
...~Happy Reading~...
Karena terus di paksa, akhirnya Faiz mengiyakan tawaran Austin untuk di antar kan pulang. Dengan terpaksa, namun juga kelegaan karena bisa pulang tanpa mengeluarkan uang untuk ongkos taxi. Kini motor Austin sudah sampai di halaman rumah om Leon.
“Ini rumah kamu?” tanya Austin sambil menelisik halaman rumah yang cukup besar dengan dinding yang menjulang tinggi serta di lengkapi beberapa pengawal di sana.
“Bukan, ini rumah temen mama ku. Aku masih menunggu apartemen ku selesai renov. Jadi sementara waktu aku akan tinggal disini,” jawab Faiz seraya melepaskan helm nya.
“Memangnya, kamu kuliah dimana?” tanya Austin lagi.
“Sapienza,” jawab Faiz dengan menghela nafas nya sedikit kasar, “Sudahlah, kamu terlalu banyak tanya seperti polisi. Lebih baik sekarang kamu pulang, and thanks you karena sudah mengantarkan ku pulang, juga make my clothes dirty,” imbuh Faiz sedikit mendengus, hingga membuat laki- laki itu langsung terkekeh.
__ADS_1
“Kalau tadi aku tidak sengaja mengotori pakaian mu, maka kamu akan rugi melewatkan waktu untuk berkenalan dengan pria tampan seperti ku,” ucap Austin masih saja bersikap percaya diri. “Oh iya, harusnya kau menanyakan juga dimana sekolah ku. Atau mungkin rumah ku, atau—“
“Tidak perlu!” potong Faiz dengan cepat, “Aku tidak mau tahu itu semua. Karena kita tidka akan bertemu lagi. Sekarang pergi ya, hus hus hus,” usir nya dengan sehalus mungkin, namun laki- laki itu nampak nya tidak menyerah dan selalu ingin menggoda gadis yang baru ia kenal nya.
“Apakah kau yakin, bahwa kita tidak akan bertemu lagi?” tanya Austin dengan senyum smirk di wajah nya, “Besok pagi aku akan menjemput mu kembali disini.”
“Jangan macem- macem! Aku besok libur, tidak akan ada kelas, jadi lebih baik kamu sekolah yang bener, biar bisa lulus!” seru Faiz frustasi menghadapi lelaki berondong di depan nya.
“Justru karena aku anak baik dan pintar, makanya semua guru di sana begitu menyayangi ku,” ucap nya begitu sombong dan percaya diri.
“Siapa kamu?” tanya nya, langsung menatap tajam pada Austin.
__ADS_1
Bukan hanya menatap, namun laki- laki itu kini langsung merengkuh pundak Faiz dan memeluk nya dari samping dengan begitu posesif.
“Lepasin aku, kak!” bisik Faiz berusaha melepaskan pelukan Edward. Namun laki laki itu malah semakin mengeratkan pelukan nya, sambil matanya terus menatap tajam pada sosok Austin.
“Fai, apakah dia kakak kamu?” tanya Austin tanpa rasa takut.
“Faiz woy, nama gue Faiz!” seru Faiz begitu kesal karena Austin begitu mudah mengganti nama nya. Bukan apa, nama Fay itu lebih sering di kenal nama Fayya. Dan bila Austin memanggil nya dengan sebutan seperti itu, maka akan mudah membuat orang salah paham nanti nya.
"Fai, not bad. Itu nama spesial dari ku,” kata Austin dengan tersenyum dan menaik turun kan alis nya.
“Oh my god! Pulang gak lo, pulang sana!” usir Faiz sudah mulai hilang kesabaran, bahkan kini ia menendang nendang udara ke arah Austin.
__ADS_1
Sementara itu, Edward yang merasa di abaikan oleh dua manusia yang masih memasuki masa remaja itu merasa geram dan kesal. Tanpa berpikir panjang dan berkata kata, Edward langsung mengangkat tubuh Faiz dan menggendong nya ala karung beras, yakni di pundak nya bukan ala brydal.
Tentu saja, hal itu membuat Faiz langsung berteriak dan meronta ingin di turunkan. Namun, Edward sama sekali tidak perduli, ia hanya fokus dengan jalan di depan nya agar tidak kesandung.