
"Iya, Tante, kenapa?" Adrian kemudian menatap wajah ummi Fatimah dengan tatapan iba.
"Tante tahu ini adalah permintaan yang berlebihan, tapi tante benar-benar meminta tolong kepada Nak Adrian. Tolong temani Zahra sampai ia sembuh." Pinta ummi Fatimah memohon.
Wajah ummi Fatimah mengisyaratkan ada suatu beban yang saat ini tengah di tanggung di dalam hatinya.
"Nak, Adrian, saat ini kondisi mental Zahra sedang tidak baik. Kesakitan dan kehilangan menyisakan trauma berat di hati Zahra, hingga ia tidak lagi bisa memilah dan mengontrol dirinya," jelas abu Abdullah yang juga tidak kalah khawatir.
"Apa sebenarnya yang terjadi kepada Zahra?"
"Zahra mengalami gangguan jiwa, Dokter menganjurkan Zahra di rawat di rumah sakit jiwa, Nak." Wajah abi Abdullah terlihat sangat sedih, matanya berkaca-kaca, terlihat sekali kalau ia ingin menangis, namun ia menahannya.
"Rumah sakit jiwa? Apakah kondisi mental Zahra separah itu, Om?"
Adrian heran, matanya terbelalak, ekspresi wajahnya kaget dan tidak menyangka.
Walaupun Adrian melihat sikap Zahra yang bisa berubah-ubah dalam hitungan detik, namun tidak cukup membuat Adrian percaya kalau Zahra saat ini benar-benar stres hingga disarankan oleh dokter untuk di rawat di rumah sakit jiwa.
"Nak Adrian, Om dan Tante tidak ingin Zahra di rawat di rumah sakit jiwa, dia adalah putri kami satu-satunya dan kami tidak akan pernah tega jika harus mengantarkan Zahra ke sana." Air mata abi Abdullah akhirnya bercucuran juga membasahi pipinya.
"Yang Zahra butuhkan saat ini adalah semangat, dukungan dan kehangatan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. Om sangat tahu, sungguh tidak sopan melibatkan Nak Adrian dalam permasalahan yang dihadapi oleh keluarga kami, namun Om sangat terharu melihat Zahra bisa tenang bersama Nak Adrian," abi Abdullah berusaha untuk meyakinkan Adrian dengan membujuknya.
Abi Abdullah dan ummi Fatimah sangat tahu dan paham sekali kalau putrinya membutuhkan Adrian karena sang putri menganggap lelaki itu sebagai Raka, calon suaminya. Namun, mungkin semua yang terjadi sekarang adalah petunjuk, dimana Adrian adalah malaikat terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk Zahra.
"Tapi, Zahra menganggap saya Raka, calon suaminya. Saya takut kalau terus-terusan seperti ini malah tidak baik untuk kesehatan mental Zahra," Adrian berusaha memberikan penjelasan tentang hal buruk yang mungkin saja terjadi.
Bukan perkara tidak mau membantu, tapi Adrian tidak ingin membuat Zahra akan semakin stres jika terus-terusan berpikir kalau Adrian adalah Raka.
__ADS_1
"Tidak, Nak Adrian, Zahra tidak menganggap kamu Raka, karena bagi kami kamu adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan di dunia ini untuk menyembuhkan trauma di hati Zahra," ucap ummi Fatimah yang juga mencoba meyakinkan Adrian.
Ummi Fatimah memang sangat memahami Zahra, putrinya semata wayang. Beliau mengetahui sikap dan gerak-gerik Zahra, termasuk sikap Zahra terhadap Adrian.
"Maksud Tante?" Adrian semakin tidak mengerti.
"Disaat Zahra meminta Nak Adrian jangan pergi, itu adalah diri Zahra yang sesungguhnya, karena dalam keadaan sadar, Zahra sangat tahu kalau Nak Raka sudah tidak lagi ada di dunia ini," jelas ummi Fatimah lembut.
Zahra adalah tipe anak yang sangat manja, ia tidak suka sendirian dan kesepian dan ia adalah gadis yang teramat sangat membutuhkan orang lain untuk menyemangatinya. Zahra punya adik laki-laki, mereka berdua sangat dekat semasa kecil, namun pendidikan memisahkan keduanya sesaat setelah sang adik memutuskan untuk mondok di pesantren, hingga keduanya jarang bertemu dan Zahra merasa sendirian serta kesepian ketika telah sampai di rumah.
"Tapi ...." Adrian menahan diri untuk tidak melanjutkan ucapannya, seolah tidak tega kepada kedua orang tua Zahra.
"Nak Adrian, Tante berjanji setelah keadaan Zahra membaik, Tante akan membiarkan kamu pergi, Tolonglah, Nak!"
Ummi Fatimah bersujud dan memohon di depan Adrian sembari memegang lutut sang lelaki tampan. Wajah sang ibu penuh harap dan keputusasaan.
Ummi Fatimah menatap mata Adrian dan menggenggam tangan lelaki itu sembari bersujud dan memohon.
Adrian bangkit dari tempat duduknya dan membantu ummi Fatimah berdiri.
"Tolonglah, Nak!" ummi Fatimah terus-terusan memohon sampai Adrian berkata iya.
"Baiklah, Tante, saya akan membantu menyembuhkan trauma Zahra," ucap Adrian dengan nada suara lantang dan sangat tegas sekali.
Adrian tersenyum, tentu saja itu membuat hati kedua orang tua Zahra sangat bahagia.
Ummi Fatimah langsung memeluk Adrian, lelaki yang baru saja dikenalnya itu terasa seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
"Tante, kalau boleh saya mau kembali ke kantor dulu, ada beberapa berkas yang harus saya selesaikan."
Adrian sedari tadi memang sangat gelisah, karena begitu banyak panggilan dari kantor, namun ia memilih mengabaikan semua panggilan itu karena ia mulai merasakan perasaan kasihan dan iba terhadap Zahra, gadis yang merupakan calon istri dari sahabatnya yang kini telah tiada.
"Baiklah, Nak Adrian, pergilah! Tapi, kalau tidak keberatan bolehkan Tante meminta nomor ponselnya, Nak?"
"Tentu saja boleh, Tante, dan kapanpun Tante memerlukan saya, telepon saja pasti saya angkat."
Adrian benar-benar terlihat seperti seorang lelaki yang sangat baik. Entah apa yang membuatnya mau membantu Zahra, tetapi hati kecilnya berkata ia tidak tega melihat gadis malang itu menanggung luka di hatinya sendirian.
"Kalau begitu saya pamit ya, Om, Tante," ucap Adrian sembari menyalami tangan kedua orang tua Zahra.
***
Adrian kemudian pergi meninggalkan rumah sakit dengan langkah kaki cepat, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal, ia seperti seorang pembalap yang diburu waktu dan berpacu untuk menang. Hingga sampailah ia di sebuah perusahaan miliknya sendiri.
"Pak, Bapak dadi mana saja? Sudah banyak klien yang mencari Bapak tapi nomor Bapak tidak bisa dihubungi," ucap salah seorang pria yang merupakan sekretaris pribadinya Adrian.
"Maaf, saya sedang ada urusan mendadak yang tidak bisa saya tinggalkan." Adrian terus melangkah menaiki lift menuju ruangannya yang berada di lantai 20.
"Pak, Nona Salsa ada di ruangan Bapak, dia telah menunggu Bapak sejak 2 jam yang lalu," jelas sang sekretaris.
"Ha? Ngapain dia nunggu di sana selama itu?" Adrian heran dan kaget.
"Dia mencari Bapak ke rumah tapi Bapak tidak ada makanya ia menghampiri dan menunggu Bapak di kantor saja, katanya Bapak pasti ke kantor," jelas sang sekretaris yang terus saja setia mengikuti langkah kaki Adrian hingga mereka sampai di ruangan Adrian.
Adrian adalah pengusaha muda, pimpinan perusahan yang bergerak di bidang fashion yang saat ini tengah berkembang pesat. Ia sangat dipuja-puja oleh wanita karena paras dan kekayaannya.
__ADS_1
"Sayang ...!"
Gadis cantik dan seksi dengan mengenakan dress mini langsung berlari ke pelukan Adrian ketika Adrian baru saja memasuki ruangannya.