Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Apakah Kamu Ingin Mati?


__ADS_3

Zahra meraih ponselnya kembali, mencoba menghubungi Alex lagi dan lagi, ingin bercerita dan berbagi banyak hal kepada lelaki itu, terutama tentang dilema hati yang sedang ia hadapi saat ini. Namun, entah mengapa lelaki itu tidak mengangkat panggilan dari Zahra, ia seperti hilang tertelan bumi, tanpa kabar berita apapun kepada gadis cantik itu, bahkan Alex tidak menjawab pertanyaan dari Zahra tentang kesediannya menemani hari-harinya yang tersisa sebagai seorang gadis sebelum akhirnya takdir menuntun ia menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan?'


Zahra mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya karena ia terlalu pusing memikirkan semua persoalan hidup yang tengah ia jalani. Kepala ini terasa teramat sangat berat sekali seolah ada beban berat yang saat ini sedang ia tanggung, tidak hanya itu saja, saat ini seolah banyak jarum-jarum yang menusuk kepalanya ini sehingga Zahra merasa tidak sanggup lagi untuk menanggungnya.


Zahra terlihat seperti orang gila yang tidak tahu arah dan tujuan, tidak tahu akan melakukan apapun lagi sekarang, karena semua yang terjadi dalam hidupnya ini sudah tidak bisa lagi ia elakkan, semua diluar kendalinya sebagai manusia. Namun, satu hal yang Zahra yakini kalau Tuhan tidak mungkin mempermainkan takdir hidupnya, Tuhan tidak mungkin membuat Zahra dan keluarganya malu, Tuhan juga tidak mungkin menghancurkan semua impian-impian Zahra.


***


Allahuakbar, Allahuakbar


Suara azan subuh menggema dan menyadarkan Zahra, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ternyata malam berganti pagi, sementara Zahra sedetik pun tidak bisa memejamkan matanya, ia hanya berbicara sendiri dan melakukan pergulatan dengan batinnya sendiri. Zahra berperang dan mencari penyelesaian atas masalah yang tengah ia hadapi sekarang, namun bukan penyelesaian yang ia dapatkan tapi rasa pusing yang teramat sangat. Kepala Zahra semakin sakit, matanya semakin memerah dan terbelalak, kantung matanya membentuk libgkaran hitam seperti mata panda dengan tubuh yang terasa teramat sangat lemah sekali karena Zahra belum makan apapun sejak dari kemarin siang.


Dalam keadaan seperti mayat hidup itu, Zahra bangkit dari pembaringannya, ia melaksanakan salat subuh dan bersiap untuk berangkat bekerja, ia ingin segera pergi dari rumah ini karena ia tidak ingin melihat wajah kedua orang tuanya.


Rasa kecewa yang teramat sangat membuat Zahra memusuhi kedua orang tuanya, bahkan durhakanya ia sampai tidak ingin berbicara sedikitpun dengan orang tuanya. Zahra seperti berada di dalam penjara di dalam rumahnya sendiri, jadi ia ingin cepat-cepat keluar dari rumahnya karena ketidaknyamanan tidak lagi ia temukan, ia juga merasakan dimana tidak ada seorang pun yang berpihak dan mendukung Zahra.


"Zahra, kamu mau berangkat ke kantor, Nak?" sapa ummi Fatimah yang sama sekali tidak Zahra hiraukan.


"Zahra, kamu tidak sarapan dulu, Sayang," ungkap abi yang juga tidak kalah perhatian kepada putri kesayangannya.


Zahra salah besar karena bersikap tidak acuh kepada kedua orang tuanya, apalagi kepada sang ayah yang sama sekali tidak paham dengan sikap dan pergolakan batin Zahra.

__ADS_1


Zahra terus melangkah, mengambil motor kesayangannya dan menaiki sepeda motornya tanpa melihat dan menoleh sedikitpun kepada kedua orang tuanya. Bersikap sombong dan durhaka kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segenap hati dan perasaan, memberikan yang terbaik hingga usia Zahra sudah hampir kepala tiga.


Ya, kini Zahra hanya melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli lagi dengan keselamatannya di jalan, bahkan ia rela jika sekarang Tuhan mengambil nyawanya karena ia tidak sanggup lagi menjalani hidup yang sudah tidak lagi menjadi miliknya.


Pip ..., pip ..., pip ....


Klakson mobil berbunyi sangat keras hingga membuat Zahra terkejut hingga hilang kendali.


Bruk ...


Zahra terjatuh dari sepeda motornya dengan seluruh tubuh yang terhempas ke aspal.


"Aw, sakit!"


Zahra mengaduh, ia merasa seluruh tubuhnya kesakitan ketika terhempas ke aspal, sehingga rasanya terlalu sulit untuk bangkit dan berdiri kembali. Beruntung jalan raya sepi sehingga sang gadis cantik bisa bernafas lega karena ia tidak harus terburu-buru bangkit.


Zahra mendengar sosok yang sangat ia kenal. Perlahan gadis cantik itu mengangkat kepalanya, mencari sumber suara dan mendapati seseorang lelaki tampan datang menghampirinya dengan sejuta kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah tampannya.


"Alex, kamu disini?" ucap Zahra dengan nada suara lembut karena menanggung kesakitan saat ini.


"Kamu ingin mati, Zahra?" bentak Alex.


Mata Alex melotot, pipinya memerah, ia terlihat marah bercampur kecewa kepada Zahra. Sementara Zahra terlihat pasrah, tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam tertunduk.

__ADS_1


Zahra mengaku kalau ia memang salah, bahkan perjodohan sialan itu membuat ia tidak lagi menghargai hidupnya yang sangat berharga, ia benar-benar tidak berdaya seolah buminya telah runtuh ditimpa langit.


"Ayo, bangun!"


Alex menggotong tubuh Zahra, membantu sang gadis bangkit, namun rasanya seluruh tenaga Zahra habis hingga ia merasa tidak sanggup untuk berdiri. Ya, Zahra dan Alex sama-sama tersungkur ke aspal.


"Zahra, apa lagi? Nggak usah drama!"


Suara Alex meninggi beberapa oktaf, dalam kesal lelaki itu membentak Zahra hingga air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipi Zahra.


Sejujurnya Zahra menangis bukan karena dibentak Alex, hanya saja ini waktu yang sangat tepat untuk mencurahkan semua beban yang sedari tadi ia tanggung di kepala dan dipendam di dalam hati.


"Zahra, kamu menangis?"


Alex memang lelaki yang sangat tidak suka melihat wanita lebay, menye-menye dan manja seperti Zahra, karena menurutnya wanita itu harus kuat dan pantang menyerah, jangan lemah dengan keadaan. Tapi, sebagai seorang wanita, air mata merupakan salah satu penghapus kesedihan untuk Zahra, dimana ia akan merasa lebih tenang dan damai setelah menumpahkan seluruh air mata yang jatuh membasahi pipinya itu. Sungguh, Alex juga adalah lelaki yang tidak bisa melihat air mata menggenangi wajah cantik sahabatnya itu.


"A-aku ti-dak menangis!" ucap Zahra dengan nada suara terbata-bata dengan air mata yang terus menerus membanjiri pipinya.


"Bagaimana bisa tidak menangis, toh air mata mengalir membasahi pipi. Kamu ahli banget berbohong, belajar dimana?" ujar Alex sembari mencubit hidung Zahra yang memang sangat jauh dari kata mancung.


"Ini mah kelilipan!"


Zahra mencibir hingga lelaki tampan yang ada di depannya itu tersenyum. Ya, untuk sesaat ia merasa sangat terhibur dengan ocehan-ocehan ringan yang keluar dari lisan Alex, hingga rasa sakit yang dirasakannya hilang walau untuk sesaat.

__ADS_1


"Yuk berdiri!" ucap Alex sembari mengulurkan satu tangannya kepada Zahra.


Untuk sesaat Zahra terdiam dan tidak melakukan pergerakan apa-apa.


__ADS_2