
"Baiklah, Nona, kalau begitu saya permisi."
Sang perawat bergegas keluar dari kamar Zahra dengan wajah yang terlihat ingin mengadu kepada ibunya. Namun, aku tidak memikirkan apapun karena yang terpenting sekarang ia barus bersiap ke kantor sebelum jam dinas dimulai.
Ya, jam di dinding telah menunjukkan pukul tujuh pagi, waktu dimana Zahra harus segera berangkat ke kantor karena jarak rumahnya dengan kantor adalah sekitar dua puluh lima menit.
Dengan langkah kaki pelan dan mengucapkan bismillah, Zahra keluar dari kamarnya setelah menyantap sarapan dan meminum obat yang disediakan oleh perawat untuknya, beharap ia bisa memiliki energi dan tenaga yang luar biasa untuk menghadapi hari ini.
"Zahra, kamu mau kemana?"
Ucapan keras dan lantang itu membuat Zahra menghentikan langkahnya.
Zahra membalikkan badannya, dengan senyum bersemangat gadis cantik itu tatap wajah ibunya, berusaha untuk tetap tenang agar tidak terjadi kegaduhan pagi ini, karena ayahnya tidak akan bisa menenangkan anak dan istrinya jika terjadi pertengkaran besar antara Zahra dan ummi, sebab abi pasti telah berangkat ke kantor.
"Ummi," sapa Zahra lembut dengan senyum tipis yang terlihat manis.
"Kamu mau kemana?"
Seperti seorang tahanan yang tengah terkurung di dalam penjara, ummi Fatimah seolah tidak mengizinkan Zahra melangkahkan kakiku dari rumah mereka.
Sikap ummi Fatimah memang jauh berbeda sekarang, hingga Zahra memilih untuk membalikkan badannya kembali, melangkah menuju garasi rumah untuk mengambil motor kesayangannya.
"Zahra, apakah kamu benar-benar akan kabur dan meninggalkan rumah ini?" teriak ummi Fatimah lantang dan semakin keras, penuh dengan emosi.
Darah Zahra mulai mendidih, diri sang gadis semakin terbakar hingga rasanya ingin meledak, tapi ia memilih untuk tetap tenang agar tidak mengeluarkan kata-kata mutiara yang akan menyakiti hati dan perasaan ibunya.
"Zahra, kamu tidak boleh kemana-mana!"
Ummi Fatimah terus berteriak dan melarang sang putri untuk pergi dari rumah, padahal niat sang putri sekarang hanyalah ingin ke kantor bukan untuk kabur dari rumah mereka.
__ADS_1
Baju dinas yang ku kenakan tidak membuat ummi Fatimah percaya kalau ia akan berangkat ke kantor untuk bekerja.
"Zahra, apakah kamu tidak mendengar apa yang Mama katakan?" teriak ummi Fatimah yang kini tidak Zahra hiraukan.
Zahra menaiki sepeda motor kesayangannya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi agar ia tidak lagi mendengarkan suara celotehan ibunya.
Zahra juga sangat tahu kalau sikapnya saat ini adalah perbuatan durhaka karena tidak menurut kepada orang tua, tapi gadis cantik itu benar-benar tidak ingin di rumah karena bawaannya emosi saja, apalagi si lelaki yang bernama ustadz Fahri itu pasti akan datang lagi ke rumah mereka jika sang ibu masih mendengar Zahra sakit dan terbaring lemah di tempat tidur.
"Sebenarnya apa sih yang Ummi pikirkan? Kenapa Ummi tega memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mempedulikan bagaimana hati dan perasaanku?"
Di atas motor Zahra mengomel, mengungkapkan unek-unek dan isi hati Zahra, agar perasaan ini terasa sedikit lebih lega. Bahkan Zahra berkali-kali mengulang kata-kata yang sama hingga tidak terasa sampailah ia di kantor.
Zahra parkirkan motornya, kemudian berjalan pelan menuju ruang kerjanya. Walaupun tubuh itu terasa lemah, dengan tenaga-tenaga yang tersisa, gadis cantik itu berusaha untuk memberikan senyuman terbaiknya untuk rekan-rekan sekantornya, karena ia tidak ingin menampakkan masalah dan kesedihannya kepada orang lain.
"Selamat pagi, Princess Zahra," sapa Amanda sembari merangkul pundak sang sahabat.
"Pagi Amanda," jawab Zahra bersemangat sembari tersenyum kepada sahabat yang kini berada di sampingnya. Ya, senyum manis yang memang memancarkan kebahagiaan untuk seseorang yang memandangnya.
Zahra menggeleng dengan senyum tipis karena untuk sekarang aku sedang tidak ingin menceritakan apapun kepada Amanda.
"Serius tidak apa-apa, Zahra?" tanya Amanda sekali lagi.
"Iya, Manda, mana pernah sih aku berbohong sama kamu," jawab Zahra untuk mengakhiri pertanyaan Amanda.
"Oh iya, sampai lupa, kamu dipanggil Pak Subroto ke ruangannya sekarang!" ujar Amanda dengan wajah yang tiba-tiba berubah, bahkan senyum yang awalnya mengembang dari bibirnya langsung menciut seolah ada masalah besar yang akan terjadi.
Ada rasa tidak karuan di diri Zahra karena tidak biasanya atasan memanggilnya di pagi hari, padahal rasanya semua pekerjaan telah ia kerjakan dengan baik malam tadi.
"Manda, a-da a-pa ya?" tanya Zahra terbata-bata sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, kamu kesana saja sekarang agar mendapatkan jawabannya."
Amanda menarik tangan Zahra ke depan pintu ruang kerja pak Broto, kemudian mendorong pelan tubuhnya agar tidak ragu memasuki ruangan atasannya itu.
"Zahra, kamu sudah datang? Mari masuk?" sapa pak Broto ramah dengan senyum tipis yang terlihat bersemangat pagi ini.
Sementara Zahra masih dalam keadaan kaget, hingga lupa mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, selamat pagi, Pak," ucap Zahra pelan sembari memberikan senyum balasan kepada atasannya itu.
Ya, lelaki separuh baya yang seusia dengan ayahnya itu memang sangat baik kepada Zahra, beliau juga banyak membantu dan memberikan pelajaran berharga bagi di dunia pekerjaan, hingga ia merasa bersyukur pernah menjadi bawahannya.
"Waalaikumsalam, Zahra, silahkan duduk!"
Pak Subroto mempersilahkan duduk di kursi tamu miliknya. Sofa empuk yang memang terasa sangat nyaman sekali.
Selang beberapa menit kemudian, sekretaris pribadi pak Broto mengantarkan minuman dan kue kering untuk mereka nikmati.
"Silahkan diminum dulu, Zahra," ucap pak Broto ramah.
"Terima kasih banyak, Pak."
Zahra mengambil gelas minum miliknya sembari menghirup aroma teh hijau panas yang terasa menyegarkan pikiran sang gadis. Rasanya aroma itu memberikan energi positif dan kebaikan kepada si gadis cantik, hingga mood ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sungguh, Tuhan itu benar-benar sangat adil, Maha Kuasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hingga Tuhan mengirimkan orang-orang baik untuk mencabut sedikit gundah di dalam hati Zahra. Ya, walaupun takdir yang Zahra jalani sekarang membuat ia terombang ambing dan hilang arah, tapi bisa jadi sesuatu yang tidak disukai itu baik untuk Zahra dan bisa jadi juga sesuatu yang ia sukai tidak baik untuknya.
"Zahra, apakah saya boleh bertanya perihal urusan pribadi kepadamu?"
Kata-kata pembuka yang pak Broto lontarkan disaat tangan sang gadis cantik yang tidak lain karyawan kepercayaannya itu mulai meletakkan cangkir di atas meja.
__ADS_1
"Boleh, Pak," balas Zahra singkat dengan otak yang mulai memikirkan banyak hal.
"Maaf sebelumnya, Zahra, apakah saat ini Zahra sudah punya calon?"