
Hahaha ....
Zahra menatap wajahnya di cermin, kemudian tertawa terbahak-bahak melihat dirinya sendiri. Zahra seperti orang gila yang tidak punya arah dan tujuan, tidak punya semangat hidup dan belum dewasa sama sekali.
Zahra tidak bisa menyelesaikan masalah hidupnya sendiri, Zahra hanya memikirkan jalan singkat agat terhindar dari masalah yang sudah tidak sanggup lagi ia tanggung.
Saat ini Zahra kembali menatap gunting yang ada di tangannya, hingga terbesit di hati Zahra, 'Apakah aku mati saja ya?' ucap Zahra di dalam hati dengan sejuta kesedihan yang ia bawa bersamanya.
"Zahra, Zahra, apa yang kamu lakukan?"
Samar terdengar suara Alex tengah panik, lelaki itu berlari mengejar Zahra, ia menghampiri Zahra dengan sejuta rasa cemas yang terlihat di wajahnya. Sungguh, kegelisahan itu membuat Alex menjadi lelaki yang sangat berkharisma, tempat bersandar dan berteduhnya seorang wanita.
Alex kemudian mengambil gunting itu dari Zahra, kemudian meletakkannya di lemari yang sulit untuk dijangkau oleh Zahra.
Sementara Zahra terlihat diam dan pasrah saja, menurut dengan apa yang dilakukan oleh Alex kepadanya. Sungguh, dalam kesedihan dan ketakutan itu, air mata jatuh menggenangi pipi Zahra, ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua gejolak dan beban memuncak yang ada di dalam dadanya. Sakit yang teramat sangat yang membuat Zahra tidak sanggup lagi untuk menahannya.
"Menangislah, lepaskanlah!" ucap Alex dengan posisi memeluk tubuh Zahra.
Alex menepuk-nepuk lembut pundak gadis cantik itu, menenangkan Zahra yang saat ini menangis di dada bidangnya. Ya, ini kali pertama dua insan itu saling bersentuhan dan berpelukan seolah lupa kalau keduanya bukan muhrim.
Ya, hampir sepuluh menit dalam pelukan Alex akhirnya Zahra tersadar, bahwa apa yang mereka lakukan saat ini sudah melanggar batasan agama. Zahra langsung melepaskan diri dan benda pertama yang ia cari adalah jilbab untuk menutupi kepalanya yang tidak lain adalah aurat dan tidak boleh dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.
Sungguh, Zahra merasa sangat malu karena Alex melihatnya dalam keadaan hancur berantakan seperti orang gila, selain itu Zahra merasa sangat berdosa karena ia telah menampakkan auratnya di depan Alex, mahkota yang selama lima tahun terakhir ia tutupi kini harus dilihat oleh seseorang yang bukan mahramnya.
__ADS_1
Zahra membalikkan badannya, berjalan menuju sofa karena hati itu masih sangat malu untuk berhadapan dengan Alex. Ia terlihat salah tingkah dan tidak tahu akan melakukan apapun untuk menghindari rasa malunya.
Zahra kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa, dengan posisi telungkup sembari menutup wajah itu dengan kedua tangannya.
"Dek, tidak apa-apa," tanya Alex lemah lembut dengan kekhawatiran yang masih terdengar sangat jelas.
Zahra sangat yakin kalau Alex juga tidak ada niat melihat auratnya. Lelaki itu juga tidak bermaksud memeluk Zahra, tapi keadaan Zahra saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan yang lelaki itu lakukan hanya gerakan refleks dan membantu Zahra dari hal yang mungkin lebih buruk, karena saat ini Zahra memerlukan dukungan dan semangat dari orang-orang terdekatnya.
"Jangan mendekat!" ucap Zahra dengan nada suara tinggi namun masih terdengar parau ketika ia mendengar suara langkah kaki Alex mendekati.
"Mas tidak melihat apapun sebelumnya, jadi kamu tidak usah khawatir," bujuk Alex yang seolah terlihat melupakan apa yang sebelumnya terjadi karena lelaki itu tidak ingin membuat Zahra malu atau merasa tidak aman dengan dirinya.
Alex meminimalisir rasa malu Zahra kepadanya, dan sejujurnya kata-kata seperti itu benar-benar sangat Zahra butuhkan saat ini. Ya, walaupun berpura-pura, setidaknya Alex memilih untuk melupakan kejadian sebelumnya untuk menjaga hati dan perasaan wanita cantik itu.
"Aku mengurus administrasi dan menebus obat untukmu, tapi ketika kulihat kedua orang tuamu datang, aku memilih pergi karena aku tidak ingin mengganggu privasimu dengan keluargamu."
Alasan yang masuk akal karena Alex memang belum pernah dikenalkan Zahra kepada kedua orang tuanya.
"Aku takut!"
Entah mengadu atau ingin dikasihani, tiba-tiba saja Zahra mengungkapkan kekhawatiran dirinya kepada Alex.
Zahra ingin lelaki itu melindungi dan menjaganya, bahkan Zahra sangat ingin Alex selalu ada untuknya, walaupun Zahra mulai merasakan keganjalan dari sikap Alex kepadanya, sebuah gerak-gerik yang tidak biasa yang baru saja Zahra sadari.
__ADS_1
"Bukankah sudah aku katakan kalau aku akan selalu ada untukmu, lantas apa lagi yang kamu takutkan?"
"Aku tidak ingin menikah dengan lelaki itu," ujar Zahra dengan nada suara kelu.
"Kenapa? Bukankah ia adalah lelaki yang baik agamanya? Tidak seperti aku!" balas Alex dengan nada suara bergetar.
"Lelaki itu memang baik ilmu agamanya, tapi aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya, jadi bagaimana aku akan menjalankan peranku sebagai seorang istri jika memandang wajahnya saja tidak membuatku tertarik."
Zahra akhirnya menyampaikan apa yang ia rasakan di hatinya, setidaknya Alex bisa mendengarkan keluh kesah dan semua beban yang saat ini tengah ditanggung di dadanya dan dijunjung di atas kepalanya.
"Lantas apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu akan menentang keputusan Ummi dan Abi-mu? Apakah kamu akan menjadi anak durhaka, Dek?"
Alex berbicara pelan dengan nada yang ditekan, wajahnya terlihat memerah dengan mata melotot, terlihat sekali kalau ia sangat tidak suka dengan keputusan kekanak-kanakan yang Zahra ambil. Ya, walaupun Alex berusia lebih muda dari pada Zahra, akan tetapi lelaki itu jauh lebih dewasa dari pada Zahra. Ia menyampaikan nasehat dengan caranya sendiri, tidak keras namun mengenai hati dan perasaan Zahra, seperti anak panah yang langsung menembak tepat ke sasarannya.
Zahra sangat tahu kalau restu Allah ada pada restu kedua orang tua dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua karena orang tua adalah wakil Allah di dunia. Jauh dari hatinya yang terdalam, Zahra juga tidak berani untuk melawan dan menentang keinginan orang tuanya, karena Zahra tidak ingin durhaka seperti malin kundang. Namun, sebagian hati Zahra juga tidak sanggup menjalani sesuatu yang dipaksakan.
"Zahra, kenapa kamu diam? Jika kamu tidak yakin maka jangan pernah lagi mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal seperti itu," ucap Alex dengan nada suara yang terdengar lebih ramah di telinga Zahra.
"Jika Ummi dan Abi tetap melanjutkan perjodohan ini, maka aku tetap akan kabur dari rumah!"
Keegoisan membuat diri wanita itu melawan hati nurani, ia tidak lagi mempedulikan kata hatinya karena yang ada di benaknya sekarang adalah mencari cara agar terhindar dari lelaki yang bernama ustadz Fahri itu.
"Lantas apa kamu memiliki uang?"
__ADS_1