit itu juga melukai perasaan ummi Fatimah.


"Mohon maaf, Tante, kita sudah sampai di rumah sakit."


Tanpa disadari ummi Fatimah, Adrian telah membukakan pintu mobilnya dan bersiap untuk menggendong Zahra agar segera ditangani dokter di rumah sakit ini.


Untuk sesaat Adrian melihat ummi Fatimah bengong, sepertinya pikiran beliau sudah tidak lagi di badannya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengan ...," belum selesai melanjutkan ucapannya Adrian langsung menggendong tubuh ideal Zahra dan berlari memasuki rumah sakit.


Sementara ummi Fatimah terus menghapus air matanya dan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menemani putri kesayangannya itu. Ummi Fatimah ingin terlihat kuat dan tegar ketika Zahra membuka mata nanti.


"Suster, tolong!"


Dengan nafas ngos-ngosan Adrian akhirnya meletakkan Zahra di ranjang rumah sakit dan mendapatkan perawatan dari dokter.


Adrian menatap gadis cantik itu seperti putri tidur dengan gaun pengantin cantik yang membalut tubuh langsingnya. Bentuk tubuh ideal dengan tinggi sekitar 170 cm itu lebih cocok menjadi seorang artis atau model.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?"


Ummi Fatimah segera menghampiri dokter yang baru saja selesai memeriksa Zahra.


"Anak Ibu sepertinya saat ini mengalami syok dan trauma berat, hingga ia tidak sadarkan diri. Sepertinya karena beban hidup yang sangat berat di pundaknya itu sudah tidak kuat lagi ditanggungnya," jelas dokter.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang, Dokter?"


Ummi Fatimah menatap tajam mata dokter dengan tatapan penuh harap dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi pipinya.


"Setelah ia sadar hiburlah! Saat ini yang ia butuhkan adalah dukungan dan semangat dari orang-orang tersayang agar mentalnya kembali membaik."


Kata-kata tenang namun bermakna pedih yang diucapkan dokter, cukup membuat hati dan perasaan ummi Fatimah tergores hingga tidak lagi bisa berkata-kata. Ummi Fatimah tersungkur ke lantai sembari memukul-mukul kepalanya.


"Yang sabar, Bu! Saya yakin anak Ibu sebentar lagi juga akan pulih."


Dokter tersenyum, sepertinya senyum itu untuk memberikan semangat dan kekuatan kepada keluarga pasien.


"Baiklah, Dokter, terima kasih banyak," ucap Adrian.


Adrian mengantarkan sang dokter sampai di depan pintu sembari tersenyum, ia bersikap ramah mewakili keluarga pasien.


Setelah dokter meninggalkan ruang inap tempat Zahra di rawat, Adrian berjalan menghampiri ummi Fatimah.

__ADS_1


"Tante, bangunlah!"


Adrian mengulurkan tangannya dan membantu ummi Fatimah


__ADS_2