Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Harapan Ummi


__ADS_3

Abi Abdullah mendorong kursi roda putrinya dengan sabar menuju kamar sang putri.


Zahra merasakan betapa hangat dan lembutnya cinta dan kasih sayang ayahnya kepada putri kesayangannya, bahkan beliau memperlakukan Zahra seperti tuan putri yang sangat dimuliakan dan dimanjakan, hingga air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipi bulat Zahra. Ya, bagaimana Zahra akan tega mengatakan dan menjelaskan kepada abi kalau ia ingin sekali membatalkan pernikahan dengan ustadz Fahri dengan alasan klise karena ia tidak menyukainya, sementara abi selalu mengatakan kepadanya kalau cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu karena menikah adalah ibadah karena Allah jadi Allah yang akan mendatangkan cinta dalam sebuah keluarga sehingga terjalinlah rumah tangga sakinah, mawadah dan warahmah itu.


Abi Abdullah adalah seorang ayah yang akan menjabat tangan dan menyerahkan tanggung jawab yang selama ini beliau pikul atas diri Zahra kepada calon suami terbaik pilihan beliau. Jadi, bagaimana perasaan sang ayah saat tahu kalau putrinya ingin kabur sebelum hari pernikahannya tiba.


"Zahra, kenapa kamu menangis, Nak?" tanya abi Abdullah yang akhirnya sadar kalau air mata telah membasahi pipi putrinya.


Zahra hanya diam, tidak sanggup mengatakan apapun kepada ayahnya, walaupun sebenarnya banyak hal yang ingin diungkapkan.


"Nak, Abi tahu kalau hati setiap anak perempuan akan menangis ketika ia akan menikah karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan kedua orang tuanya untuk hidup mandiri dengan suaminya dan keluarga kecil barunya kelak. Namun, satu hal yang harus Zahra tahu, walaupun Ara sudah tidak lagi ada di rumah ini, tapi Ara tetaplah anak kesayangan Ummi dan Abi, karena tidak ada mantan orang tua dan tidak ada juga mantan anak, karena selamanya kita tetap orang tua dan anak."


Kata-kata menyejukkan dan menenangkan yang keluar dari lisan Abi Abdullah seperti sebuah kata perpisahan terakhir yang membuat Zahra meraung dalam tangisan dan air mata. Ya, antara kesedihan akan berpisah dengan orang tua dengan tangisan karena akan menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai.


"Sayang, jangan menangis! Jika Ara menangis seperti ini maka Abi juga akan ikut bersedih," ungkap Abi Abdullah sembari menghapus air mata yang tidak henti-hentinya jatuh membasahi pipi putrinya. Sungguh, dada Zahra terasa teramat sangat sesak sekarang hingga ingin berteriak keras menyampaikan apa yang tengah ia tahan.


"Bi-, A-apakah A-Ara boleh mengatakan se-suatu?" ucap Zahra dengan nada suara terisak-isak.


Zahra menatap wajah abi dengan seksama, berharap pancaran mata yang berbicara ini mampu menggetarkan hati abi untuk ingin mendengarkan curahan hatinya.

__ADS_1


"Apa, Sayang? Apa yang Ara ingin katakan?" tanya abi Abdullah lembut, seolah sedang memberikan ruang kepada sang putri untuk menyampaikan niat hatinya.


"Bi, Ara-, Zahra-," ucap Zahra yang kemudian berhenti dan menjeda ucapannya.


Hati itu terus menuntun Zahra untuk berbicara kepada ayahnya tentang isi hati dan segala persoalan yang membuat sesak di dadanya, namun mulut itu terasa sangat berat, kaku dan kelu untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.


"Abi, sudah waktunya Zahra minum obat!"


Suara ummi Fatimah yang lantang dan tegas membuat pandangan abi Abdullah langsung tertuju kepada beliau. Bahkan, niat dan rencana Zahra yang ingin mengungkapkan sesuatu akhirnya terpaksa harus ia urungkan untuk sesaat karena ia sangat tahu kalau tujuan ummi adalah untuk mencegahnya.


"Zahra, sekarang kita masuk kamar dulu ya, makanya kamu harus istirahat minum obat biar cepat sembuh," ucap abi Abdullah lembut dengan senyum terbaik yang beliau berikan.


Untuk sesaat Zahra berusaha untuk mengikuti keinginan ayahnya, namun jika sudah ada kesempatan yang tepat, ia pasti akan memberanikan dirinya untuk mengatakan apa yang seharusnya ia sampaikan kepada beliau. Ya, jika sang ibu memaksanya untuk menikah dengan lelaki yang tidak ia sukai maka ia juga harus tetap berusaha dengan kemampuan dan doa yang ia miliki agar apa yang diinginkan oleh ibunya tidak terlaksana sesuai dengan harapan beliau. Sungguh, ia sangat yakin dan sangat percaya kalau sang ayah adalah orang yang paling tepat untuk diajak berdiskusi dan menyampaikan semua isi hati yang tengah ia rasakan dari dalam hatinya, karena bagaimanapun juga ia punya hak untuk menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri.


"Zahra, sekarang kamu istirahat Jangan memikirkan apapun dan jangan memaksakan diri untuk melakukan apapun, pokoknya kamu harus cepat sembuh karena sebentar lagi kamu akan menikah kamu harus menjaga dan merawat dirimu karena jika bukan kamu menjaganya siapa lagi yang akan menjaganya, sebab kamu akan menjadi sandaran untuk suami dan anak-anakmu kelak, kamu akan merawat dan menyayangi mereka meskipun mungkin suatu hari nanti keadaanmu juga sedang sangat tidak baik tapi seorang ibu harus kuat dan seorang Istri harus mampu melakukan apapun, harus siap mendampingi suaminya semampu yang ia bisa," ucap ummi Fatimah panjang dan lebar.


Sebagai sorang wanita, ummi Fatimah mengungkapkan semua unek-unek yang ada di hatinya dengan mengeluarkan kata-kata apapun yang dirasakan di hatinya sesuai dengan pengalaman, walaupun Zahra tidak terlalu mempedulikannya karena seperti angin lalu saja, masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.


Ya, setelah puas mengomel, ummi Fatimah keluar dari kamar putrinya dengan amarah yang mulai berkurang kepada Zahra.

__ADS_1


Huftt ...


Zahra tarik nafas lega, karena saat ini ia tidak ingin melawan dan bertengkar dengan ibunya. Ia ingin istirahat dan memejamkan matanya dengan harapan ketika bagun semua yang terjadi sekarang hanyalah mimpi panjang.


"Suster, saya ingin istirahat, bisakah Suster keluar?"


Zahra tidak nyaman dan tidak suka jika suster berada di kamarnya, karena ia bukan tahanan yang harus dibatasi gerak-geriknya.


"Tapi, Nyonya meminta saya untuk menjaga Nona," ucap sang suster yang sepertinya enggan meninggalkan Zahra karena sebuah tugas yang tengah ia emban.


"Suster, saya bukan bayi dan saya juga tidak sedang sakit parah, saya hanya ingin tidur dan tidak ingin diganggu, jadi kalau saya butuh maka saya akan panggil Suster," ucap Zahra dengan penjelasan hingga membuat suster itu mau tidak mau, suka tidak suka harus tetap keluar dari kamar Zahra.


Rasanya lega ketika berada di kamar itu sendirian, setidaknya Zahra bebas berpikir atau melakukan apapun tanpa takut risih dan merasa terganggu oleh orang lain. Setidaknya ia bebas memikirkan Alex tanpa dimarahi oleh ummi Fatimah.


'Kamu dimana? Kenapa kamu selalu menghilang saat aku sedang membutuhkanmu? Kenapa kamu menghindar saat kita berdua bertengkar?' ucap Zahra di dalam hati sembari membayangkan wajah Alex.


Alex selalu menghindar dan kabur jika Zahra membicarakan hal serius dengannya, ia menghilang dan tidak bisa dihubungi saat Zahra bertengkar dengannya. Ia tidak ingin berdebat dengan Zahra atau bahkan membahas semua yang ingin Zahra tanyakan kepadanya, namun iw lebih memilih menghindar seperti seorang pengecut yang tidak punya nyali sama sekali.


"Dasar buaya!"

__ADS_1


__ADS_2