
...~Happy Reading~...
“Berani kamu menyentuh istri ku, maka aku juga tidak akan segan untuk membunuh mu!” balas Edward penuh penekanan.
“Hahaha, kamu pikir aku takut?” kata Elsa dengan tatapan tajam nya seolah siap menerkam Edward.
Saat ini, posisi Edward tengah terikat dengan kaki meja. Hari ini ia memang tidak bekerja lantaran tubuh nya sedang kurang sehat. Ia sibuk mengurus mencari bukti tentang Elsa, karena mengira Clayton dan Davis tidak mau menolong nya. Jadilah ia kelelahan, di tambah setiap malam ia hanya tidur meringkuk di sofa tanpa bantal dan selimut.
Dan kesempatan itu di manfaatkan oleh Elsa. Setelah melihat Faiz pergi, dan ia mengantarkan Calvin ke sekolah. Elsa yang biasanya pergi, ia memilih segera pulang dan mengikat tangan Edward dengan sebuah borgol yang di kaitkan dengan meja rias.
Maka dari itu, Edward tidak bisa melawan, karena selain kepala nya masih begitu pusing. Tenaga nya juga tidak mampu untuk membuka borgol tersebut.
__ADS_1
“Aku hanya butuh tanda tangan kamu, Baby. Tidak perlu berdebat, ayolah,” kata Elsa kembali membujuk Edward,”Aku janji, setelah itu kita bisa hidup bahagia selamanya.” Ujar Elsa lalu ia tertawa membahana.
“Jangan mimpi kamu! Sampai kapan pun istriku hanya Faiz!” seru Edward dengan terus berusaha melepaskan borgol di tangan nya.
“Sayang ku. Jangan seperti itu, atau tangan mu bisa semakin terluka, seperti hati ku saat kamu membela wanita seperti dia,” ucap Elsa dengan memasang wajah sedih nya hingga membuat Edward semakin muak melihat nya.
Setelah lama berdebat dan tidak membuahkan hasil, akhirnya Edward mengalah “Baiklah aku akan tanda tangan, tapi lepaskan dulu tangan ku!” ujar Edward pada akhirnya.
“Ckckc kenapa tidak sejak tadi Sayang,” kata Elsa tersenyum kemenangan, ia pun segera mendekat ke arah Edward dan memberikan sebuah map yang berisi tentang surat perceraian antara Faiz dan Edward. Tidak hanya itu, di dalam map itu juga ada surat pengalihan harta benda atas nama Edward menjadi atas nama Elsa.
“Kamu pikir aku bodoh! Kalau aku melepaskan tangan mu maka kamu akan membunuh ku!” cetus Elsa berdecak dan tersenyum sinis.
__ADS_1
“Ayolah Ed, apa susah nya kamu tanda tangan surat itu. Setelah kamu tanda tangan maka semua akan beres. Aku bisa menjamin itu. Kamu akan mendapatkan keuntungan besar, aku bisa jauh lebih memuaskan mu daripada istri mu itu. Dia tidak bisa melakukan apa apa Bukan? Bahkan untuk melayani mu saja dia tidak bisa. Lantas apa yang akan kamu pertahankan dari rumah tangga kalian?” jelas Elsa panjang lebar dengan nada sinis.
Edward mengepalkan tangan nya dengan kuat, ia sedang menahan gejolak amarah luar biasa agar tidak terpancing. Yang terpenting kini borgol di tangan nya terlepas dulu. Baru saja Edward hendak membujuk Elsa kembali, tiba tiba ia mendengar suara pintu kamar nya yang di dobrak dengan kasar oleh seseorang.
“Papa!” pekik Edward begitu terkejut, begitu pun dengan Elsa yang juga terkejut melihat putra nya bersama dengan orang asing yang di sebut papa oleh Edward.
“Kamu mau membunuh putri ku?” tanya Bastian dengan wajah menahan amarah nya menatap tajam pada Elsa, “Siapa kamu, berani mengusik keluarga ku.”
“Ah jadi dia mertua kamu?” tanya Elsa dengan sinis melirik ke arah Edward, “Calvin, sini Sayang. Jangan terllau dekat, dia orang jahat!”
Untuk sesaat, Calvin terdiam, dan ia mendongakkan kepala nya ke atas. Menatap lekat pada sosok laki laki paruh baya di samping nya. Meskipun Calvin tidak mengenal nya, namun ia merasa bahwa orang tersebut tidak sejahat yang di katakan oleh sang mama. Namun, meski begitu Calvin tetap menurut kepada mama nya untuk mendekati sang mama.
__ADS_1
Baru saja ia melangkahkan kaki, tiba tiba ia merasakan ada seseorang yang menahan pergelangan tangan nya.
...~To be continue......