
...~Happy Reading~...
Keesokan harinya, Edward dan Faiz berniat untuk pulang ke rumah baru nya. Namun, Faiz menolak, lantaran ia ingin pulang ke rumah orang tuanya. Tentu saja Edward tidak setuju, hingga membuat keduanya berdebat karena tidak ada yang mau mengalah.
"Kalau kamu gak mau tinggal berdua, ya sudah kita tinggal di rumah Papa ku!" kata Edward dengan tegas.
"Gak mau! aku mau di rumah Papa ku!" tolak Faiz tak kalah tegas.
"Sayang! kita sudah menikah. Dan aku juga sudah menyiapkan semuanya untuk kamu. Lalu apa kata Papa kamu kalau kamu mau tinggal di sana!" kata Edward menahan geram.
"Bukankah ini impian kita dulu hem? kamu yang paling menginginkan pernikahan ini bukan? lalu kenapa harus rumah orang tua kamu? kamu gak bisa menghargai usaha aku? kita sudah menikah, sudah bukan pacaran lagi!" imbuh Edward namun kini dengan suara yang lebih lembut.
Dan akhirnya, setelah perdebatan panjang lebar, Faiz pun mau di ajak pulang ke rumah barunya. Sebenarnya, bukan Faiz menolak, hanya saja dirinya merasa belum siap untuk tinggal. berdua dengan Edward. Dan juga, jarak rumah antara rumah yang di beli Edward berada cukup jauh dari rumah orang tuanya.
"Atau, kamu mau kita kembali ke Italia?" tanya Edward seketika membuat Faiz langsung menatap nya.
"Memang nya boleh?" tanya Faiz.
__ADS_1
"Entah," jawab Edward langsung mengangkat kedua bahu nya.
Dalam hati Edward pun berkata, bahwa itu tidaklah mungkin. Karena Papa Bastian sudah mengatakan nya terlebih dulu, bahwa dirinya harus menetap di Indonesia.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, karena macet. Kini akhirnya Faiz sudah sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Namun, ketika dirinya hendak memasuki rumah, ponsel nya berbunyi dan menampakkan nama sang ibu di sana.
Drrtt... Drrtt...
"Halo Mas," jawab Faiz menghentikan langkah nya sejenak.
"Kamu gak mampir dulu ke rumah?" tanya sang mama dari ujung telfon sana.
"Ya sudah kalau begitu. Ingat Sayang, kakak gak boleh macem macem, ya Nak. Sekarang kakak sudah punya suami, kakak harus nurut sama apa yang di katakan suami kakak. Jangan egois lagi," kata mama Nisa kembali mengingatkan putri sulung nya.
"Iya Ma, iya. Kakak ngerti kok, kakak akan berusaha jadi istri yang baik." balas Faiz seraya menghela nafas nya berat.
"Besok kamu kesini, kamu bicarakan lagi sama Papa, bagaimana dengan kuliah kamu!"
__ADS_1
"Ma, boleh gak kalau Faiz gak kuliah?" tawar Faiz seraya menggigit bibir bawah nya.
"Gak boleh!" jawab mama Nisa dengan cepat, "Meskipun kamu sudah menikah, sudah punya suami. Kamu tetap anak mama dan papa, dan kami. mau. kamu tetap melanjutkan kuliah kamu!" imbuh mama Nisa dengan penuh penekanan.
"Tapi Ma—"
"Sudah Kak, kamu diskusikan dengan suami kamu. Pasti Edward juga setuju dengan apa yang mama dan papa inginkan. Ya sudah, kamu istirahat, dan ingat pesan mama. Harus nurut sama suami, dan juga kalau mau pergi kemana pun harus dengan izin Edward! kakak mengerti kan?" ucap mama Nisa panjang lebar, ia tak henti menasehati putri sulung nya. Karena ia tau dan cukup sadar diri bahwa putri nya itu sangat ajaib.
"Hemmm," jawab Faiz memanyunkan bibir nya dengan kesal, lalu ia segera memutus sambungan telfon begitu saja.
"Kakak! gendong!" rengek Faiz ketika melihat suami nya yang baru saja keluar dari rumah dan menghampiri nya.
Ya, tadi Edward sempat masuk terlebih dulu sementara Faiz menelfon di halaman rumah. Dan kini, niatnya Edward ingin mengambil sesuatu di dalam mobil, malah Faiz dengan manja nya meminta untuk di gendong.
"Sebentar, kakak mau ambil—"
Brukk!
__ADS_1
Tanpa sabar menunggu Edward menyelesaikan kata kata nya, Faiz langsung melompat ke punggung Edward untuk meminta gendong. Dan mau tak mau, Edward pun hanya bisa menghela nafas nya pasrah.
...~To be continue.... ...