Touch Me, Mr. Cassanova

Touch Me, Mr. Cassanova
Rumah sakit


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Papa!"


"Mama!"


Pekik Edward dan Calvin bersamaan. Peluru Elsa berhasil menembus bahu papa Bastian. Namun, pulpen yang sejak tadi hendak di gunakan Edward untuk tanda tangan, berhasil mendarat dengan sempurna, tepat di jantung Elsa.


Edward yang melihat tubuh papa Bastian hendak terhuyung, dengan cepat, ia berlari menghampiri papa Bastian. Ia langsung menghempaskan tubuh Elsa yang tengah tersenyum puas, walau nyawanya sedang di ambang kematian.


Bruk!


Tubuh Elsa langsung terjatuh ke lantai, namun matanya masih terbuka dan masih sedikit sadar.


"Mama hiks hiks hiks." Calvin langsung menangis memeluk mama nya. Tangan nya bergetar dengan begitu hebat ketika melihat dada sang mama sudah berlumur dengan darah segar.


Tak hanya bagian dada, namun sang mama juga sampai memuntahkan darah, hingga membuat Calvin semakin merasa takut.


Elsa sudah tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun, ia justru semakin terbatuk darah hingga pada akhirnya beberapa detik kemudian ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Pah!" kata Edward begitu khawatir.


"Wanita itu harus segera di bawa ke rumah sakit," ujar papa Bastian yang masih memikirkan kondisi Elsa.


"Lebih baik kita yang ke rumah sakit Pa." kata Edward enggan.


Papa Bastian langsung menggelengkan kepala nya, "Cepat bawa dia ke rumah sakit. Biar Papa yang bawa Calvin." imbuh nya seraya memegang bahu nya yang sobek akibat tembakan Elsa.


Mau tak mau, akhirnya Edward mengangkat tubuh Elsa dan membawa nya ke rumah sakit. Sementara Calvin terus menangis dengan di gandeng oleh papa Bastian.


Setelah beberapa saat, kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Edward langsung memanggil suster agar mengurus Elsa. Sementara dirinya segera membantu papa Bastian untuk masuk ke dalam dengan menggunakan kursi roda.


"Pah, maafin Edward," gumam Edward lirih ketika melihat papa mertuanya memasuki ruang UGD.


Ruang penanganan untuk Bastian dan Elsa terpisah, karena Edward begitu enggan untuk melihat atau mengetahui keadaan Elsa. Justru ia berharap bahwa wanita itu bisa mati.


Hampir satu jam papa Bastian di tangani, namun belum ada tanda tanda dokter keluar dan memberitahu keadaan nya. Hingga tak berapa lama, mama Nisa datang bersama dengan Faiz dan Erish dengan menangis histeris.


"Dimana Papa?" tanya Faiz langsung menghampiri Edward.

__ADS_1


"Sayang, maaf..." hanya itu yang mampu Edward katakan. Ia benar benar merasa sangat bersalah atas apa yang sudah terjadi dengan papa Bastian.


Hanya karena ingin membantu nya, justru nyawa papa mertua nya kini terancam. Bahkan, Edward tidak tahu bagaimana keadaan nya saat ini. Seharusnya, Edward lah yang berada di dalam sana, bukan mertua nya.


"Ba—bagaimana ini semua terjadi? a—apa yang sebenarnya terjadi? kenapa hiks hiks hiks." Mama Nisa sudah tak mampu meneruskan kata kata nya, tubuh nya langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.


Brukkk!


"Ma!" seru ketiganya bersamaan.


Edward segera mengangkat tubuh mama Nisa dan membawa nya ke ruangan lain. Edward juga segera menceritakan semua yang terjadi kepada Faiz agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Namun, Faiz tidak merespon, bahkan kini ia sudah tidak menangis lagi.


Raut wajah nya datar, ia tidak tahu dengan apa yang ia rasakan saat ini. Suaminya menjadi pembunuh, sementara Calvin menjadi anak piatu. Dan kini, papa nya masih belum jelas keadaan nya.


...~To be continue... ...


...Spil pulpen yang di pake Edward...


__ADS_1


__ADS_2