Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Saling Jaga Image


__ADS_3

Salah satu pertanyaan yang sangat sering Zahra dengar di telinganya, hingga diri sang gadis merasa sudah sangat muak dan bosan mendengarnya. Namun, seiring berjalannya waktu, semua pertanyaan itu terdengar biasa-biasa saja, karena mungkin diri Zahra telah lumrah mendengarnya. Namun, sebagai karyawan, Zahra harus menjawab dengan baik, apalagi yang saat ini bertanya adalah atasan, jadi tentu saja sebagai bawahannya Zahra harus menjawabnya.


"Memangnya kenapa, Pak?" jawab Zahra sopan dengan senyum mengembang walaupun sebenarnya hati ini ingin sekali berteriak dan mengeluarkan kata-kata kasar sekarang, karena gadis cantik itu sedang berada pada mood yang kurang baik.


"Saya punya sepupu yang sedang mencari jodoh, kalau berkenan apakah Zahra mau saya kenalkan dengannya?"


To the point, atasan menanyakan kepada karyawan kepercayaannya itu tentang kesediaan sang karyawan untuk berkenalan dengan kemenakannya. Bahkan beliau juga membangga-banggakan dengan pujian dan kelebihan sang kemenakan.


"Kalau boleh tahu, kenapa Bapak ingin memperkenalkannya kepada saya?" tanya Zahra dengan rasa penasaran.


Ya, Zahra sangat sering sekali dijodohkan dan diperkenalkan dengan seseorang. Entah apa alasannya tapi ia selalu menjadi target utama perjodohan orang tua dengan anak atau orang terdekatnya, padahal rasanya diri Zahra merasa kalau ia sangat tidak sempurna.


"Zahra, saya percaya kamu adalah calon istri yang paling baik dan paling tepat untuk kemenakan saya, jika kamu berkenan saya akan mengatur pertemuan kalian."


Ternyata atasan Zahra sedang tidak bergurau, ia serius dengan apa yang dikatakannya. Namun, diri ini merasa kalau menggunakan waktu kantor untuk membahas masalah pribadi sungguh tidak sangat profesional, apalagi sampai membuat kehebohan yang membuat semua orang di kantor penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf, Pak, tapi saya izin melanjutkan pekerjaan dulu."


Kata-kata penutup yang Zahra ucapkan menjadi sebuah tanda kalau ia tidak ingin membahas apapun saat ini. Bukannya bersikap sombong atau tidak sopan kepada atasan, tapi diri ini juga harus bisa menjaga harkat dan martabat sebagai seorang wanita yang notabene-nya sudah di khitbah oleh seseorang untuk menjadi pasangan hidupnya. Ya, walaupun Zahra tidak menerima perjodohan yang dipaksakan ini, tetap saja ada aturan agama yang tidak boleh dilanggar, dimana seorang wanita yang sudah di khitbah harus bisa menjaga diri dan kehormatannya untuk tidak dekat dengan lelaki lain.


Sungguh, sikap seperti ini yang membuat Zahra sering sekali dinilai sombong oleh orang lain. Namun, apapun penilaian dan anggapan orang lain kepada Zahra, dirinya tetaplah dirinya dengan prinsip yang ia pegang teguh dengan sangat erat.


"Zahra, kalau kamu berubah pikiran segera hubungi saya," ucap pak Subroto sebelum ia keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Ya, kata-kata yang Zahra balas dengan senyum tipis, dengan kaki yang terus melangkah menuju meja kerjanya.


"Zahra, apa sih yang dibicarakan Pak Subroto?"


Manda mengagetkan sang sahabat dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


Tangan sahabatnya itu langsung mendarat di pundak Zahra, sang sahabat terlihat benar-benar sangat penasaran dengan apa yang Zahra bicarakan dengan atasan mereka.


"Manda, bikin kaget aja sih!" protes Zahra dengan mata membelalak dan melotot ke arah Manda.


"Habis, pagi-pagi udah ngelamun aja, ntar kesambet loh!" celoteh Manda.


"Apaan sih!"


"Serius Zahra, apa yang kamu bicarakan dengan Pak Subroto? Kamu di kasih proyek yang bekerjasama dengan Arya lagi ya?"


"Iih, serius nanya."


Manda adalah tipe sahabat terbaik yang selalu ada dalam setiap suka dan duka Zahra. Ia juga sangat peduli dan perhatian kepada Zahra. Namun terkadang kepeduliannya itu terlalu berlebihan hingga membuat Zahra risih atas sesuatu yang tidak ingin ia bahas saat ini.


Ya, Zahra memang selalu menceritakan banyak hal dengan Manda, ia sering berdiskusi dan meminta saran Manda terkait kehidupan pribadinya, akan tetapi ada masa diri ini hanya ingin diam dan tidak ingin menceritakan apapun sampai keadaan jiwanya tenang dan baik-baik saja.


"Zahra, kamu tidak sedang bertengkar dengan Alex 'kan?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Manda menebak hubungannya dengan Alex. Ya, Manda memang dekat dengan Alex, mereka kenal terlebih dahulu dan hubungan persahabatannya dengan Alex dimulai atas campur tangan dari Manda, jadi Manda akan sangat tahu dan paham bagaimana hubungannya dan Alex, termasuk saat mereka berdua bertengkar dan sedang tidak baik-baik saja.


"Zahra, kenapa bengong sih?"


Manda tetap dengan rasa keingintahuannya, matanya melotot dengan suara melengking. Tapi tidak dengan Zahra, saat ini yang bisa ia lakukan hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa, karena kepala ini sudah sangat mumet memikirkan masalah percintaan yang seperti benang kusut, terlalu sulit untuk diluruskan dan dirapikan kembali.


Ya, Zahra memilih terus melangkah, duduk di meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang terbengkalai karena beberapa hari ia tinggalkan.


Tumpukan berkas-berkas yang harus ku periksa dengan tinggi segunung ini setidaknya bisa membuat Zahra meluapkan semua beban hidupnya, hingga ia lupa kalau dirinya saat ini sedang dilanda gelombang masalah.


"Zahra, kenapa aku dicuekin?" protes Manda yang terus mengikuti Zahra melangkah maju.


"Manda, tidakkah kamu melihat ada tumpukan pekerjaan yang harus ku selesaikan? Tidakkah kamu bisa memberiku ruang agar bisa menyelesaikan semua ini tepat waktu?"


Tanpa menatap Manda, Zahra ungkapkan betapa ia sedang tidak ingin diganggu siapapun termasuk Manda. Dan jika sikap Zahra telah seperti ini, Manda akan paham, gadis itu akan mengambil langkah mundur agar ia tidak mendengarkan kata-kata mutiara dari Zahra.


Namun, sejujurnya Manda telah mengganggu konsentrasi Zahra bekerja, ia menyebut nama Alex hingga kepala ini tidak henti-hentinya memikirkan lelaki itu.


'Mas Alex, kamu dimana? Tidakkah kamu peduli kepadaku?'


Ada rasa tidak suka dan tidak terima aras sikap semena-mena Alex padanya, hingga fokus akan tumpukan pekerjaan mulai terbagi.


Zahra meraih telpon genggam dari dalam tas kerja berwarna hitam di meja kerjanya. Ya, ponsel kedua yang Alex sendiri tidak tahu ia memilikinya. Ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi Alex saat nomornya di blokir oleh lelaki itu, dengan berdalih kalau ponsel ini adalah milik orang tuanya.

__ADS_1


Jiwa penasaran dan ingin tahu membuat Zahra langsung scrolling ke media sosial milik Alex dengan menggunakan akun berbeda. Dan alangkah terkejutnya Zahra, ketika dua bola matanya melihat dua sejoli yang sedang berpelukan mesra pada story yang baru saja di update. Ya, dalam foto itu, Alex tengah memeluk seorang wanita cantik yang duduk di pahanya, dimana sang gadis melingkarkan kedua tangannya di leher Alex sembari tersenyum genit kepada lelaki itu, sementara Alex meletakkan kedua tangannya di pinggang gadis itu dengan mesranya.


'Siapakah dia?'


__ADS_2