
...Warning!!!! Usia di bawah umur mohon di skip. Karena akan bisa membuat otak anda traveling jauh ke antartika. Bacaan ini bukan untuk anak tuyul, hanya untuk 18+++ dan untuk para emak- emak tentunya. Dah ya, udah di warning loh! Ngeyel, dosa tanggung sendiri....
...~Happy Reading~...
“Kakak sakittt!” pekik Faiz langsung mencengkram bahu Edward dengan begitu kuat ketika merasakan ada sesuatu yang hendak menerobos masuk ke dalam pintu selatan nya.
“Ssstt tahan Sayang. Kakak janji, akan perlahan,” bisik Edward dengan begitu lembut, lalu ia kembai membungkam bibir Faiz dengan sebuah ciuman agar bisa mengalihkan rasa sakit yang di rasakan oleh nya.
Dan dengan satu kali hentakkan, kini Edward sudah berhasil membobol pintu selatan yang selama ini di segel rapat oleh keadaan.
“Aaaarrrkkhhh!” pekik Faiz langsung melepaskan pagutan bibir Edward ketika merasakan sakit yang begitu luar biasa. Ia merasa seperti tubuh nya terbelah menjadi dua, hingga membuat air matanya langsung mengalir deras tanpa permisi terlebih dulu.
“Sakit hiks hiks hiks. Kakak, sakit hiks hiks,” ringis Faiz begitu takut dan kesakitan.
“Maafin kakak,” kata Edward dengan lembut, ia mengusap wajah Faiz dengan perlahan, lalu memberikan nya kecupan di setiap sudut wajah nya dengan penh kasih sayang. Tak hanya itu, Edward juga memberikan alihan rasa sakit dengan mengajak nya bermain di area perbukitan dan jurang jenjang di bawah dagu Faiz.
__ADS_1
Hingga setelah beberapa saat, kini wajah Faiz sudah tidak setegang tadi. Edward pun mulai bergerak perlahan.
Emmtt
Shhhttt
Suara demi suara, saling bersautan di dalam kamar sore itu. Rasa nikmat yang selama ini hanya bisa di rasakan dan di lakukan oleh sebuah tangan. Kini akhirnya sudah bisa di rasakan oleh sang pemeran utama.
Sudah tidak ada lagi suara rintihan menahan tangis, kini sudah terganti dengan suara nyanyian yang begitu merdu dari sepasang sejoli duet kali ini. Dan tidak akan ada lagi yang akan bersolo karir mulai hari ini.
“Terimakasih, Sayang.” ucap Edward begitu lembut, lalu mengecup Faiz dari kening, mata, hitung hingga berakhir pada bibir tipis istrinya.
“Jangan pergi lagi,” gumam Faiz dengan suara serak, lalu ia pun segera memeluk Edward dengan penuh haru dan air mata.
“Maaf,” ujar Edward merasa bersalah.
__ADS_1
“Sekarang Faiz udah gak perawan lagi. Kakak gak boleh ninggalin Faiz. Gak mau pokoknya, Faiz udah kasih semua buat kakak, jadi gak boleh emmttt—“
Tiba tiba ucapan Faiz langsung terhenti, ketika lagi lagi bibir nya sudah di bungkam mesra oleh Edward. Ia begitu gemas karena istri nya terlalu cerewet membicarakan hal yang tidak penting. Apakah dirinya bodoh bila akan meninggalkan Faiz? Tentu saja hal itu tidak akan pernah ia lakukan, bahkan saat nanti dia mati pun, ia akan selalu berada di dekat istrinya.
“Sampai kapan pun, kakak tidak akan pernah ninggalin kamu. Sekarang, besok, lusa, dan selamanya. Kita akan bersama, dan kita akan bahagia. Semoga Edward dan Faiz junior akan segera hadir nanti disini,” ucap Edward seraya mengusap perut rata Faiz, hingga membuat gadis yang baru saja berganti status menjadi wanita itu langsung merasa geli.
“Kakak ihhh!” seru Faiz langsung menyingkirkan tangan Edward karena merasa geli dan risi.
“Kenapa? Apa kamu tidak mau segera hamil, hem?” tanya Edward mengerutkan dahi nya, menatap faiz dengan cukup intens.
“Bukan gak mau, tapi geli, kakak gituin perut Faiz tuh!” ucap nya dengan cemberut kesal.
“Masa sih di perut begini geli, kalau disini gak geli kan?” tanya Edward menggoda seraya menurunkan tangan nya yang dari perut ke bawah, hingga membuat Faiz langsung memekik dan membulatkan matanya tajam ke arah Edward.
“Kakakkkkk!” pekik Faiz kesal, dan membuat Edward terkekeh, laki laki itu pun akhirnya kembali memeluk istrinya dengan begitu erat dan memberikan nya kecupan di seluruh wajah dan kepala.
__ADS_1
...~To be continue ......
...Udah woy, udah. Bubar bubar, jangan terlalu berekspektasi tinggi. Wkwkwkkwkw...