
...~Happy Reading~...
Pagi harinya, masih seperti biasa. Hal pertama yang Faiz lihat ketika membuka mata, adalah suaminya yang tertidur meringkuk di sofa karena sofa itu terlalu pendek. Sebenarnya, Faiz tidak tega dan juga sudah sangat merindukan Edward untuk memeluk nya setiap malam. Namun, ia masih begitu kesal dan kecewa dengan keadaan nya.
Sudah terhitung tiga hari sejak kedatangan Elsa dan Calvin di rumah itu, Faiz masih begitu enggan untuk berbicara dengan Edward.
Menghela napas berat, Faiz mulai bangkit dari tempat tidur dan beraktivitas seperti biasa. Sementara Edward, laki laki itu masih tertidur begitu pulas di tempat nya, dan Faiz sama sekali tidka berniat untuk mendekat apalagi membangunkan. Faiz memilih untuk segera turun dan pergi ke meja makan untuk sarapan.
“Lama lama, rumah gue jadi panti sosial!” cetus Faiz seraya mendudukkan dirinya di kursi makan.
“Selamat pagi, tante Faiz,” sapa Calvin begitu ceria pagi ini. Faiz memaklumi nya, karena semalaman Edward menemani Calvin untuk belajar dan mengerjakan PR.
“Hem,” jawab Faiz dengan wajah datar nya.
__ADS_1
“Tante mau sarapan apa? Mau roti juga? Atau mau—“
“Calvin, lebih baik kamu diam saja ya. Jangan membuat ku marah, semakin banyak kamu berbicara akan semakin membuat orang kesal, jadi cukup diam dan lakukan apa yang kamu suka, TERSERAH!” kata Faiz penuh penekanan, dan segera merebut tempat selai yang di tangan Calvin.
“Tidak bisakah kamu berbicara sedikit lembut kepada anak kecil!” seru Elsa begitu marah menatap Faiz.
“Kenapa? Gak terima? Kalau gak terima kamu bisa pergi, pintu nya udah di buka tuh,” ucap Faiz begitu santai seraya memakan sarapan nya.
“Orang numpang itu tahu diri. Numpang kok berhari hari, mending kamu ngekos aja deh, ada gak duit nya? Kalau gak ada nanti aku kasih. Daripada jadi benalu, gak enak kan di julid in istri sah terus?” imbuh Faiz dengan berdecak malas.
Tak bisa di pungkiri, bahwa sebenarnya Faiz tidak tega bersikap se kasar itu kepada Calvin. Tapi, ia juga bingung, setiap kali ia mendengar suara Calvin apalagi melihat wajah nya, maka yang terbayang di benak Faiz adalah proses pembuatan anak tersebut. Faiz selalu terbayang bagaimana suami nya bisa bergumul panas dengan wanita lain. Hingga membuat nya sering merasa sesak hingga sulit bernafas.
“Kamu benar benar keterlaluan!” pekik Elsa semakin marah ketika melihat putra nya harus meminta maaf.
__ADS_1
“Sudah ku katakan, kalau tidak suka, maka pergilah,” kata Faiz begitu santai, walau sebenarnya hatinya sangat bergemuruh.
“Huh, percuma bicara sama orang yang tidak punya otak dan malu.” Imbuh Faiz berdecak, ia segera meminum susu nya dan bergegas pergi ke kampus.
Sebenarnya, jadwal kuliah nya masih jam sembilan nanti, dan kini jam baru menunjuk angka setengah tujuh, tapi Faiz sudah berangkat pergi. Ia begitu malas dan sesak berada di rumah terlalu lama.
Dan sesampainya ia di mobil, Faiz langsung memeluk setir mobil nya dengan begitu erat. Hatinya masih saja begitu sakit, mau sebagaimana pun ia berusaha untuk menerima namun tidak bisa. Ada rasa kasihan dalam hatinya untuk Calvin, namun juga ada rasa kebencian yang mendalam di hatinya.
“Hiks hiks hiks Mama hiks hiks.”
Faiz terisak di dalam mobil beberapa saat. Hingga ketika ia melihat Calvin dan Elsa sudah keluar rumah hendak berangkat ke sekolah, Faiz segera menghapus air mata nya dan bergegas pergi.
Kemana tujuan nya? Hanya rumah Kaila yang menjadi arah tujuan nya saat ini. Karena ia belum berani untuk bercerita kepada orang tuanya. Ia masih menunggu bukti yang di janjikan oleh Edward. Iya, kini dirinya hanya bisa bersabar dan bersabar sampai hari itu tiba.
__ADS_1
...~To be continue ......