
Adrian menatap Zahra dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus. Untuk beberapa detik tatapan itu saling menyatu hingga timbullah rasa yang menggelora di dalam hati.
"Zahra."
Adrian mendekatkan wajahnya ke Zahra, hingga mereka berdua saling merasakan debaran jantung masing-masing yang berdetak sangat hebat.
Adrian semakin mendekatkan wajahnya ke Zahra, ia sepertinya ingin melancarkan aksinya untuk mendarat di bibir Zahra yang mungil. Namun, kali ini langit tidak mengizinkan Adrian. Sepertinya Tuhan langsung membalas perlakuan Adrian kepada Salsa melalui Zahra.
"Hujan ...," teriak Zahra sembari mengangkat tangan menampung hujan dengan kedua telapak tangannya.
"Zahra, ayo kita kembali!" Adrian mendorong kursi roda Zahra untuk bergegas meninggalkan taman rumah sakit sebelum hujan semakin deras.
"Adrian, aku ingin menikmati hujan, bolehkah?" ucap Zahra meminta Adrian dengan lembut. Tentu saja Adrian luluh dengan kelembutan dan tatapan Zahra yang terlihat mengiba itu.
"Zahra, tapi kamu lagi sakit, aku tidak mungkin membiarkanmu bermandikan hujan seperti ini," ucap Adrian lembut sembari duduk jongkok di depan Zahra, memegang lutut Zahra.
"Aku tidak akan sakit, aku suka hujan dan aku akan menari bersama hujan." Wajah Zahra terlihat sangat bahagia, seolah tidak ada beban apa-apa.
Merekah!
Indah!
Senyum yang bersemi seperti bunga yang bermekaran.
Zahra berdiri dari kursi rodanya, berputar-putar dan menari menikmati irama hujan.
"Adrian, ayo, sini!"
Zahra menarik tangan Adrian, membawa Adrian menari bersamanya.
Awalnya Adrian terlihat kaku, namun lama-kelamaan akhirnya ia ikut menari bersama Zahra.
Adrian dan Zahra berpegangan tangan sembari berputar-putar. Mereka berdua terlihat seperti anak bocah yang tengah bermain air hujan dengan hati dan perasaan riang gembira.
Zahra terus saja menari, ia seperti wanita yang tidak memiliki masalah apapun, ia seperti wanita bebas tanpa beban pikiran, gelak tawa terpancar indah dari wajah cantiknya, rambut lurus panjang berwarna hitam itu kini terlihat berantakan karena hujan, baju rumah sakit yang Zahra kenakan juga basah, membuat tubuh mungilnya terlihat seksi di mata Adrian.
Adrian terus saja menatap Zahra, entah apa yang ada di otak Adrian saat ini, matanya tidak berkedip sedikitpun dari Zahra, kemanapun kaki Zahra melangkah mata Adrian selalu memperhatikannya.
__ADS_1
"Adrian," ucap Zahra lembut disela-sela hujan yang membuat hati Adrian semakin bergejolak.
Zahra berjalan pelan beberapa langkah mendekati Zahra, membuat jantung Adrian semakin berdetak tidak karuan.
"Adrian, kenapa kamu menatapku sepertu itu?" tanya Zahra.
Zahra baru menyadari kalau Adrian menatapnya sedari tadi. Zahra semakin mendekat, namun Adrian masih saja diam mematung dengan pandangan yang tidak beralih sedikitpun dari Zahra.
Zahra semakin dekat, jarak mereka sekitar 50 cm saja. Jantung Adrian tidak bisa lagi dikendalikannya, matanya terus-terusan menatap Zahra. Kini Zahra juga ikut menatap mata Adrian, mata mereka saling menyatu.
'Tampan sekali lelaki ini,' ucap Zahra di dalam hati.
'Ah, apa yang aku pikirkan, bagaimana mungkin aku memikirkan lelaki lain, tanah kuburan Mas Raka bahkan belum mengering,' batin Zahra menyalahkan dirinya sendiri. Bella menunduk, ia tidak ingin lagi menatap mata Adrian yang membuat hatinya merasakan gejolak tang tidak biasa. Namun, dalam sesaat semuanya semakin menjadi, debaran jantung Zahra semakin berdetak di luar gerakan normal, ketika ia mendengar nafas Adrian di telinganya.
"Zahra, aku mencintaimu!"
Bisikan lembut di telinga Zahra membuat Zahra semakin tidak bisa mengontrol hatinya. Namun, Zahra berusaha untuk menghindari Adrian.
"Adrian, ini tidak benar." Zahra bergerak beberapa langkah menjauhi Adrian, tapi kali ini Adrian sudah tidak bisa lagi melepaskan Zahra begitu saja. Adrian menarik tangan Zahra dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Dengan kekuatan yang tidak seberapa, Zahra berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Adrian.
"Zahra, aku mencintaimu."
Adrian kembali membisikkan kata-kata cinta di telinga Zahra, kemudian dengan lembut ia akhirnya melancarkan aksinya. Awalnya Zahra menolak dan berusaha melepaskan diri, namun pesawat yang mendarat lembut itu membuat Zahra akhirnya pasrah dan terhanyut dalam lautan cinta yang menggelora.
"Zahra," ucap Adrian lembut.
Saat ini tangan pria tampan itu masih di pinggang mungil Zahra, dengan tatapan lembut Adrian memeluk gadis itu sangat erat. Ia sepertinya sangat tergila-gila dengan kecantikan Zahra.
"Adrian, ini salah!"
Zahra menunduk sedih. Penyesalan mulai menyelimuti hatinya. Ia telah melakukan hal yang sangat tidak terpuji dengan lelaki yang baru saja dikenalnya sementara kekasih hatinya baru saja meninggal.
'Mas Raka, maafkan aku! Aku melakukan hal yang membuatmu pasti merasa kecewa kepadaku,' ucap Zahra di dalam hati.
Perlahan air mata Zahra mulai mengalir, namun Adrian tidak tahu kalau Zahra menangis karena air mata Zahra telah menyatu bersama hujan.
__ADS_1
"Zahra, bagaimana kalau kita segera kembali ke kamar rawat inap mu, aku takut Ummi dan Abi mu khawatir!" ujar Adrian.
Lelaki itu langsung membimbing tangan Zahra dan menyuruh Zahra kembali duduk di kursi rodanya.
Dalam tangis, Zahra pasrah ketika Adrian mendorong kursi rodanya.
Untuk sesaat suasana diam menyelimuti hati kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu, mungkin penyesalan karena melakukan hal di luar batas, mungkin juga hati yang bergejolak mempertanyakan hati, apakah ini cinta atau hanya hasrat sementara saja.
"Adrian."
"Zahra."
Setelah beberapa saat, akhirnya Zahra dan Adrian sama-sama ingin memulai pembicaraan.
"Kamu duluan!"
"Kamu duluan!"
Lagi-lagi kedua sejoli itu berbicara serentak.
Akhirnya kebisuan itu berganti gelak tawa. Saat ini dua sejoli itu sedang berbunga-bunga, sepertinya mereka memilih untuk sama-sama terjebak dalam cinta yang menggelora.
"Adrian, kenapa kamu melakukannya?" tanya Zahra di sela-sela perjalanan menuju kamarnya.
Adrian menghentikan jalannya, ia melangkahkan kakinya menatap mata Zahra, ia bersujud sembari menggenggam tangan Zahra, dengan sangat romantis Adrian mengatakan kata-kata manis yang membuat hati wanita mana saja di dunia ini pasti akan luluh lantah mendengarnya.
"Zahra, aku mencintaimu. Aku tahu ini terdengar aneh karena kita berdua baru saja mengenal. Tapi, aku mengatakan hal ini bukan karena aku tidak berfikir, tapi aku tidak bisa lagi menahan gejolak di dadaku ini. Aku juga tidak tahu sejak kapan perasaan ini bersarang di hatiku, mungkin saja sejak namamu selalu kudengar atau mungkin juga muncul saat pertama kali kita bertemu." Adrian menatap mata Zahra dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Adrian, apa sebenarnya maksud dari ucapanmu itu? Kamu mendengar namaku dari mana? Tolong jelaskan!"
Zahra semakin penasaran dan ingin tahu banyak tentang lelaki tampan yang saat ini tengah bersujud di depannya.
"Zahra, aku sudah tidak tahan lagi, apakah kamu mau menjadi kekasihku?" Adrian akhirnya memberanikan dirinya dan mengungkapkan perasaannya kepada Zahra.
"Adrian, apa maksudmu berkata seperti itu?" Zahra bengong dengan pernyataan mendadak yang ke luar dari mulut Adrian.
"Zahra, jawablah, maukah kamu menjadi kekasihku?"
__ADS_1