Tiba-Tiba Khitbah

Tiba-Tiba Khitbah
Menyalahkan Takdir


__ADS_3

Kesabaran Zahra yang setipis tisu itu kini mulai habis, bahkan saat ini ia sudah ditahap tidak sanggup lagi menanggung semuanya. Ia marah dan kecewa kepada takdir hidup yang Tuhan berikan kepadanya, hingga ia berteriak sangat keras menyalahkan Tuha atas takdir dan jalan hidup yang Tuhan berikan kepadanya.


Zahra benar-benar tidak lagi bisa berpikir jernih dan menerima semua yang terjadi kepadanya, rasanya beban itu benar-benar sangat berat dan diri gadis itu juga sudah tidak sanggup lagi memikulnya.


'Jika memang Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kenapa Tuhan tidak mendengar semua doa-doa yang kupanjatkan pada-Nya, apakah aku memang tidak pantas merasakan kebahagiaan untuk diriku sendiri.' Begitulah suara batin Zahra bergejolak, dimana ia sudah berada pada titik muak dengan semua keadaan yang menyudutkan dan membuat hatinya tertekan.


Zahra juga merasa tidak menemukan jawaban dari semua pertanyaannya. Hingga kini, Zahra mulai berpikir kalau tidak seharusnya ia hijrah dan berubah menjadi manusia yang lebih baik, karena hidupnya sebelum hijrah sangat sempurna, dimana ia mendapatkan semua hal yang ia inginkan tanpa perlu menjalankan perintah dari-Nya. Sungguh, kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan keadaannya saat ini, yang penuh dengan ujian, tantangan dan rintangan berat.


"Apakah aku tidak usah merubah diri menjadi baik?"


Ya, Zahra mulai merasa percuma dengan perubahan dirinya, bahkan Tuhan tidak mendengar dan menjawab doanya, dan yang tersisa di diri gadis itu hanyalah kesedihan dan kesakitan yang terus menerus. Hingga terpikir olehku


Zahra untuk kembali menjadi dirinya yang dulu, Zahra yang tidak mengenakan hijab dan mudah saja meninggalkan salatnya.


'Jangan mengaku beriman, jika belum diuji!'


Tiba-tiba saja suara hati Zahra menggetarkannya, karena ia sering sekali mendengar kalimat yang merupakan terjemahan Al-Qur'an itu sering dibacakan oleh para ustadz-ustadz pada ceramah yang ia dengarkan.


Ya, bagaimana mungkin Zahra mengaku beriman jika Allah tidak mengujinya. Bagaimana mungkin Zahra merasa kalau dirinya adalah salah satunya makhluk Tuhan yang paling menderita sementara ia mengaku telah beriman. Zahra sungguh lupa dengan semua nikmat yang Tuhan berikan kepadanya, nikmat hidup dan nikmat sehat dengan kesempurnaan yang ia miliki. Bahkan banyak orang yang ingin menjadi seperti Zahra, banyak yang hidup dengan keadaan seperti Zahra.


Ya, Zahra tidak sadar, jika seandainya salah satu nikmat Tuhan itu diambil darinya, misalnya saja nikmat udara. Jika Tuhan tidak mengizinkannya untuk menghirup udara lagi, mungkin saja saat ini Zahra sudah tidak lagi hidup di dunia ini.


Kini, sebagian hati Zahra menyalahkan takdir yang Tuhan berikan, dan sebagian lagi hati kecil Zahra itu disadarkan oleh secercah hidayah yang ia abaikan padahal hati kecilnya sudah mengatakannya. Sungguh, dimana kesombongan jiwa itu membuat ia buta dan tuli hingga tidak bisa menerima kebaikan yang didatangkan dari sana..

__ADS_1


Tok ..., tok ..., tok ....


"Zahra, kamu sudah tidur, Nak? Abi masuk ya!"


Suara abi Abdullah terdengar di balik kamarku, hingga dengan bersegera Zahra menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya. Sungguh, ia tidak ingin ayahnya itu melihatnya menangis karena hal itu akan melukai hati dan perasaan beliau.


Zahra juga langsung bergegas berbaring di ranjang sembari menutup wajahnya dengan selimut karena ia terlalu malu untuk bertemu dengan sang ayah yang selama ini tidak pernah ia kecewakan.


"Zahra, Abi masuk ya, Nak!"


Terdengar oleh Zahra suara langkah kaki sang ayah yang pelan dan tenang. Ya, abi Abdullah memang seorang lelaki yang berwibawa dengan pembawaan yang sangat tenang, bahkan ketenangan yang beliau pancarkan membuat orang-orang disekitarnya juga merasakan kedamaian dan ketentraman yang beliau pancarkan..


"Zahra, Abi tahu kamu belum tidur, Nak. Abi sangat ingin sekali berbagi cerita dengan Zahra karena kita sudah lama tidak melakukannya, Nak."


Ya, Zahra merasakan gerak-gerik sang ayah, dimana beliau duduk di samping sang putri sembari mencoba mengangkat selimut yang menutupi wajah beliau.


"Zahra, Abi ingin bicara, Nak. Apakah Abi boleh mengobrol sebentar denganmu, Nak?"


Kata-kata abi Abdullah meluluhkan hati dan perasaan sang putri. Ya, bagaimanapun juga Zahra tidak mungkin menolak keinginan sang ayah, apalagi abi Abdullah tidak marah atau membentak putri kesayangannya itu. Beliau hanya ingin berbicara dari hati ke hati seorang ayah kepada putrinya.


Perlahan Zahra buka matanya, ia hadapkan wajahnya kepasa sang ayah dengan posisi duduk yang berhadapan dengan sang ayah. Ya, Zahra menatap abi Abdullah dengan rasa malu yang menyelimuti hati dan perasaannya.


Namun, ada keraguan dan kebimbangan di hati Zahra, tidak tahu akan memulai dan menjelaskan dari mana tentang masalah hidup yang dihadapinya. Hingga beberapa kali Zahra berbaring dan duduk lagi.

__ADS_1


"Nak, dengarkan Abi!" ucap abi Abdullah lembut, hingga luluhlah hati sang putri kesayangan.


Zahra bangkit dari pembaringannya lagi, kemudian duduk berhadapan dengan abi Abdullah, karena Zahra sangat menghargai ayahnya itu.


Sejujurnya Zahra tidak sanggup untuk menatap wajah ayahnya itu, hingga yang ia lakukan hanya menunduk. Betapa ia merasa sangat bersalah dan berdosa atas sikap dan kelakuannya yang memang melewati batas kepada orang tuanya.


"Zahra, ada apa? Kenapa berantem dengan Ummi, Nak?"


Abi Abdullah juga mungkin penasaran tentang masalah sang putri dan istri kesayangannya, padahal selama ini keluarga mereka ergolong rukun, bahkan aku adalah anak yang hampir dikatakan tidak pernah melawan kepada orang tua.


"Zahra hanya sedang tidak mood, Bi."


Jawaban tidak jujur yang keluar dari lisan Zahra membuat abi Abdullah diam dan tidak memaksa sang putri untuk berkata jujur.


"Zahra, tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya dan tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya. Jika Zahra memiliki beban berat yang terasa menyesakkan dada, maka ceritakanlah semuanya sama Abi, karena Abi akan menjadi pendengar yang baik untukmu, Abi mungkin juga bisa memberikan solusi untuk menyelesaikan masalahmu, Nak."


Abi Abdullah benar-benar membuatku merasa kalau Zahra masih punya orang tua yang tidak meninggalkannya saat keadaannya sedang tidak baik-baik saja.


"Bi, apa benar Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang?"


Pertanyaan klise yang ingin kudapatkan jawabannya dari lisan abi karena ia ingin sebuah kepastian atas apa yang sebelumnya Zahra yakini.


"Sayang, apakah semua nikmat hidup yang selama ini kamu terima tidak cukup membuktikan kalau Allah itu adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang," jawab abi Abdullah dengan keyakinan penuh.

__ADS_1


"Jadi mengapa Tuhan tidak mendengar doa Ara? Apakah Ara tidak pantas mendapatkan sesuatu yang Ara inginkan?"


__ADS_2