
...~Happy Reading~...
Setelah beberapa saat menunggu. Kini papa Bastian sudah datang bersama mama Nisa yang membawa sebuah nampan berisi minuman dan cemilan. Hampir satu jam lamanya Faiz menunggu, dan kini ia langsung menatap tajam pada orang tuanya, terlebih ketika melihat rambut sang ayah masih basah. Faiz bukan anak kecil lagi, dan ia cukup tahu dengan apa yang di lakukan orang tuanya.
Katakan bahwa Faiz kurang ajar, tapi memang itu kenyataan nya. Ia begitu kesal kepada papa nya. Bagaimana bisa, papa nya melarang Edward untuk menyentuh nya, sementara papa nya sendiri juga hampir setiap hari menyentuh mama nya.
Faiz sudah tahu perjanjian antara papa Bastian dan Edward. Waktu di Bali, Edward tidak sengaja mengatakan nya. Bukan maksud Edward, ia hanya keceplosan ketika mereka hendak bercocok tanam, dan hampir saja Edward membobol gawang nya, tapi tiba tiba Edward memilih bangun dan pergi begitu saja.
‘Astaga, maaf Sayang. Aku lupa.’ Ucap Edward segera beranjak namun tangan nya langsung di tahan oleh Faiz.
‘Lupa apa? Kakak ayo, sedikit lagi,” rengek Faiz sedikit berdecak.
‘Maaf Sayang, kakak gak bisa. Tunggu sampai beberapa bulan lagi. Kakak janji akan memberikan apa yang kamu inginkan. Ada janji yang gak bisa kakak ingkari. Jadi tolong mengerti.’
__ADS_1
“Janji apa? Janji sama mantan kakak! Iya!” seru Faiz langsung ikut bangun dan menatap suami nya dengan marah.
‘Bukan mantan, kenapa jadi mantan sih?” tanya Edward frustasi.
‘Faiz tahu, sekarang Faiz tahu kenapa kakak gak pernah mau menyentuh Faiz. Karena kakak ada janji dengan perempuan lain kan. Selama ini kakak selalu nabur benih nya ke perempuan lain, kakak gak mau sama Faiz. Iya kan!’ seru Faiz yang sudah menangis terisak.
‘Kakak gak pernah ada janji dengan perempuan mana pun. Tapi papa yang meminta agar kakak tidak menyentuh kamu. Satu tahun!” ucap Edward pada akhirnya mengatakan kejujuran.
“Hah!” Seketika itu juga Faiz langsung terdiam dan mencerna ucapan suaminya.
“Ada apa, Sayang?” tanya papa Bastian langsung duduk di samping putri nya.
“Jangan deket deket kakak! Papa duduk sana!” usir Faiz menunduk seberang tempat duduk nya.
__ADS_1
Untuk sesaat papa Bastian mengerutkan dahi nya, karena tidka mengerti mengapa putri nya tiba tiba berkata se ketus itu padanya.
“Kakak, ada apa sih?” tanya mama Nisa menggelengkan kepala nya menatap sang putri sulung.
“Huaaaaaa Mama tahu gak sih kalau papa itu jahat!” kata Faiz yang langsung menangis seperti anak kecil.
“Papa jahat kenapa?” tanya papa dan mama bersamaan.
Mama Nisa pun langsung duduk di sebelah Faiz dan mencoba memeluk nya untuk menenangkan Faiz.
“Coba cerita sama Mama. Ada apa? Papa kenapa? Kamu juga Darimana ? Beberapa hari gak ada kabar, gak ada main kesini. Tapi sekalinya datang malah nangis terus nyalahin Papa. Memang nya papa kamu kenapa hem?" tanya mama Nisa beruntun tanpa jeda mengusap kepala Faiz.
“Gara gara Papa, kak Edward gak mau nyentuh Faiz Mah!” adu Faiz merengek menatap sayu pada mama nya.
__ADS_1
“Hah, ma—maksud kakak apa? Me—menyentuh ... “ tanya mama Nisa sedikit bingung, sementara papa Bastian kini wajah nya sudah nampak pias dengan tangan yang mengepal kuat.
‘Menantu kurang ajar. Beraninya dia ngadu sama putri ku!’ umpat papa Bastian dalam hati.