
Entah apa yang dirasakan oleh Zahra saat ini, sungguh ia tidak suka dengan apa yang ia lihat sekarang. Darah Zahra seketika mendidih, tubuhnya juga terasa teramat sangat panas sekali, hingga merasakan gerah yang teramat sangat.
Andai ada Alex disini, ia ingin sekali menonjok jidat lelaki itu, memukul-mukul tubuh sang pria hingga meninju dada bidangnya. Zahra benci dan teramat sangat kesal dengan ketidaksopanan lelaki itu.
"BRENGSEK, DASAR BUAYA!"
Dengan emosi memuncak itu, Zahra melemparkan ponselnya hingga jatuh ke lantai. Rasanya ingin sekali ia melupakan apa yang baru saja ia lihat, namun semakin sang gadis berusaha melupakannya semakin ia terngiang-ngiang akan apa yang tadi dilihatnya.
Zahra kesal dengan kemunafikan Alex, karena lelaki itu mengatakan kalau ia tidak lagi ingin berpacaran dan suatu saat nanti ketika lelaki itu menemukan tambatan hatinya maka ia akan melamar wanita itu untuk menjadi pendamping hidupnya. Tapi semua yang dikatakan lelaki itu hanyalah omongan di mulut tanpa pertanggungjawaban. Alex tetap lelaki yang tidak bisa mengontrol hawa nafsunya, ia juga tidak mampu menolak wanita cantik yang ingin bermesraan dengannya. Sungguh, sikap buaya darat yang membuat Zahra sangat ingin membunuhnya hari ini juga.
'Zahra, kenapa darahmu mendidih? Mengapa kamu marah dan emosi? Apakah kamu cemburu kepada wanita itu?'
Batin sang gadis mulai mempertanyakan perasaannya sendiri, sesuatu yang memang selama ini tidak pernah ia ketahui karena tidak pernah muncul dan menghampirinya.
Zahra mencoba menghubungi Alex dengan nomor ponsel barunya beberapa kali, namun lelaki munafik itu tidak mengangkatnya sama sekali. Tapi Zahra bukanlah wanita yang berputus asa, ia tidak akan menyerah, ia tetap akan menghubungi lelaki itu sampai sang lelaki mengangkatnya.
"Dasar Alex, BUAYA ...!"
Zahra berteriak keras diluar kesadarannya, hingga semua mata tertuju kepadanya. Ya, seisi ruangan bertanya tentang keadaan Zahra, bahkan mereka menyangka kalau sang gadis mungkin saja kemasukan setan.
"Zahra, ada apa?" tanya Manda kaget.
Manda berjalan cepat menghampiri sahabatnya itu, mencoba memastikan apa yang sebenarnya terjadi kepada Zahra.
Rekan kerja Zahra yang lainnya juga terlihat melotot dengan sejuta tanda tanya kepada sang gadis. Namun mereka memilih kembali fokus pada pekerjaan masing-masing karena memang banyak deadline pekerjaan yang harus mereka selesaikan sekarang.
"Zahra, kamu menangis?"
__ADS_1
Manda mendapati Zahra sedang menyeka air matanya. Ya, entah mengapa dada sang gadis terasa teramat sangat sesak hingga dirinya berusaha keras untuk menahan agar kristal-kristal bening itu tidak jatuh membasahi pipinya. Namun, tidak ada yang bisa membohongi mata, merah dan berair meski ditahan masih bisa dilihat oleh Manda juga, sahabat baik Zahra
"A-aku ti-dak apa-apa," jawab Zahra dengan nada suara terbata-bata.
Zahra memalingkan wajahku dari Manda, kemudian menunduk karena untuk sesaat ia tidak ingin terlihat menyedihkan.
"Ada apa, Zahra?"
Suara Manda semakin meninggi, hingga beberapa rekan kerja kembali melotot menatap mereka.
Ya, Zahra sangat tahu jika keadaan seperti ini akan berlanjut, karena Manda adalah wanita dengan rasa penasaran tinggi, ia tidak akan berhenti sebelum menemukan kebenarannya.
Tanpa berkata-kata, Zahra berdiri dari tempat duduknya, hingga gerakan kursi membuat semua mata kembali menatap Zahra. Namun Zahra tidak peduli, ia menarik tangan Manda untuk keluar dari ruangan kerja mereka hingga suara high heels yang mereka gunakan terdengar seperti kaki kuda yang sedang berlari.
"Zahra, Ara, tunggu!"
Suara Manda terdengar tertatih karena mengikuti kecepatan dan langkah kaki Zahra. Tapi sang gadis memilih untuk tidak mempedulikan sahabatnya itu sekarang. Zahra hanya ingin cepat sampai di taman agar mereka berdua bosa mengobrol dari hati ke hati.
Zahra melepaskan pergelangan tangan Manda yang sedari tadi ia tarik. Namun Zahra tidak berani menatap sahabatnya itu, karena saat ini air mata yang sedari tadi ia tahan sudah tidak lagi bisa ia bendungkan.
"Zahra, apa sebenarnya yang terjadi?"
Manda membalikkan badan Zahra, ia memegang kedua bahu sang sahabat dan mendapati Zahra sedang menangis dengan air mata yang kini sudah membanjiri pipi bulat sang sahabat.
Sungguh, Zahra tidak mampu mengatakan apapun selain menunjukkan ponselnya, memperlihatkan sesuatu yang baru saja ia lihat kepada Manda.
"BRENGSEK! DASAR BUAYA!
__ADS_1
Manda memberikan respon yang sama seperti yang Zahra ungkapkan, bahkan ia terlihat lebih emosi. Wajah Manda berubah menjadi amarah dengan luapan emosi yang terpancar jelas di wajahnya.
Manda juga terlihat ingin membanting ponsel, namun ia masih mencoba menahan diri karena itu adalah ponsel Zahra.
"Dimana lelaki itu sekarang? Apakah dia sedang bersama gadis seksi ini?" celoteh Manda dengan kepalan tangan yang siap untuk menonjok Alex..
"Man-Manda," ucap Zahra dengan isak tangisan.
Dada Zahra terasa teramat sangat sesak, hingga tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengadu kepada sahabatnya itu. Zahra memeluk Manda sembari melimpahkan air mata kesedihannya kepada sahabat baiknya itu.
"Lepaskanlah semua air matamu hari ini, tapi esok jangan pernah lagi menangisi lelaki itu!"
Manda menepuk-nepuk lembut pundak Zahra , memberi Zahra kekuatan dan semangat untuk melanjutkan hidupnya.
Manda meyakinkan Zahra, bahwa ia bukanlah wanita yang mudah jatuh karena laki-laki dan tidak hanya Alex seorang lelaki di dunia ini, bahkan banyak lelaki yang menyukai sahabatnya itu.
Ya, apa yang dikatakan oleh Manda memang benar adanya, sejak mengenal Alex, Zahra telah berubah menjadi wanita tegar yang tidak lagi menangisi laki-laki yang meninggalkannya.
Alex menjadi obat yang menyembuhkan luka Zahra, namun kini lelaki itu menjadi orang yang melukai kembali luka lama yang baru saja sembuh.
"Alex bilang tidak akan berpacaran lagi dan akan langsung menikah saja jika telah menemukan wanita yang cocok untuknya, tapi apa ini!"
Dengan isak tangis, Zahra mengingat dan menyampaikan kembali apa yang pernah dikatakan oleh Alex kepadanya.
Sungguh, rasa kecewa ini membuat hati Zahra seperti tertusuk pisau tajam.
"Zahra, apakah kamu menyukai Alex?" tebak Manda.
__ADS_1
Selama ini Zahra selalu bercerita kepada Manda kalau Alex adalah malaikat baik yang menjadi penyelamatnya, lelaki yang menjadi obat yang menyembuhkan luka Zahra, bahkan Zahra sering memuji Alex dengan sejuta kebaikannya kepada Zahra, namun Zahra tidak pernah mengakui kalau ia memiliki perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepada Alex karena ia memang tidak pernah menyangka kalau apa yang ia rasakan di hatinya itu adalah perasaan suka antara seorang wanita kepada pria.
"Lihatlah, Zahra, kamu benar-benar telah terjebak dengan perasaanmu sendiri. Kamu menyukai Alex dan saat ini kamu sedang cemburu melihat lelaki itu berpelukan dengan orang lain," ucap Manda dengan penuh keyakinan.