
Zahra melepaskan pelukannya dari Manda, ia tatap wajah sabahat baiknya itu dengan seksama sembari berpikir tentang ucapannya sebelumnya.
"Aku tidak mungkin suka sama Alex dan aku tidak mungkin cemburu kepada wanita itu," jawab Zahra dengan ragu.
Kini Zahra benar-benar tidak yakin dengan jawaban yang keluar dari lisannya sendiri. Ia ragu dengan perasaannya sendiri. Zahra juga tidak ingin mengakui perasaan dan kecemburuan yang saat ini ia rasakan karena ia menyangkal kalau semua rasa ini hanya rasa tidak rela melihat Alex perhatian dan dekat dengan orang lain selain dirinya seorang.
"Zahra, mulutmu mungkin bisa menyangkalnya, namun sikapmu sekarang sudah jelas sekali mengatakan kalau kamu menyukai Alex," jelas Manda.
"Tidak, mengapa aku harus suka kepada lelaki yang umurnya jauh di bawahku," jawab Zahra tidak terima.
"Alex selama ini selalu menunjukkan rasa suka dan sayangnya kepadamu, Zahra!"
Manda menjeda ucapannya, ia menatap Zahra untuk meyakinkan sang sahabat, tapi Zahra memilih untuk memalingkan wajahnya dari Manda karena menatapnya membuat Zahra seperti tertangkap dari melakukan kebohongan.
"Zahra, walaupun usia Alex jauh di bawahmu, tapi lelaki itu benar-benar menunjukkan betapa ia menyukaimu sebagai seorang wanita. Namun, kamu tidak pernah sedikitpun menganggap Alex sebagai laki-laki!"
Bentakan keras Manda cukup membuat Zahra tersinggung dan sadar kalau semua yang dikatakan oleh wanita itu memang benar adanya.
Awal pertama Alex mendekati Zahra, lelaki itu memang perhatian kepada sang gadis. Bahkan ia juga menunjukkan ketertarikan berlebihan kepada Zahra, rasa suka antara seorang pria kepada wanita. Namun Zahra bersikap seolah tidak tahu dan mengabaikannya karena terlalu sulit bagi Zahra untuk percaya kembali kepada lelaki.
Ya, pernah juga beberapa kali Alex mengungkapkan perasaannya kepada Zahra, tapi sang gadis malah menjadikan itu sebagai lelucon, karena hati Zahra sangat takut jika dipermainkan.
Kegagalan dan ketidakberuntungan percintaan di masa lalu membuat Zahra selalu membatasi dirinya, bahkan ia membuat tembok besar penghalang agar ia tidak terjebak pada perasaan yang akan membuat hatinya hancur dan terluka lagi untuk yamg kesekian kalinya.
"Zahra, pernahkah kamu menganggap Alex sebagai seorang lelaki?" tanya Manda.
Pertanyaan yang semakin membuat Zahra terdiam karena ia benar-benar tidak tahu akan menjawabnya dengan apa.
Sungguh, Zahra merasa sangat nyaman dengan keberadaan Alex di dekatnya, ia juga ingin Alex selalu ada di dalam hidupnya dalam setiap keadaan. Zahra juga merasa bahagia dengan kehadiran lelaki itu, bahkan ia merasa bersedih dan kehilangan jika sehari saja tidak tahu kabar sang lelaki. Namun, perasaan yang Zahra rasakan pada Alex saat ini bukanlah cinta, namun obat dan ketergantungan. Ya, setidaknya itulah yang Zahra anggap, sebuah opini untuk tidak mengakui rasa yang tumbuh di dalam dada.
"Sudahlah, Manda, jika kamu akan memojokkan ku dengan tuduhan tidak berdasar itu sebaiknya kamu pergi!"
__ADS_1
Dengan nada suara tidak meyakinkan, Zahra membalikkan badannya membelakangi Manda.
"Zahra, cinta memang akan dirasakan setelah ia yang dicintai sudah tidak lagi bersama kita," jelas Manda.
Wanita cantik yang tidak lain adalah sahabat Zahra itu mengatakan kebenaran yang menyakitkan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Zahra.
'Apakah aku menyukai Alex? Apakah ini rasa cemburu?'
Zahra mulai bertanya pada dirinya sendiri tentang keraguan hati ini. Namun, satu hal yang tidak bisa ia terima sekarang, kalau ia tidak suka melihat Alex berpelukan dengan wanita lain.
Zahra merasa sangat kecewa dan tidak percaya karena lelaki yang selama ini ia anggap baik dan paham agama pasti tidak akan melakukan maksiat seperti itu.
"Dasar buaya, tidak melihat yang bening-bening," ocehan Zahra dengan amarahnya.
Zahra ambil ponselnya, ia tekan nomor Alex dari nomor lain yang tentu saja tidak diketahui lelaki itu.
Dalam keadaan marah dan kecewa, Zahra mencoba menghubungi lelaki itu beberapa kali sampai ia mengangkatnya.
Alangkah sakit dan hancurnya hati Zahra ketika mendengar suara seorang wanita yang mengangkatnya. Suara yang terdengar manja dan menggoda membuat Zahra sangat jijik dan ingin mengacak-acak rambut wanita itu.
Namun, anehnya Zahra tidak bisa menjawab suara wanita itu dan memilih untuk mematikannya.
"Aku mungkin salah dengar, tidak mungkin Alex bersama seorang wanita jam segini."
Rasa penasaran membuat Zahra memberanikan diri kembali menghubungi nomor tersebut, berharap apa yang ia dengar sebelumnya hanya ilusi semata.
[Hallo, Hallo, ini siapa?]
Suara lembut Alex akhirnya bisa Zahra dengar, suara teduh dan menenangkan yang membuat emosi yang membara di hati Zahra padam seketika, hingga dirinya mencoba untuk memberanikan diri menjawab suara itu.
[Kamu dimana, Mas? Kenapa nomorku di-]
__ADS_1
Belum selesai diri Zahra melanjutkan pertanyaan, sebuah bom meledak di telinganya.
[Siapa yang menelpon, Sayang?]
[Entahlah, salah sambung, Sayang]
Tit ...
Panggilanku akhirnya terputus dan Zahra tidak lagi bisa mendengarkan suara Alex ataupun gadis, yang dipanggil Alex dengan panggilan sayang.
Darah Zahra terasa sangat mendidih, seluruh tubuhnya gemetar dan penuh dengan amarah. Ingin sekali rasanya saat ini juga Zahra mendatangi Alex dan wanita yang ada bersamanya itu, kemudian mengacak-acar rambutnya bahkan memukul mereka sebagai bentuk ketidaksukaan Zahra kepada mereka, tapi Zahra tidak tahu akan mencarinya kemana.
"ALEX ...!"
Zahra memaki sangat keras, meluapkan semua emosi di dada agar dada yang terasa sangat sesak itu tidak membuat Zahra hancur berkeping-keping.
Huft ...
Zahra menarik nafas panjang dan dalam-dalam, kemudian dengan keberanian penuh, Zahra mencoba menghubungi Alex kembali, tapi kini Zahra tidak lagi bisa menghubunginya, karena lelaki itu juga telah memblokir nomor Zahra.
"Alex kurang ajar, ternyata kamu tidak pernah serius dekat denganku, kamu buaya seperti yang Mama katakan!" teriak Zahra keras dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, seolah ia punya stok air mata yang tidak ada habis-habisnya.
Teringat oleh Zahra kejadian tujuh tahun yang lalu, waktu itu umurnya masih dua puluh tahun. Waktu dimana ia sedang berbunga-bunga akan cinta yang menggelora, cinta yang membuat ia merasa memiliki dunia ini seutuhnya.
Ya, seorang lelaki yang tidak lain adalah kekasihnya sejak masa kuliah akhirnya menyampaikan niat baiknya untuk menikahi Zahra.
Walaupun mereka berdua masih tergolong muda, namun Zahra percaya bisa menjalankan bahtera rumah tangga yang bahagia bersama lelaki yang ia cintai itu.
Kedua orang tua saling mengenal, dan kedua orang tua juga sudah sepakat merestui cinta suci mereka ketika kekasih Zahra telah mendapatkan pekerjaan.
Bagi kedua orang tua kedua belah pihak, salah satu problem pertengkaran setelah menikah adalah perkara uang, jadi sedapatnya calon suami Zahra harus memiliki pekerjaan agar ia nantinya bisa menghidupi keluarga kecil mereka kelak.
__ADS_1