Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Mempertanyakan Isi Hati


__ADS_3

Pertanyaan Alex kembali mengusik relung hati Zahra. Ya, karena Zahra berasal dari Minangkabau dan keluarganya menggunakan adat Minang yang mengatur tentang pertunanganan Zahra dan ustadz Fahri, maka pihak yang membatalkan pertunanganan harus membayar dua kali lipat dari mahar pertunangan yang telah diberikan.


'Ummi bilang kalau ustadz Fahri memberikan cincin berlian seharga rumah untuk mengikatku, dan jika aku membatalkan pertunanganan dengan lelaki itu maka aku harus membayar seharga dua buah rumah,' batin Zahra.


Zahra berpikir panjang, bagaimana mungkin ia bisa mengembalikan mahar sebanyak itu, sementara uang yang ia miliki hanya bisa untuk bertahan sebulan saja.


"Ara, menyerahlah kepada kedua orang tuamu dan bicaralah baik-baik, beri penjelasan kalau kamu tidak ingin menikah dengan lelaki itu," ucap Alex memberikan saran.


"Bagaimana aku akan berbicara baik-baik kepada kedua orang tuaku sementara Ummi sudah mengatakan kalau pertunanganan ini bisa dipertimbangkan lagi jika aku memiliki calon suami pilihanku yang ku ajak ke rumah."


"Zahra, jika memang begitu maka ajaklah lelaki pilihanmu ke rumah dan kenalkanlah kepada kedua orang tuamu," ucap Alex memberikan saran luar biasa kepada Zahra yang dianggapnya adik.


"Mas, apa kamu menghinaku?"


"Menghina? Apa maksudmu, Ara?"


"Bukankah kamu sangat tahu kalau tidak ada seorang lelaki pun yang dekat denganku kecuali kamu, lantas siapa yang akan aku kenalkan kepada Ummi dan Abi disaat aku sendiri tidak memiliki siapa-siapa sebagai calonku."


Zahra memalingkan wajahnya dari Alex, ia merasa benar-benar dengan lelaki itu. Alex mengatakan hal-hal mustahil yang Zahra sendiri tidak tahu jawabannya. Andai Zahra tuhu siapakah lelaki yang menjadi jodohnya, maka ia mungkin akan menjitak kepalanya sembari menyeret tangannya untuk segera menemui kedua orang tua dan melamar Zahra secepatnya. Namun, apalah daya Zahra, ia hanyalah seorang wanita dan makhluk ciptaan Tuhan yang menjalankan hidup berdasarkan takdir dan ketetapan dari-Nya.


"Aku tidak mungkin mengajakmu ke rumahku saat kamu sendiri selalu menghindari orang tuaku," ucap Zahra pelan namun masih bisa didengar oleh Alex.

__ADS_1


Jika boleh memilih, Zahra juga tidak ingin berada di posisi ini, ia juga tidak ingin menjadi perawan tua seperti yang dihinakan orang-orang kepadanya, tapi apalah daya Zahra sebagai manusia biasa, karena ia tidak bisa bertindak seperti keinginannya.


Rasanya usaha Zahra sudah sangat lebih dari cukup, merayu Tuhan di sepertiga malam sembari menangis dan merintih hingga tetesan air mata membasahi sajadahnya. Zahra juga berusaha untuk tidak membatasi pergaulannya, ia berkenalan dan tidak pernah menolak jika ada lelaki yang diperkenalkan kepadanya, tapi apalah dayanya karena perkara rezeki, maut dan jodoh menjadi rahasia Allah. Tidak ada yang mengetahui kapan datangnya dan tidak ada yang bisa menjamin jika jodoh lebih dahulu datang menghampirinya. Andai saja maut yang duluan menjemputnya, maka Zahra tidak bisa berbuat apa-apa karena hidupnya bukan dirinya sendiri yang mengendalikannya.


"Zahra, Ara, kenapa melamun, Dek?" ucap Alex yang menyadarkan Zahra dari lamunannya.


"Tenang saja, Mas, aku akan berusaha keras mencari uang untuk mengembalikan mahar yang telah diberikan. Aku juga akan mencari uang lebih untuk hidup mandiri tanpa bayang-bayang orang tuaku," ucap Zahra dengan nada suara lemah tanpa keyakinan dengan wajah yang tertunduk.


"Ara, jika itu keputusanmu maka berusahalah, bertanggung jawablah dengan apa yang kamu ambil!"


Alex membalikkan badannya, ia berjalan menuju sofa yang ada di samping ranjang Zahra. Ia duduk sembari menghela nafas panjang dengan tatapan kosong, menatap ke arah cermin kaca dengan wajah lesu yang penuh dengan sejuta pikiran.


"Mas, apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Apakah kamu tega melihatku menderita seperti ini? Apakah kamu bahagia melihatku menikah dengan lelaki lain?"


"Mas, kenapa kamu diam? Apakah kamu senang melihat aku menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai?"


Dengan nada suara tinggi dan mata melotot, Zahra menatap dan menantang Alex. Namun, lelaki itu tidak berani menatap mata Zahra, ia memalingkan pandangannya seolah tidak ingin menjawab pertanyaan gadis itu.


"Zahra, sebagai seorang kakak tentu saja Mas akan merasa sangat senang dan bahagia jika adik yang sangat Mas sayangi menikah dengan lelaki yang sangat baik ilmu agamanya."


"Oke, Mas, jika itu yang membuat Mas bahagia maka aku akan menikah dengan lelaki itu, sekarang Mas silahkan pergi dari sini karena aku ingin istirahat!"

__ADS_1


Zahra mengangkat tangan kanannya, kemudian menunjuk ke arah pintu, meminta Alex untuk pergi dari kamar inapnya karena ia tidak ingin melihatnya disini.


Entah mengapa, Zahra merasa tidak suka jika Alex menyuruhnya menikah dengan orang lain, apalagi ia mengatakan kalau ia bahagia dengan apa yang tengah Zahra alami tanpa rasa empati sedikitpun kepadanya.


"Ara, kamu benar-benar tidak dewasa, sikapmu seperti anak TK!" ucap Alex sembari membalikkan badannya dari Zahra.


Dengan langkah pelan, Zahra melihat Alex melangkah meninggalkannya dengan wajah yang terlihat datar dan tanpa ekspresi sedikitpun hingga membuat Zahra semakin kesal kepadanya.


Bagaimana mungkin seorang lelaki tidak memahami perasaan wanita, ia pergi meninggalkan kamar Zahra tanpa menoleh sedikitpun kepadanya, padahal Zahra tidak benar-benar ingin ditinggalkan oleh Alex.


Zahra tidak suka sendirian dan ia tidak ingin sendirian, ia butuh orang lain untuk menemaninya, ia butuh seseorang yang menjaga dan mendengarkan keluh kesahnya, tapi sebagai seorang wanita tentu saja Zahra menjaga gengsinya, karena apa yang diucapkan oleh wanita memiliki banyak arti. Ya, jika Zahra mengusir Alex maka itu artinya ia ingin lelaki itu tetap tinggal disini bersamanya untuk menemani dan menjaganya.


"Alex, kamu mau kemana? cepat kembali!" ucap Zahra dengan nada suara tinggi dan lantang.


Seolah tidak mendengarkan, Alex terus berjalan meninggalkan Zahra, bahkan ia mempercepat langkah kakinya seolah orang yang Zahra panggil bukan dirinya.


"ALEX, BRENGSEK, jangan tinggalkan aku!"


Emosi Zahri memuncak, ia marah dan rasanya ingin sekali wanita itu mengejar Alex saat ini, bukan untuk menahannya lagi tetapi untuk menjitak kepalanya karena telah mengabaikan Zahra.


"Dasar lelaki yang nggak punya rasa iba, jahat banget sih!"

__ADS_1


Dengan nada suara bergetar, dada yang terasa sempit seperti gunung yang akan memuntahkan larvanya, akhirnya air mata jatuh dan mengalir membasahi pipi Zahra, ia akhirnya meraung sejadi-jadinya. Ya, air mata itu tidak hanya karena ditinggalkan Alex tapi sudah bercampur dengan sejuta amarah dan kesedihan yang telah memuncak dan sudah lama tertahankan di dadanya.


__ADS_2