Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Sunshine


__ADS_3

Ummi Fatimah menatap Adrian, kemudian menatap lembut lelaki baik itu.


"Tante, kalau begitu saya permisi dulu!"


Adrian menghampiri ummi Fatimah untuk berpamitan, ia bersikap sangat sopan dan ramah.


"Nak, sekali lagi terima kasih banyak."


Ummi Fatinah menatap Adrian, lelaki baik yang telah membantunya. Setidaknya ia ingin membalas Adrian walau hanya dengan ucapan terima kasih tulus.


"Sama-sama, Tante, sudah kewajiban kita sebagai makhluk sosial untuk saling tolong menolong, jika bukan Zahra saya juga akan tetap membantunya."


Adrian tersenyum tipis namun terlihat manis, dengan ketulusan dan keikhlasan yang tergambar jelas di wajahnya.


"Kalau boleh tahu, nama kamu siapa, Nak?"


"Nama saya Adrian, Tante, saya adalah sahabatnya Raka calon suami Zahra."


Dengan senyuman, Adrian menjelaskan kepada ummi Fatimah tentang siapa dirinya. Sikap santai Adrian memanggil nama Zahra menyisakan sejuta tanya dan penasaran di hati ummi Fatimah.


"Maaf, Nak, apakah kamu kenal dengan putri saya Zahra?"


"Iya, saya banyak mendengar tentangnya dari Raka dan saya teramat sangat tahu gadis itu adalah wanita yang sangat dicintai Raka."


Adrian tersenyum dengan pandangan yang tertuju kepada Zahra sebelum pamit dan meninggalkan ruang inap gadis cantik itu.


"M A S R A K A ...!"


Pekikan keras Zahra membuat langkah kaki Adrian terhenti. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ketika melihat sang gadis mulai tersadar dalam keadaan histeris.


"Zahra, Sayang."


Ummi Fatimah berlari menghampiri Zahra dan langsung memeluk putri kesayangannya itu dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus, namun Zahra mengamuk dan bersikap diluar kebiasaannya.


Entah tenaga dari mana yang di dapatkan Zahra saat ini, gadis cantik itu bahkan berusaha melepaskan diri dari pelukan ibunya, bahkan ia membuka infus yang terpasang di tangannya, kemudian mengamuk menjatuhkan semua makanan yang terletak di meja. Zahra meraung sembari tertawa seperti orang gila.


"Zahra, kamu kenapa, Nak? Sadarlah, Sayang!"


Ummi Fatimah berusaha mengejar langkah kaki Zahra yang bergerak cepat, namun kekuatan wanita separuh baya itu tidak bisa menyaingi kekuatan Zahra.


Adrian yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat prihatin. Ia kemudian mendekati Zahra yang saat ini masih meraung-raung.


"Zahra!"


Kata-kata lembut yang ke luar dari mulut Adrian membuat Zahra terdiam. Zahra menengadahkan wajahnya menatap mata Adrian, dalam beberapa detik mata itu saling bertemu.

__ADS_1


"Mas Raka."


Zahra langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Adrian yang lagi-lagi dianggapnya Raka calon suaminya.


Melihat kejadian itu ummi Fatimah menangis, putri cantiknya yang ceria dan selalu bahagia itu, saat ini benar-benar kehilangan kewarasannya. Rasa sakit akibat ditinggalkan membuat Zahra benar-benar stres dan tidak lagi seperti dirinya sendiri.


"Zahra, jangan menangis lagi!"


Adrian menghapus air mata yang mengalir di pipi Zahra dengan penuh kelembutan, tapi Zahra hanya diam dan tidak bereaksi apa-apa.


"Zahra, istirahatlah! Aku ingin kamu cepat sembuh!"


Adrian menuntun Zahra kembali ke ranjangnya, ia membantu membaringkan sang gadis agar ia bisa beristirahat dengan tenang.


Seperti terhipnotis, Zahra hanya menuruti Adrian.


"Zahra, lain kali infusnya jangan dicabut ya! Lihat tangan kamu berdarah. Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ucap Adrian.


Seperti seorang malaikat, Adrian menenangkan Zahra sembari membersihkan darah di tangan Zahra dengan tisu yang kebetulan ada di ruangan itu. Sementara itu ummi Fatimah pergi ke luar untuk memanggil dokter.


"Sekarang kamu tidurlah!"


Setelah membersihkan luka ditangan Zahra, Adrian menyelimuti si gadis cantik dengan kelembutan.


"Jangan pergi, Mas!" Akhirnya Zahra bersuara lembut.


"Tidak, aku tidak pergi, aku di sini dan aku akan selalu ada untukmu!"


Adrian tersenyum kepada Zahra, senyum yang membuat perasaan si gadis cantik merasa tenang dan sangat damai.


"Siapakah kamu sebenarnya?" tanya Zahra menatap tajam mata yang tangannya saat ini masih digenggaman Zahra.


Zahra menatap tajam mata Adrian, ia memperhatikan dengan seksama dan memastikan siapakah lelaki yang saat ini bersamanya.


"Sayang, kamu ke mana saja? Kenapa kamu tidak datang di pernikahan kita?"


Zahra menangis sembari memukul-mukul dada bidang Adrian dengan tangannya yang tidak lagi bertenaga.


Adrian pasrah dan menerima setiap pukulan dari Zahra. Adrian seolah membiarkan Zahra meluapkan amarah dan kekecewaannya kepada Adrian yang dianggapnya Raka, calon suaminya.


"Sayang, kenapa kamu diam?" Kali ini Zahra berubah menatap sedih ke arah Adrian, kemudian ia tertawa terbahak-bahak seperti orang yang tidak waras.


Ya, Zahra benar-benar bisa berubah dalam sepersekian detik, mulai dari marah, menangis, tertawa dan kesal dalam waktu bersamaan. Zahra benar-benar frustasi, ia mengalami gangguan jiwa dan mental yang sangat parah, hingga ia tidak lagi bisa mengendalikan dirinya.


"Zahra, tatap mataku!"

__ADS_1


Dengan lembut Adrian meminta Zahra menatap matanya, dan anehnya Zahra langsung menurut, seperti terhipnotis.


Zahra menatap mata Adrian dengan tatapan kesedihan dan berkaca-kaca.


"Maaf!" Kata-kata itu kembali ke luar dari mulut Zahra ketika kesadarannya kembali.


Zahra kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju sudut ruangan. Ia duduk di lantai yang sangat dingin sembari melipat kedua tangannya di atas lututnya, kemudian ia menutup wajahnya.


"Zahra, Sayang, jangan duduk di sini, Nak!"


Ummi Fatimah menghampiri putri kesayangannya sembari membelai lembut rambut Zahra yang masih berhiaskan sanggul pengantin modern.


"Sayang, Ummi bantu sisir rambut Zahra ya!"


Ummi Fatimah membujuk Zahra dengan kelembutan, kehangatan, cinta dan kasih sayang seorang ibu.


Sementara Zahra hanya diam, membisu dan tidak bereaksi apa-apa.


"Sayang, Zahra harus tahu, kalau Ummi dan Abi benar-benar sangat menyayangimu, Nak!"


Sembari membelai dan menyisir rambut sang putri, ummi Fatimah mengingatkan kembali momen-momen indah semasa putrinya yang masih ia anggap kecil. Ya, Zahra memang selalu senang dan bahagia ketika ummi Fatimah menyisir rambutnya.


Sementara Adrian, menatap haru dan takjub melihat momen keakraban antara ibu dan anak itu. Adrian teringat akan kedua orang tuanya yang saat ini sudah tidak lagi akur dengannya.


"Ummi, apakah Mas Raka telah tiada?"


Ketika kesadarannya kembali, hanya Raka yang diingat oleh Zahra.


"Sayang, Allah lebih sayang sama Raka dari pada kita."


Ummi Fatimah berusaha menenangkan putri semata wayangnya itu.


Ummi Fatimah kemudian membalikkan badannya, pandangannya tertuju pada sosok lelaki tampan yang dianggapnya Raka, calon suaminya.


Ummi Fatimah berdiri kemudian berjalan pelan mendekati Adrian.


"Sunshine." Hanya itu kata-kata yang ummi Fatimah ucapkan dengan wajah datarnya.


"Zahra, Sayang, kamu harus istirahat, Nak!"


Ummi Fatimah bergegas mendekati Zahra, beliau membimbing tangan Zahra dengan lembut, tersirat di wajah beliau ketakutan kalau Zahra melakukan hal yang tidak-tidak lagi.


"Ummi, tunggu sebentar!"


Zahra menolak untuk kembali ke ranjangnya.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?"


__ADS_2