Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Ketahuan


__ADS_3

Dengan suara lembut namun terdengar tidak sopan, Zahra berjalan menuju tempat tidurnya. Ia tidak ingin menghampiri ummi atau berdebat dengan beliau. Sikap tidak sopan dan sangat tidak menghargai orang tua itu membuat darah ummi Fatimah semakin mendidih.


"Zahra, Ummi tidak pernah mengajarkan kamu tidak sopan seperti itu," ucap ummi Fatimah dengan nada suara yang lebih tinggi, namun Zahra memilih untuk tetap mengabaikan beliau, karena ia tidak ingin kata-kata yang ia tahan di dalam dada itu akan meluap hingga mulut itu mengeluarkan kata-kata mutiara yang akan melukai hati dan perasaan ummi. Walaupun sebenarnya tanpa ia sadari sikap dan perilakunya ini telah menggoreskan luka di hati ibunya.


"Zahra, kamu benar-benar kelewatan ya!"


Ummi Fatimah berjalan cepat menghampiri putrinya, tangan beliau menggenggam bahu sang putri hingga tubuhnya dibalikkan hingga menghadap ke arah beliau.


"Sejak kapan kamu menjadi kurang ajar seperti ini, Zahra?" teriak ummi Fatimah dengan emosi memuncak.


"Ummi juga tidak menghargai Zahra."


Ucapan sinis dan membangkang yang keluar dari lisan Zahra cukup membuktikan kalau ia sudah mengeluarkan isi hatinya. Ya, sikap membangkang dan melawan seorang anak yang lebih dikategorikan kepada durhaka kepada orang tua.


"Apa kamu benar-benar Zahra putri Ummi?"


Ummi Fatimah mendekati putrinya dengan mata melotot, terlihat juga amarah bercampur dengan kekecewaan, karena sejatinya seorang ibu tidak akan senang melihat anak yang dididik dan dibesarkan dengan sepenuh hati, penuh cinta dan kasih sayang, tapi malah melawan kepadanya.


"Ummi egois, Ummi hanya mementingkan diri sendiri!" ucap Zahra dengan nada suara menyeringai.


Plak !


Tangan kanan yang biasanya membelai pipi Zahra itu kini berubah menjadi bara api yang membakar pipinya. Sungguh, tamparan keras itu membuat pipi Zahra memerah, sangat sakit dan teramat sangat sakit. Dalam beberapa jam pipi itu penuh dengan tamparan keras ummi Fatimah. Wanita yang selama ini menjadi malaikat bagi Zahra, penghapus air mata dan kesedihannya, bidadari cantik yang selalu menjadi penyemangat Zahra kini berubah terasa seperti orang asing yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepadanya.

__ADS_1


"Tidak cukupkah tamparan sebelumnya, Mi? Haruskah Ummi bersikap sangat kasar seperti ini?"


Dalam isak tangis dan mulut bergetar itu, akhirnya Zahra menyampaikan sebuah kata protes atas sikap ummi Fatimah kepadanya.


"Harusnya kamu sadar, Zahra, sikapmu telah melewati batas."


"Ummi yang terlalu memaksakan kehendak, bukan Zahra yang melewati batas."


"Tidak ada orang tua yang berniat jahat kepada putrinya karena semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, hanya saja sang anak yang tidak bisa melihat kebaikan dari kaca mata orang tua."


"Mi, tidak ada yang lebih baik selain menikah dengan lelaki yang dicintai."


"Lelaki seperti apa yang baik menurutmu, Nak? Apakah calon suamimu yang meninggalkanmu sebulan sebelum acara pernikahan kalian? Ataukah lelaki yang memanfaatkan kebaikanmu seperti Alex?" ucap ummi Fatimah dengan nada suara tinggi.


"Alex bukan lelaki jahat seperti yang Ummi pikirkan!"


Kata-kata yang keluar dari lisan ummi Fatimah membuat Zahra terdiam dan tidak sanggup lagi menjawab apapun. Seberapa kali pun ummi meminta Alex datang ke rumah, lelaki itu tidak akan pernah datang ke rumahnya. Ya, sebenarnya Zahra sudah sangat paham kalau lelaki baik yang berniat serius kepada seorang wanita, maka lelaki itu akan melamar gadis yang dicintainya kepada kedua orang tuanya dan menikahi gadis itu menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Namun, entah mengapa diri ini tetap tidak bisa melihat keburukan dari diri Alex, karena yang terlihat hanya kebaikan seolah mata ini telah dibutakan oleh cinta semu belaka.


"Zahra, jangan membantah atau keluar dari rumah!"


Ummi Fatimah mengancam mengusir Zahra dari rumah jika ia terus-terusan bersikap seenak jidatnya.


"Ummi mengusir Zahra?" tanya Zahra lantang dengan kedua bola mata melotot memandang mama dengan amarah yang ia bawa bersamanya.

__ADS_1


"Jadi apa maumu sekarang? Kamu menunggu lelaki itu dan ingin menikah dengannya?" ucap ummi Fatimah menjeda ucapannya untuk sesaat. Ya, ummi Fatimah terlihat mencoba untuk menahan apa yang ingin disampaikannya karena beliau adalah seorang ibu, yang mempunyai cinta tak terbalas dan maaf tanpa batas. Jadi, semarah apapun orang tua kepada anaknya, tidak akan mengurangi kadar cinta dan kasih sayangnya kepada sang anak, walaupun kasih sayang dan cinta anak hanya sepenggalah dan seperti debu yang berterbangan, rapuh tanpa pegangan, hilang tanpa arah dan tujuan yang jelas.


"Zahra, diam mu sudah membuktikan kalau lelaki itu tidak baik untukmu, jadi sekarang lupakanlah dia dan terimalah takdir hidupmu, Ustadz Fahri adaah lelaki yang paling baik dan paling tepat untukmu."


"Tidak, Zahra tidak bisa menikah dengan lelaki yang tidak Zahra cintai, apalagi harus dipaksa seperti ini, Mi."


"Tidak usah membantah dan turuti saja apa yang orang tua katakan karena orang tua tau apa yang terbaik untuk anaknya."


"Jika Ummi benar-benar menyukai gadis itu, maka Ummi saja yang menikah dengannya!"


Dan untuk yang kesekian kalinya, kata demi kata yang keluar dari lisan Zahra menyinggung hati dan perasaan ibunya. Hingga kini kristal bening itu mengalir membasahi pipi ummi.


Ummi Fatimah menatap Zahra dengan tatapan tajam dan mata yang bercucuran air mata itu, mata merah dan terlihat mengiba itu membuat Zahra sadar kalau ia benar-benar telah durhaka kepada ibunya.


Ummi Fatimah membalikkan badannya, dengan pelan dan gemetar, ummi Fatimah berjalan dengan tertatih-tatih meninggalkan kamar putrinya, tidak mengatakan apapun lagi seolah tidak lagi ingin berbicara dengan gadis itu.


Ya, sebagai seorang anak yang salah, yang bisa Zahra lakukan sekarang hanyalah menatap langkah kaki ummi dengan sejuta rasa penyesalan yang ia bawa bersamanya. Zahra benar-benar tidak habis pikir dengan mulutnya sendiri, yang berucap tanpa memikirkan sebab akibatnya.


'Zahra, apakah kamu terlalu kelewatan kali ini?'


Hati kecil Zahra kini mulai menyalahkan dirinya sendiri, bahkan ia merasa kalau ia telah gagal menjadi seorang anak. Zahra merasa seperti anak ular yang memangsa induknya sendiri ketika telah dewasa, bukan membahagiakan dan menyenangkan hati kedua orang tuanya, tetapi ia malah melalukan hal sebaliknya, membuat orang tuanya marah, hal yang selama ini tidak pernah kulakukan.


"Aku Muak! Benar-benar sangat muak ...," ucap Zahra berteriak sangat kencang sembari membanting pintu kamarnya dengan keras.

__ADS_1


Zahra muak dengan kondisi yang terjadi saat ini, bahkan rasa kecew Zahra akan hidup membuat ia membeci takdirnya.


"Tuhan, apa sebenarnya mau-Mu? Tidak cukupkah membuatku hancur dan menderita seperti ini?"


__ADS_2