Touch Me, Mr. Cassanova

Touch Me, Mr. Cassanova
Trauma Calvin


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Faiz pun segera beringsut dan kini duduk tepat di depan Calvin. Ia menggenggam jemari tangan Calvin dengan begitu lembut. Wajah nya mengadah, dan matanya menatap mata Calvin dengan begitu dalam.


“Tante minta maaf, kalau selama ini tante banyak sekali salah sama Calvin. Mungkin Calvin merasa bahwa tante membenci Calvin. Tidak, tante tidak membenci siapapun, hanya saja tante kecewa dengan keadaan. Tante sakit dengan apa yang terjadi, dan melampiaskan nya kepada Calvin. Dan sekarang, tante ingin meminta maaf dengan tulus pada calvin, maukah Calvin memaafkan tante?” tanya Faiz dengan tulus.


“Tapi tante gak salah. Mama yang salah, mama yang jahat, mama yang—“ Seketika itu juga tubuh Calvin langsung bergetar dengan begitu hebat nya. Tangan yang di genggam oleh Faiz pun langsung terasa begitu kaku, bahkan faiz bisa merasakan tangan nya di remas kuat oleh Calvin.


Napas Calvin terlihat begitu sesak, hingga membuat wajah anak itu sampai hampir membiru. Edward dan Faiz pun menjadi sangat panik. Ia segera meminta bantuan, namun di panti itu tidak ada petugas medis, tidak ada perawat atau dokter. Jadilah, dengan cepat Edward membawa Calvin ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Faiz justru malah menangis terisak sambil memeluk Calvin di kursi belakang. Ia semakin merasa bersalah kepada anak itu, dan Faiz tahu bahwa Calvin mengalami trauma yang cukup berat. Calvin bukan marah padanya atau pun pada Edward, melainkan marah dan kecewa kepada ibunya sendiri.


“Tante Widi! Tolongin Tan!” teriak Faiz ketika sampai di rumah sakit, dan tepat saat itu ia melihat dokter Widhi yang baru saja hendak pulang.

__ADS_1


“Dia kenapa?” tanya dokter Widhi terkejut dengan kedatangan Faiz yang membawa seorang anak kecil yang sudah tidak sadarkan diri dan panik.


“Gak tau Tante!” seru Faiz yang masih menangis, dengan cepat Edward menidurkan Calvin di atas brankar lalu mendorong nya ke ruang UGD.


Setelah beberapa saat,dokter pun tiba dna segera menangani Calvin.


“Tante mau kemana?” tanya Faiz ketika melihat dokter Widhi keluar dari ruangan UGD.


“Mau pulang lah, kan pekerjaan tante sudah selesai.” Kata dokter Widhi.


“Calvin sudah di tangani sama dokter, kamu tenang saja ya,” ujar dokter Widhi tersenyum ramah.


“Kenapa harus dokter lain? Kenapa bukan tante Widhi? Kan dari tadi tante yang bantuin bawa ke UGD?” tanya Faiz lagi hingga membuat dokter Widhi menghela napas nya berat, ia masih mencoba untuk bersabar.

__ADS_1


‘Seharusnya tadi aku diem diri dulu di ruangan. Ya Tuhan, anda aku tahu bahwa akan ada titisan keluarga Nolan. Aku pasti akan memilih berdiam diri di dalam ruangan. Gapapa pulang malem juga, dari pada kaya begini,’ gerutu dokter Widhi di dalam hati nya mendengus dan berdecak.


“Faiz, kamu gak lupa kan, pekerjaan tante disini sebagai apa?” tanya dokter Widhi menahan geram.


“Dokter lah. Makanya Faiz nanya, kenapa bukan tante yang menangani Calvin. Kenapa harus di oper ke dokter lain!” kata Faiz masih tetap kekeuh.


“Faiz, Sayang. Anaknya mama Nisa dan bapak Bastian, tante itu dokter kandungan. Tugas tante mengurus dan merawat ibu hamil, ibu melahirkan, jadi gak bisa menangani anak itu!” jelas dokter Widhi penuh penekanan, “Paham Sayang?”


Dan seketika itu juga Faiz baru tersadar bahwa dokter Widhi adalah dokter kandungan, bukan dokter umum.


“Oh iya Faiz lupa,” kata Faiz tanpa rasa bersalah, “Ya sudah tante pulang aja sana. Jangan ganggu Faiz lagi,” katanya lagi, lalu faiz segera menyusul suami nya yang sedang duduk di kursi tunggu.


“Sabar Widhi, sabar. Sudah biasa para anak anak itu membuat mu kesal. Sabar, oke, harus sabar. Lebih baik pulang dan rileks.” Gumam dokter Widhi pelan seraya mengatur napas nya agar tidak terbawa suasana kesal.

__ADS_1


...~To be continune.......


__ADS_2