Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Gagal Menikah


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Zahra akhirnya sampai di kediaman calon suaminya, semua orang yang tadinya menghadiri acara akad nikah di rumah Zahra, kini telah berkumpul di rumah Raka. Ya, calon papa mertua Zahra menyempatkan menelpon dan mengabarkan tentang kematian Raka tepat sebelum memutar balik mobil, sehingga semua orang telah berada di pesta pernikahan ada di rumah Raka, menunggu kedatangan jenazah Raka dengan wajah duka yang teramat sangat.


Perlahan jenazah Raka diturunkan dari mobil, sementara itu Zahra masih duduk mematung seperti tidak bernyawa, ia seperti enggan hidup namun tidak bisa mati. Bahkan Zahra juga ingin menyusul Raka, pergi bersama Raka ke alam lain.


"Zahra, keluarlah, Nak!" ucap calon papa mertua Zahra lembut, namun ia masih tetap diam dalam kebisuan.


"Mas, apa yang akan aku lakukan setelah ini tanpamu?"


Hati Zahra bergejolak, pikirannya bercabang, begitu banyak hal yang terasa tidak logis dan tidak bisa aku terima.


Hancur!


Zahra hancur berkeping-keping.


Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Zahra ke luar dari mobil, tapi ia tidak memasuki rumah Raka. Ia berjalan menyusuri setiap jalan di komplek perumahan mewah itu dengan air mata yang terus mengalir. Gaun pengantin indah yang ia kenakan ini benar-benar merepotkan, membuat Zahra beberapa kali tersungkur ke tanah.


"Aw ..., sakit!"


Lutut Zahra berdarah, kaki yang tidak beralas itu juga terluka. Namun, Zahra tetap berusaha bangkit, ia berlari tanpa tahu arah dan tujuan, ia hilang arah dengan langkah tertatih-tatih.


Piiiip ..., piiip ....


Bunyi klakson mobil mewah berwarna hitam hampir saja menabrak Zahra.


Saking ketakutannya, Zahra pasrah dan tersungkur ke bumi sembari menutup matanya.


"Woi ..., kalau mau syuting, jangan di jalan raya seperti ini dong!"


Teriak seorang lelaki yang ke luar dari mobilnya. Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan jas berwarna hitam yang dikenakannya. Namun, Zahra tidak menghiraukan lelaki itu, ia tetap diam dalam kebisuan.


"Woi, lo bisa dengar gw nggak sih?" Teriakan lelaki tampan itu semakin keras. Namun, Zahrq tetap mengacuhkannya.


Zahra kemudian berdiri dan melanjutkan langkahnya tanpa meminta maaf atau berkata apapun kepada lelaki tampan itu.


"Woi, gadis gila! Ngapain lo?"

__ADS_1


Lelaki tampan itu memintas jalan Zahra, ia merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Zahra. Dengan wajah marah dan mata memerah, ia ingin meluapkan semua emosi dan kekesalannya kepada Zahra. Namun, ketika ia melihat Zahra menangis, lelaki itu terlihat iba dan mengurungkan niatnya.


"Lo mau ke mana? Biar gw antar!" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut sang lelaki tampan.


Zahra menatap lelaki yang berada di depannya itu dengan seksama, tatapan penuh cinta dan kasih sayang.


"Mas Raka, ini kamu Mas?"


Zahra memeluk erat tubuh bidang lelaki tampan itu, sementara lelaki itu saat ini tengah mematung, diam dan tidak berkutik.


"Mas, kamu dari mana saja?"


Dengan rengekan manja, Zahra memegang jas lelaki tampan itu sembari menatap tajam matanya. Zahra sepertinya tengah berkhayal kalau lelaki yang saat ini bersamanya itu adalah calon suaminya.


"Jadi cewek ini calon istrinya Raka? Eh, tetapi kenapa wanita ini ada di sini dengan gaun pengantin ini? Bukankah seharusnya hari ini adalah akad nikah mereka?" Berbagai pertanyaan beruntun muncul di benak lelaki itu.


"Mas Raka," Zahra tersenyum menatap lelaki yang dianggapnya calon suaminya.


"Hai, maaf sebelumnya, gw bukan Raka. Nama gw Andrian, jadi tolong lepaskan tangan loe dari gw, sekarang!"


"Mas, kenapa kamu bersikap kasar? Apa kamu tidak mencintaiku lagi?"


Dengan tatapan tajam penuh pengharapan Zahra terisak.


Rasa iba di hati Adrian membuatnya tidak tega melihat air mata mengalir di wajah cantik Zahrq. Ia kemudian menarik tangan Zahra untuk berjalan memasuki mobilnya.


"Mas, tunggu! Kakiku terluka."


Zahra menunjuk kakinya yang berdarah dan gaun pengantin putih yang dikenakannya juga kotor karena noda dan darah.


Tanpa berkata-kata Adrian menggendong Zahra dan Zahra yang merasa Adrian adalah Raka langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Adrian.


"Kamu tidurlah, aku akan mengantarmu ke rumah Raka."


Adrian membaringkan Zahra di mobilnya kemudian melanjutkan menyetir menuju rumah Raka, sahabat dekatnya.

__ADS_1


Adrian memang sering mendengar tentang Zahra dari Raka, Adrian juga sangat mendukung rencana pernikahan Raka dengan Zahra, akan tetapi Adrian tidak pernah sekalipun bertemu dengan Zahra karena kesibukannya sebagai seorang CEO sebuah perusahaan besar.


Hari ini Adrian berencana akan datang ke acara akad nikah Raka dan Zahra, tapi ia menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya dahulu untuk berganti pakaian, namun takdir mempertemukannya dengan Zahra, wanita cantik bergaun pengantin yang terlihat seperti seorang bidadari.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Adrian sampai di depan rumah Raka. Alangkah terkejutnya ia melihat tenda hitam berdiri di depan halaman rumah Raka. Ia melihat wajah orang-orang terlihat sedih dan berduka.


'Siapakah yang meninggal dunia, apakah Raka?' ucap Adrian di dalam hati.


Adrian langsung menebak nama Raka, seolah ia mengetahui sesuatu yang tidak Zahra ketahui perihal Raka.


Adrian ke luar dari mobilnya, kemudian membukakan pintu untuk Zahra. Namun, ia melihat Zahra tengah tertidur pulas, ia tidak tega untuk membangunkannya hingga ia kembali duduk menemani Zahra yang tengah tertidur.


Selang beberapa jam kemudian, Andrian melihat Zahra yang mulai menggeliat dan membuka matanya dari balik kaca spion mobilnya. Adrian menolehkan wajahnya menatap Zahra.


"Lo sudah bangun? Nama Lo Zahra bukan?"


Adrian menatap Zahra dengan lembut dan penuh dengan rasa iba. Ia melihat pengantin wanita itu menanggung sejuta duka di hatinya, wajah sendu yang terlihat lelah itu seolah hidup namun seperti mati.


Pandangan Adrian tertuju pada kaki putih Zahra yang tidak beralas, 'Kasihan sekali wanita ini,' ucap Adrian di dalam hati.


Adrian kemudian berlari untuk mengambil sesuatu di bagasi mobilnya.


"Sepertinya sendal ini cocok untuk wanita itu." Adrian kemudian berlari menghampiri Zahra lagi.


Adrian memasangkan sendal karakter doraemon di kaki Zahra, seperti seorang pangeran yang memasangkan sepatu kaca kepada Cinderella.


"Terima kasih, Mas Raka, ternyata kamu masih ingat kalau aku suka sekali dengan karakter Doraemon."


Zahra tersenyum manis kepada Adrian yang dianggapnya Raka. Senyum Zahra terlihat sangat indah dan cantik, hingga untuk sesaat Adrian terpesona.


Adrian kemudian mengulurkan tangannya kepada Zahra dan membantu gadis cantik itu ke luar dari mobilnya.


"Zahra, gw Adrian bukan Raka!" Kali ini nada suara Adrian lebih di tekan hingga membuat Zahra akhirnya tersadar.


Dengan buru-buru Zahra langsung melepaskan genggaman tangannya dari Adrian.

__ADS_1


__ADS_2